bimbingandankonselingdotnet

Beranda » Tak Berkategori » ASESMEN MASALAH KONSELI

ASESMEN MASALAH KONSELI

Artikel Terpopuler

  • Tak ada

kunjungan

  • 93,176 hits

arsip

bimbingan konseling

visitor

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 10 pengikut lainnya

pengunjung

Flag Counter

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
2009

KATA PENGANTAR

Materi dalam modul ini dimaksudkan untuk membelajarkan para peserta diklat PLPG dengan keterampilan asesmen masalah konseli, Asesmen ini merupakan suatu proses mengklasifikasikan masalah klien dan faktor-faktor penyebabnya ke dalam kategori-kategori tertentu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan utuh tentang masalah tersebut dan dalam rangka menyediakan data yang obyektif guna pengambilan keputusan tentang teknik, strategi, atau pendekatan intervensi. Oleh karena itu, proses asesmen pada dasarnya mengandung kegiatan pengumpulan informasi dan diagnosis atau analisis. Dengan kata lain, asesmen merupakan proses untuk mengumpulkan informasi yang akurat guna mengembangkan hipotesis tentang masalah klien dan strategi. Dalam lapangan teori dan praktek konseling, kegiatan mengungkap masalah klien beserta dengan berbagai faktor yang menyebabkannya disebut asesmen masalah (problem assessment). Asesmen dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik atau prosedur dan wawancara merupakan salah satunya. Wawancara yang digunakan untuk mengungkap masalah klien disebuat wawancara asesmen. Jadi, wawancara asesmen merupakan salah satu bagian dalam proses keseluruhan.
Dalam hubungannya dengan proses konseling secara keseluruhan, wawancara asesmen berkaitan dengan (merupakan salah satu prosedur) proses identifikasi masalah, analisis masalah, dan pengembangan pendekatan atau strategi intervensi (konseling). Wawancara asesmen juga memiliki keterkaitan yang erat dengan ketrampilan dasar konseling, sebab untuk dapat melaksanakan proses wawancara asesmen dengan berhasil, setiap konselor perlu telah menguasai ketrampilan-kterampilan dasar konseling yang meliputi ketrampilan merawat atau mengurus klien (attending) , ketrampilan mendengarkan (listening responses), ketrampilan mengarahkan (action responses), dan ketrampilan mengkomunikasikan kondisi fasilitatif atau ketrampilan sikap yang meliputi empati, kesungguhan atau ketulusan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada keunikan klien. Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan dalam proses wawancara asesmen merupakan salah satu bentuk ketrampilan dalam proses asesmen atau identifikasi masalah yang dipengaruhi oleh tingkat penguasaan ketrampilan dasar konseling dan akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses analisis, pengembangan hipotesis, dan perancangan program bantuan.

Untuk dapat mencapai kompetensi yang diharapkan tersebut, para peserta diklat diinstruksikan untuk mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran dengan aktif khususnya melakukan hal-hal berikut:
1. Mengikuti kegiatan belajar tatap muka di kelas.
2. Menanyakan atau meminta penjelasan kepada instruktur jika terdapat istilah, konsep, dan kalimat dalam modul ini yang tidak jelas, atau penjelasan instruktur yang kurang jelas.
3. Mengerjakan seluruh soal latihan yang terdapat dalam modul.
4. Melaksanakan tugas-tugas praktek yang diberikan oleh instruktur dan mempraktekkan semua jenis ketrampilan yang sudah dipelajari.
5. Meminta umpan balik kepada teman/kolega/instruktur berkenaan dengan tingkat ketepatan dalam mempraktekkan keterampilan-keterampilan.

____________________________________

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

I. KONSEP ASESMEN …………………………………………………………………………………2
1.1 Pengertian Asesmen Masalah dalam Proses Konseling ………………………………..2
1.2 Tujuan asesmen dalam Konseling………………………………………………………………3
1.3 Wawancara Sebagai Pendekatan dalam Asesmen…………………………………………4

II. WAWANCARA ASESMEN KOGNITIF PERILAKU………………………………….7
2.1 Batasan dan Konsep …………………………………………………………………………………7
2.2 Asumsi-Asumsi dalam Pendekatan Kognitif-Perilaku…………………………………..7
2.3 Sasaran dalam Wawancara Asesmen kognitif-Perilaku ………………………………10
2.3.1 Riwayat kasus………………………………………………………………………………………10
2.3.2 Sebelas kategori informasi …………………………………………………………………… 11
2.3.2.1 Menjelaskan tujuan asesmen………………………………………………………………. 11
2.3.2.2 Identifikasi cakupan masalah klien……………………………………………………….12
2.3.2.3 Menetapkan prioritas dan memilih isu dan masalah klien………………………..12
2.3.2.4 Identifikasi komponen masalah ………………………………………………………….13
2.3.2.5 Identifikasi anteseden ………………………………………………………………………..16
2.3.2.6 Identifikasi konsekuensi……………………………………………………………………..18
2.3.2.7 Identifikasi payoff ……………………………………………………………………………..20
2.3.2.8 Identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan………………………….21
2.3.2.9 Identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah……………………………21
2.3.2.10 Identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya ……………….21
2.3.2.11 Identifikasi intensitas masalah …………………………………………………………..21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………. 23

TUJUAN
Umum:
Modul ini, dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar pada para calon konselor untuk mengembangkan dirinya dalam bidang praktek konseling, khususnya untuk menerapkan keterampilan-keterampilan dasar konseling dalam proses wawancara asesmen.

Khusus:
Secara khusus, setelah mempelajari buku ini setiap mahasiswa calon konselor diharapkan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan keterampilan wawancara asesmen dalam proses konseling, hubungannya dengan kegiatan identifikasi masalah dan pengembangan strategi intervensi.

DESKRIPSI UMUM
Asesmen ini, merupakan suatu proses mengklasifikasikan masalah klien dan faktor-faktor penyebabnya ke dalam kategori-kategori tertentu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan utuh tentang masalah tersebut dan dalam rangka menyediakan data yang obyektif guna pengambilan keputusan tentang teknik, strategi, atau pendekatan intervensi. Oleh karena itu, proses asesmen pada dasarnya mengandung kegiatan pengumpulan informasi dan diagnosis atau analisis. Dengan kata lain, asesmen merupakan proses untuk mengumpulkan informasi yang akurat guna mengembangkan hipotesis tentang masalah klien dan strategi intervensi atau program perlakuannya.
—000000000OOOO000000000—

I. KONSEP ASESMEN

1.1. Pengertian Asesmen Masalah dalam Proses Konseling
Dalam lapangan teori dan praktek konseling, kegiatan mengungkap masalah klien beserta dengan berbagai faktor yang menyebabkannya disebut asesmen masalah (problem assessment). Asesmen dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik atau prosedur, tes dan nontes, wawancara merupakan salah satunya. Wawancara yang digunakan untuk mengungkap masalah klien disebuat wawancara asesmen. Jadi, wawancara asesmen merupakan salah satu bagian dalam proses keseluruhan.
Dalam hubungannya dengan proses konseling secara keseluruhan, wawancara asesmen berkaitan dengan (merupakan salah satu prosedur) proses identifikasi masalah, analisis masalah, dan pengembangan pendekatan atau strategi intervensi (konseling). Wawancara asesmen juga memiliki keterkaitan yang erat dengan ketrampilan dasar konseling, sebab untuk dapat melaksanakan proses wawancara asesmen dengan berhasil, setiap konselor perlu telah menguasai ketrampilan-kterampilan dasar konseling yang meliputi ketrampilan merawat atau mengurus klien (attending) , ketrampilan mendengarkan (listening responses), ketrampilan mengarahkan (action responses), dan ketrampilan mengkomunikasikan kondisi fasilitatif atau ketrampilan sikap yang meliputi empati, kesungguhan atau ketulusan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada keunikan klien.
Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan dalam proses wawancara asesmen merupakan salah satu bentuk ketrampilan dalam proses asesmen atau identifikasi masalah yang dipengaruhi oleh tingkat penguasaan ketrampilan dasar konseling dan akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses analisis, pengembangan hipotesis, dan perancangan program bantuan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang pengertian asesmen, berikut ini diberikan definisi asesmen menurut beberapa ahli:
Cormier & Cormier (1991) mendefinisikan asesmen masalah sebagai suatu proses mengumpulkan dan mengolah informasi dengan menggunakan berbagai prosedur dan alat sebagai dasar untuk mengembangkan program bantuan/konseling. Ahli lain, Goldenberg (1983) mendefinisikan asesmen masalah sebagai suatu upaya untuk memperoleh suatu gambaran tentang kekuatan, aset, dan kemampuan adaptif, di samping kelemahan, kekurangan, dan perilaku menyimpang klien agar diperoleh suatu pemahaman yang memadai tentang masalah klien baik dalam hubungannya dengan dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan konteks sosial yang lebih luas.
Sedangkan Sundberg (1977) memberikan pengertian asesmen sebagai suatu proses yang digunakan oleh konselor untuk mengembangkan kesan dan citra tentang klien, membuat keputusan dan memeriksa hipotesis tentang pola dan karakteristik perilaku klien dan interaksinya dengan orang lain.
Asesmen pada dasarnya merupakan suatu istilah lebih disenangi oleh para ahli klinis belakangan untuk menggantikan istilah diagnosa. Istilah diagnostik itu sendiri aslinya berasal dari bahasa Greek, yakni dia = sebagian, dan gignoskein = mengetahuai. Secara harfiah, diagnosa berarti upaya untuk membedakan ataum melihat dengan jelas (to distinguish) atau untuk mengetahui sebagian (to know apart) (Achenbach, 1982). Sedangkan pengertian yang lebih luas, diagnosa berarti suatu penyelidikan atau analisis tentang sebab atau sifat dari suatu kondisi, situasi, atau masalah, dan suatu pernyataan atau kesimpulan berkenaan dengan sifat atau sebab dari beberapa gejala (Woofl, 1977). Konselor yang menguasai keterampilan asesmen akan lebih mungkin dapat bertindak lebih efektif dalam proses terapeutik, khususnya untuk mengenali dan menetapkan masalah klien.

1.2. Tujuan asesmen dalam Konseling
Cormier & Cormier (1991), mengemukakan lima tujuan asesmen dalam proses konseling sebagai berikut: (1) Untuk memperoleh informasi yang jelas tentang masalah utama klien dan masalah-masalah lain yang terkait. (2) Untuk mengidentifikasi atau mengenali faktor-faktor atau variabel-variabel yang menyebabkan dan mempertahankan masalah klien. (3) Untuk menetapkan data awal (baseline data) sebagai bahan pertimbangan (kriteria) untuk menetapkan atau menilai kemajuan klien dan keefektifan program perlakuan/intervensi. Penilaian ini penting untuk mengambil keputusan berkenaan dengan apakah strategi atau program intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. (3) Untuk mendidik dan memotivasi klien dengan cara mengkomunikasikan masalah yang telah diidentifikasi atau dikenali kepada klien, mendorong penerimaan atau kesediaan klien untuk menerima program intervensi. (4) Untuk menggunakan informasi yang diperoleh dari klien sebagai bahan pertimbangan guna merancang strategi dan program intervensi yang efektif. Informasi yang diperoleh dari proses asesmen dapat membantu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: macam strategi atau program perlakuan yang manakah yang seharusnya digunakan untuk membantu klien yang memiliki problem ini, siapa yang harus mengadministrasikan, dan di bawah kondisi seperti apa?

1.3. Wawancara Sebagai Pendekatan dalam Asesmen
Asesmen masalah dapat dilakukan melalui pendekatan tes dan non tes baik secara tunggal maupun kombinatif. Namun demikian, untuk memperoleh data yang komprehensif biasanya para ahli merekomendasikan untuk menggunakan berbagai teknik asesmen. Menurut beberapa literatur konseling dan literatur konseling kognitif-perilaku, wawancara merupakan instrumen asesmen masalah yang yang paling tua dan paling banyak digunakan.
Wawancara asesmen didefinisikan sebagai suatu prosedur pertemuan tatap muka antara konselor dan klien untuk tujuan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang masalah klien, atau cara untuk mengidentifikasi dan membatasi masalah klien sebagai dasar untuk merancang program bantuan. Wawancara merupakan metode yang menarik dan banyak dipilih untuk digunakan dalam bidang asemen masalah karena familiaritas dan kemudahannya untuk diadaptasikan. Wawancara asesmen bukan hanya sekedar peristiwa pengumpulan fakta, tetapi juga memungkinkan terjadinya pola-pola komunikasi dan berkembangnya hubungan interpersonal yang kondusif antara konselor dan klien.
Dalam proses ini, konselor dan klien bertindak aktif dan saling mempengaruhi satu sama lain. Aspek-aspek hubungan dalam wawancara merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan apakah tujuan wawancara dapat dicapai atau tidak (Wiens, 1976). Dalam hubungan tersebut, konselor harus mengembangkan rapport dengan cara mengkomunikasikan empati, ketulusan atau kesungguhan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada klien agar klien menjadi rileks (tidak tegang/cemas) dan mengembangkan rasa percaya pada konselor. Kenyamanan dan kepercayaan klien dalam hubungan tersebut sangat penting, sebab sebelum klien merasa rileks dan percaya pada konselor dan perasaan cemasnya belum bisa diatasi, ia tidak akan mungkin memberikan informasi penting.
Secara khusus, penggunaan wawancara sebagai metode asesmen memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut: (1) Dalam wawancara klien dapat melibatkan pribadinya secara penuh dan keterlibatan pribadi klien dapat memperkuat keinginan untuk berubah. (2) Percakapan dapat terus berlangsung sehingga memungkinkan konselor untuk mengidentifikasi bidang permasalahan klien lebih jauh. (3) Secara tidak langsung klien mulai mengenal dan dapat belajar tentang metode-metode pemecahan masalah yang mungkin akan digunakan pada pertemuan-pertemuan atau hubungan terapeutik yang akan dilaksanakan kemudian.
Agar berhasil dalam mengadministrasikan wawancara asesmen, konselor perlu mengikuti suatu program pelatihan berkenaan dengan keterampilan tersebut (Duley, Cancelli, Kratochwill, & Meredith, 1983). Pelatihan dalam wawancara asesmen memungkinkan konselor menjadi lebih peka terhadap tekanan klien dan cara klien memberikan respon, verbal maupun nonverbal, serta lebih mungkin memperoleh banyak petunjuk guna memahami masalah klien.
Kelebihan-kelebihan dari wawancara asesmen tersebut dapat diperoleh hanya jika konselor mampu mendorong klien untuk terlibat aktif dan memberikan informasi yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya tentang pengalaman, perasaan, pikiran, dan tindakan khususnya yang terkait dengan masalahnya. Jelas bahwa wawancara asesmen bukan hanya sekedar peristiwa pengumpulan informasi, tetapi juga suatu peristiwa sosial yang memungkinkan terjadinya pola-pola komunikasi dan berkembangnya hubungan interpersonal antara konselor dan klien. Dalam proses ini, antara konselor dan klien dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan yang tercipta ini selanjutnya memainkan peran penting untuk menentukan apakah tujuan wawancara dapat atau tidak dapat dicapai. Dengan demikian, kemampuan untuk mengembangkan hubungan interpersonal merupakan keterampilan lain yang perlu dimiliki oleh konselor di samping ketrampilan dalam komunikasi wawancara itu sendiri.

__________________________________________

II. WAWANCARA ASESMEN
KOGNITIF PERILAKU

2.1. Batasan dan Konsep
Wawancara asesmen kognitif perilaku adalah suatu prosedur dalam wawancara asesmen yang menggunakan pendekatan kognitif-perilaku. Menurut perspektif kognitif-perilaku, wawancara dipandang sebagai instrumen asesmen perilaku yang sangat umum (Haynes & Jansen, 1979; Nelson, 1983), dan paling sering digunakan (Keane, black, Collins, & Venson, 1982).

2.2. Asumsi-Asumsi dalam Pendekatan Kognitif-Perilaku
Berikut adalah beberapa asumsi teoretis yang yang digunakan dalam konseling kognitif-perilaku sebagaimana dikemukakan oleh Cormier & Cormier (1991):
(1) Gangguan perilaku merupakan hasil belajar. Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang (tidak adaptif, tidak normal) terbentuk, berkembang, dipertahankan, dan diubah melalui cara-cara yang sama seperti halnya perilaku normal (adaptif). Perilaku adaptif dan tidak adaptif terbentuk dan dipertahankan oleh peristiwa-peristiwa situasional eksternal, oleh penguatan eksternal, atau oleh proses-proses internal seperti kognisi, mediasi, dan pemecahan masalah. Dalam banyak kasus, perilaku menyimpang tidak dipandang sebagai fungsi dari kelainan/sakit fisik atau karena adanya konflik-konflik intrapsikis. Asumsi ini mengimplikasikan bahwa para konselor kognitif-perilaku tidak akan membuang-buang waktu untuk memusatkan perhatian pada kemungkinan kondisi patologis atau konflik-konflik awal yang tak terpecahkan. Namun tidak berarti bahwa konselor kognitif-perilaku mengabaikan adanya kemungkinan sebab organik atau fisiologis pada perilaku meyimpang. Sebagai contoh, klien yang menyatakan “merasa cemas” dan mengeluhkan berbagai bentuk gejala psikosomatis seperti jantung berdebar-debar, sakit perut, sakit dada dan sesak nafas, keluhan-keluhan tersebut perlu diperhatikan hanya setelah klien melakukan pemeriksaan fisik secara medis. Variabel-variabel fisik dapat dieksplorasi jika hasil-hasil asesmen tidak mengindikasikan adanya stimuli tertentu yang menyebabkan terjadinya gangguan perilaku. Perlu juga diakui akan pentingnya melakukan pengelolaan fisiologis untuk menangani masalah perilaku. Misalnya, untuk menangani berbagai keluhan fisik klien sebagaimana disebutkan di atas, dapat diberikan pengobatan (medications) sebagai suplemen intervensi konseling. Penggunaan obat antidepressants sering direkomendasikan dan telah terbukti efektif sebagai tambahan dalam intervensi konseling untuk menangani beberapa bentuk depresi, agoraphobia (suatu gangguan yang ditandai oleh adanya rasa takut ketika sendirian atau ketika di tempat umum), dan beberapa bentuk kecemasan.
(2) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang memiliki banyak sebab, oleh karenanya penanganan/intervensi harus bersifat multidimensional. Jarang sekali ditemukan bahwa suatu masalah perilaku disebabkan oleh hanya satu faktor, dan jarang pula program perlakuan yang diberikan secara tunggal bisa mencapai hasil yang memuaskan. Sebagai contoh, pada klien-klien yang menyatakan depresi mungkin ditemukan adanya kelainan faktor organik (misalnya adanya malfungsi dalam sistem kelenjar adrenalin), kondisi lingkungan yang merusak (ditinggal pergi orang yang dicintai), dan faktor-faktor internal negatif (misalnya adanya pikiran-pikiran yang mencela diri) yang menyebabkan terjadinya gangguan tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan masalah perilaku seringkali bersifat jamak, melibatkan tindakan yang kasat mata, peristiwa-peristiwa lingkungan dan hubungan dengan orang lain, perilaku tidak kasat mata seperti keyakinan, kesan diri, kognisi, perasaan dan sensasi fisik, dan kemungkinan kondisi organik/fisiologis. Suatu program intervensi dapat mencapai hasil yang memuaskan jika diarahkan pada berbagai faktor penyebab tersebut.
(3) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang yang akan ditangani harus dinyatakan secara spesifik atau operasional. Untuk memudahkan arahan intervensi, masalah klien dan beberapa kondisi yang mendukung masalah tersebut harus didefinisikan secara operasional, artinya dinyatakan secara jelas, kongkrit, dan dapat diamati/diukur. Definisi operasional tersebut berfungsi sebagai ukuran, barometer, atau “behavioral anchor.” Definisi operasional menyatakan apa yang dilakukan oleh klien dalam suatu situasi khusus dan bukan merupakan inferensi dari atribut-atribut umum. Sebagai contoh, dalam menangani klien yang menyatakan depresi, konselor harus mengoperasionalkan depresi tersebut dengan cara menemukan perubahan fisik apa yang dialami klien selama depresi, apa yang dipikirkan klien ketika mendapat serangan depresi, dan apa yang dilakukan klien selama periode depresi. Kelebihan dari memandang masalah klien dalam bentuk operasional adalah bahwa konselor dapat menterjemahkan gejala yang samar (tidak jelas) ke dalam perilaku-perilaku spesifik yang dapat diamati. Ini memungkinkan konselor dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang sedang terjadi pada diri klien, serta memperoleh ukuran yang jelas untuk menetapkan kemajuan dan hasil-hasil konseling.
(4) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang terjadi dalam konteks sosial dan berhubungan secara fungsional dengan anteseden dan konsekuensi internal maupun eksternal. Gangguan perilaku selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang dapat diamati (respon verbal, nonverbal, atau motorik) dan peristiwa-peristiwa yang kurang bisa diamati (pikiran, perasaan, kesan, moods, dan sensasi tubuh) yang menyebabkan dan mempertahankan problem. Anteseden adalah peristiwa-peristiwa yang mendahului gangguan perilaku (misalnya bencana alam, tidak lulus ujian, ditinggal kekasih, sakit berkepanjangan, ketakutan atau kecemasan, tidak/kurang memiliki keterampilan, dsb.), sedangkan konsekuensi adalah peristiwa-peristiwa yang mengikuti gangguan perilaku (misalnya tidak adanya teguran atau sanksi setelah melakukan pelanggaran, memperoleh uang atau perhatian setelah menangis hebat, merajuk, memukul, mengancam, dsb.) yang dipelajari. Sebagai contoh, seorang anak yang tidak mampu untuk bertindak asertif terhadap gurunya mungkin disebabkan oleh (merupakan fungsi) adanya perasaan cemas yang dipelajari, kurangnya keterampilan sosial. Menurut pandangan para teoris kognitif-perilaku, mengubah satu bagian bentuk gangguan berpotensi memberikan efek pada variabel-variabel perilaku yang lain, positif maupun negatif. Oleh karena itu, konselor harus berjaga-jaga atau mempersiapkan dirinya untuk tidak hanya mengantisipasi dampak intervensi pada perilaku yang sedang ditangani tetapi juga dampak lain dari terjadinya perubahan perilaku tersebut.

2.3. Sasaran dalam Wawancara Asesmen kognitif-Perilaku
2.3.1. Riwayat kasus
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang masalah klien dan latar belakangnya, khususnya berbagai faktor dan variabel yang berkaitan dengan masalah atau keluhan klien saat ini. Meskipun beberapa model konseling mungkin mengakui peran kehidupan masa lalu klien sebagai variabel penting yang perlu diungkap dalam proses asesmen (Goldenberg, 1982), dalam konseling kognitif-perilaku peristiwa masa lalu – disebut histori – tidak perlu diperhatikan (diungkap) kecuali ia berkaitan dengan amsalah sekarang (Cormier & Cormier, 1991). Informasi historis tersebut hanya digunakan sebagai bagian dari proses asesmen secara keseluruhan untuk membantu konselor mempertalikan potongan-potongan peritiwa yang berkaitan dengan masalah atau kesulitan hidup klien saat ini. Proses pengumpulan informasi semacam ini disebut “history taking.”
Dalam banyak kasus, history taking terjadi pada proses wawancara wawancara awal yang disebut “intake interview.” Wawancara awal ini tidak mengandung unsur terapeutik melainkan hanya bersifat informasional belaka dan dapat diadministrasikan oleh orang lain selain konselor. Menurut Cormier & Cormier (1985), berbagai macam informasi dapat dihimpun dalam proses history taking tetapi yang paling penting adalah: (1) Informasi tentang klien. (2) Penampilan dan sikap atau cara bertindak secara umum. (3) Peristiwa masa lalu (riwayat hidup) yang berkaitan dengan masalah yang dialami sekarang. (3) Riwayat konseling atau penyembuhan yang pernah dilakukan. (4) Riwayat pendidikan dan pekerjaan.(5) Riwayat kesehatan. (6) Riwayat perkembangan/sosial (termasuk di dalamnya latar belakang dan afiliasi budaya dan agama, nilai dan prinsip hidup, masalah/kesulitan yang pernah dialami, kronologi peristiwa-peristiwa perkembangan, kegiatan sosial dan waktu luang, dan situasi sosial saat terakhir). (7) Riwayat seksual, perkawinan, dan keluarga. (8) Asesmen pola-pola komuniaksi. (9) Hasil-hasil diagnostik/pemeriksaan mental .

2.3.2. Sebelas kategori informasi
Setelah wawancara awal, dilaksanakan wawancara asesmen yang sesungguhnya oleh konselor. Tujuan dari proses wawancara asesmen menurut model konseling kognitif-perilaku dapat dikelompokkan ke dalam sebelas kategori informasi, yakni: (1) penjelasan tujuan asesmen kepada klien, (2) identifikasi cakupan masalah, (3) pengurutan prioritas dan pemilihan masalah klien, (4) identifikasi masalah yang dialami saat ini, (5) identifikasi anteseden, (6) identifikasi konsekuensi, (7) identifikasi payoff, (8) identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan, (9) identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah, (10) identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya, dan (11) identifikasi intensitas masalah. Berikut adalah penjelasan dan contoh dari masing-masing kataegori informasi tersebut (Cormier & Cormier, 1985).
2.3.2.1. Menjelaskan tujuan asesmen
Untuk menjelaskan tujuan asesmen, konselor dapat memberikan suatu rasional (alasan) kepada klien tentang perlunya dilakukan wawancara asesmen (untuk maksud atau tujuan apa). Ini untuk memberikan gambaran dan menumbuhkan harapan pada klien tentang apa yang akan terjadi selama proses wawancara dan mengapa wawancara tersebut perlu dilakukan.
CONTOH:
“Hari ini kita akan membahas berbagai hal yang sedang merisaukan Anda. Agar kita dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang masalah apa yang sebenarnya sedang Anda alami, saya membutuhkan banyak informasi. Informasi itu akan sangat membantu kita untuk menetapkan dengan tegas masalah Anda, faktor-faktor penyebabnya, dan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memecahkanya. Nah, apakah Anda mengerti maksud saya?”
2.3.2.2 .Identifikasi cakupan masalah klien
Dalam kategori ini, konselor menggunakan berbagai ketrampilan dasar konseling, utamanya pertanyaan terbuka, untuk membantu klien mengenali semua isu primer dan sekunder yang berkaitan dengan masalah yang sedang dialaminya sehingga ia dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang masalahnya tersebut. Pada awalnya klien seringkali hanya mengemukakan satu permasalahan, tetapi pada proses selanjutnya konselor dapat menemukan sejumlah masalah lain yang saling berkaitan, bahkan satu atau beberapa di antaranya mungkin justru menjadi masalah utamanya. Jadi, untuk benar-benar dapat memahami masalah klien, konselor prlu memperoleh suatu big picture dari masalah klien tersebut.
CONTOH:
“Masalah atau kesulitan apa saja yang sedang Anda alami?’
“Dapatkah Anda mengatakan berbagai hal yang merisaukan Anda?”
“Dalam situasi atau kondisi apa saja Anda merasa tertekan?”
“Apa ada hal lain lagi yang juga mengganggu Anda?”
2.3.2.3. Menetapkan prioritas dan memilih isu dan masalah klien.
Pada kategori ini konselor menggunakan berbagai ketarampilan dasar konseling atau ketrampilan interpersonal untuk membantu klien membuat prioritas dari berbagai masalah yang sedang dialaminya dan kemudian memilih salah satu di anataranya untuk dijadikan sebagai fokus awal pemecahan. Prioritasisasi ini perlu sebab konselor tidak akan mungkin dapat membantu klien memecahkan semua masalahnya secara serentak. Idealnya, pemecahan masalah diurutkan dari hal yang paling mudah untuyk ditangani. Tetapi untuk beberapa kasus, fokus awal dapat tertuju pada masalah utama atau masalah yang menjadi penyebab timbulnya amsalah lain. Ada kemungkinan, jika masalah utama ini terpecahkan, masalah lain dapat dengan sendirinya ikut tereliminasi.
CONTOH:
“Dari lima masalah yang Anda sebutkan tadi, manakah yang Anda inginkan untuk kita tangani lebih dahulu?”
“Dari seluruh masalah Anda yang telah kita temukan, manakah yang paling merisaukan Anda?”
2.3.2.4. Identifikasi komponen masalah .
Setelah menetapkan fokus masalah apa yang akan ditangani, konselor selanjutnya membantu klien untuk mengidentifikasi komponen-komponen dari permasalahannya. Pada kategori ini, dengan menggunakan berbagai bentuk ketrampilan dasar konseling, konselor berusaha membantu klien untuk mengenali enam komponen masalah yang sedang dialaminya, yakni: afektif, somatik, perilaku, kognitif, kontekstual, dan relasional.
Afektif. Komponen afektif meliputi mood atau perasaan-perasaan atau seperti: cemas, depresi, ketidakbahagiaan, dsb. Perasaan-perasaan ini pada umumnya merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara proses-proses biologis, perilaku, dan kognitif.
Sensasi somatik. Berkaitan erat dengan perasaan adalah sensasi somatik atau perasaan tubuh. Beberapa klien sangat menyadari pengalaman internal ini, dan beberapa klien lain tidak menyadarinya. Reaksi-reaksi somatik ini memiliki kaitan erat dengan berbagai gangguan seperti mal fungsi seksual, kecemasan, dan depresi. Beberapa klien mungkin menyatakan masalahnya dalam bentuk keluhan somatik alih-alih perasaan atau pikiran, seperti mengeluh sakit kepala, mual, sesak nafas, dsb.
Perilaku attau respon motorik. Klien seringkali menyatakan masalahnya bukan dalam bentuk perilaku yang dapat diamati. Dengan klata lain, mereka menggambarkan suatu situasi atau suatu proses dan bukan tindakan mereka dalam peristiwa atau proses itu. Misalnya, klien mengatakan “Saya tak dapat bergaul secara baik dengan ibun saya,” atau “Saya merasa tidak enak,” atau “Saya tidak mampu untuk berbicara di depan orang banyak,” tanpa menyebutkan secara spesifik tentang apa yang mereka lakukan untuk dapat berhubungan dan tak dapat berhubungan secara baik. Dalam wawancara asesmen informasi ini perlu diungkap oleh konselor.
Kognisi, keyakinan. Banyak ahli, khsuusnya dari perspektif kognitif, yang mengakui peran penting proses-proses kognisi atau keyakinan dalam menyebabkan suatu masalah. Proses kognisi atau keyakinan yang berpotensi menyebabkan masalah atau gangguan adalah yang tidak adaptif seperti: adanya harapan yangbtidak rasional atau tidak realistis terhadap diri dan orang lain, pernyataan diri negatif, menyalahkan diri, distorsi kognitif, dsb.
Konteks. Masalah klien terjadi dalam suatu konteks sosial, yakni berkaitan erat dengan berbagai macam situyasi, waktu, tempat, dan persitiwa. Pentingnya mengungkap informasi tentang konteks ini ditegaskan oleh Lazarus (1976) sebagai berikut: jika konselor benar-benar tulus ingin membantu klien, maka penting baginya untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang semua konteks tempat terjadinya gangguan perilaku (Lazarus, 1976).
Relasi atau hubungan. Masalah klien tidak hanya berhubungan dengan waktu, tempat, dan peristiwa, tetapi juga berkaitan dengan ada atau tidak adanya kehadiran orang lain. Orang-orang di sekeliling klien – baik yang keberadaannya hanya sementara atau permanen – tidak hanya membuat klien merasa aman dan bahagia, tetapi juga dapat membuat klien merasa terancam dan menderita. Banyak orientasi teoretik konseling yang merekomendasikan perlunya melakukan asesmen tentang hubungan klien dengan orang lain.
CONTOH:
Indentifikasi komponen Afektif:
“Ketika hal itu terjadi, perasaan apa saja yang Anda alami?”
“Bagaiamana perasaan Anda ketika Anda melakukan hal itu atau ketika hal itu terjadi?”
“Ketika Anda berceritera tentang ayah Anda, suara Anda sedikit berat dan bergetar. Apa yang Anda rasakan ketika Anda berceritera tentang ayah Anda tadi?”
“Tadi Anda mengatakan jika Anda marah dan menangis ketika mendapati nilai ulangan Anda jelek. Apa ada perasaan lain yang Anda alami?”
Identifikasi komponen Somatik:
“Secara fisik, apa saja yang terjadi pada diri Anda ketika hal itu terjadi?”
“Apakah Anda sadar ketika Anda melakukannya?”
“Anda mengatakan jika Anda selalu gemetar ketika jam matapelajaran matematika akan mulai. Apa ada reaksi tubuh yang lain yang Anda rasakan, misalnya pusing, mual, dsb.?”

Identifikasi perilaku dan respon motorik:
“Saya ingin Anda menggambarkan apa saja yang Anda lakukan dalam situasi tersebut!”
“Tadi Anda mengatakan bahwa Anda mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran matematika di kelas. Saya ingin Anda mengatakan pada saya tentang apa saja yang anda lakukan pada waktu Anda mengikuti pelajaran matematika di kelas.”
“Apa yang Anda lakukan ketika peristiwa itu terjadi?”
“Apa pengaruh peristiwa itu pada perilaku Anda sehari-hari?”

Identifikasi kognisi atau keyakinan:
“Apa saja yang Anda pikirkan ketika peristiwa itu terjadi?”
“Menurut Anda, apa yang menyebabkan Anda menjadi seperti ini?”
“Seandainya Anda tetap seperti ini atau seandainya Anda berubah, menurut Anda, apa kemungkinan yang akan terjadi pada diri Anda?”
“Menurut Anda, apa yang seharus Anda lakukan agar nilai-nilai ujian Anda bisa menjadi lebih baik?”
Identifikasi konteks (waktu, tempat, dan peristiwa yang bersamaan):
“Dimana saja biasanya Anda mengalami kesulitan itu?”
“Anda tadi mengatakan bahwa Anda merasa tertekan ketika mengikuti pelajaran matematika. Apakah perasaan itu juga muncul ketika Anda mengikuti matapelajaran yang lain?”
“Anda meninggalkan rumah karena tidak tahan setiap hari dimarahi oleh ibu Anda. Barangkali ada sebab lain?”
Identifikasi relasi/hubungan dengan orang lain:
“Apakah masalah yang Anda alami itu berpengaruh buruk pada teman-teman Anda di sekolah?”
“Seberapa jauh masalah yang Anda alami itu mempengaruhi hubungan Anda dengan orang tua Anda?”
“Apakah Anda punya teman atau siapa saja yang biasanya Anda ajak untuk membicarakan masalah-masalah Anda?”
“Kepada siapa saja biasanya Anda mengelukan perasaan atau kesulitan Anda?”
2.3.2.5. Identifikasi anteseden.
Dengan menggunakan berbagai keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor membantu klien untuk mengenali sumber-sumber atau peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebab dari masalah atau kesulitannya. Suatu peristiwa tidak terjadi dengan sendirinya, dan anak tidak terlahir dengan masalah tertentu. Beberapa peristiwa mungkin dapat menyebabkan masalah klien dengan cara memelihara, memperkuat, atau menguaanginya. Berkaitan dengan ini, konselor dapat mengungkap sitausi atau kondisi-kondisi yang ada sebelum terjadinya masalah, baik yang menyebabkan terjadinya masalah maupun yang berpotensi tidak menyebabkan masalah, maupun yang masih mempengaruhi masalah.
CONTOH:
Kondisi afektif:
“Apa yang Anda rasakan sebelum peristiwa itu terjadi?”
“Apa yang biasanya Anda rasakan sebelum hal itu terjadi?”
“kapan pertama kali Anda merasakan hal itu?”
Kondisi somatik:
“Secara fisik, apa saja yang biasanya Anda alami sebelum peristiwa terjadi?”
“Apakah Anda merasakan gejala-gejala fisik tertentu sebelum hal itu terjadi?”
“Sebelum hal itu terjadi, apakah Anda merasakan tanda-tanda fisik tertentu seperti mual, pusing, gemetar, dsb.?”
Kondisi perilaku:
“Dapatkah Anda mengenali beberapa bentuk tindakan Anda sebelum hal ini terjadi?”
“barangkali Anda dapat mengingat mungkin hal ini terjadi karena Anda telah melakukan sesuatu?”
“Dapatkah Anda mengambarkan beberapa bentuk perilaku Anda yang tampaknya (mungkin) menyebabkan Anda mengalami masalah tersebut?”
Kondisi kognitif:
“Sebelum Anda mengalami masalah ini, apa yang biasanya Anda pikirkan?”
“Barangkali Anda dapat mengenali keyakinan-keyakainan Anda yang mungkin menyebabkan Anda mengalami maslaah ini?”
“Mungkin Anda memiliki keyakinan-keyakinan atau pikiran-pikiran tertentu yang mungkin menyebabkan Anda mengalami kesulitan ini?”

Kondisi kontekstual:
“Pernahkah Anda mengalami masalah ini sebelumnya, misalnya ketika masih di SD, SLP?”
“Telah berapa lama masalah ini Anda alami?”
“Di mana dan kapan saja masalah itu Anda alami?”
“Dalam situasi apa saja kesulitan itu muncul?”
Kondisi hubungan/relasional:
“Coba Anda temukan mungkin ada orang-orang atau siapa saja yang menyebabkan Anda mengalami masalah ini?”
“Barangkali Anda dapat menyebutkan orang-orang tertentu yang tampak menyebabkan atau turut mendukung masalah Anda ini?”
“Dengan siapa biasanya Anda melakukan hal itu?”
2.3.2.6. Identifikasi konsekuensi
Dengan menggunakan berbagai keterampilan dasar konseling, konselor membantu klien mengenali sumber-sumber konsekuensi yang berhubungan dengan masalah yang dialaminya. Sumber-sumber ini dapat berupa peristiwa-peristiwa internal atau eksternal yang memperkuat, memelihara, atau memperlemah masalah yang dialaminya.
CONTOH:
Konsekuensi afektif:
“Perasaan apa yang Anda alami setelah Anda memperoleh nilai buruk dalam ujian statistik kemarin?”
“Emos apa saja yang Anda rasakan setelah Anda melakukan hal itu?”
Konsekuensi somatik:
“Secara fisik gejala tubuh apa yang Anda rasakan setelah Anda berbicara kasar pada guru Anda?”
“Apakah Anda merasakan gejala-gejala tubuh tertentu setelah Anda meminum minuman keras?”
Konsekuensi perilaku:
“Setelah peristiwa itu terjadi, apa yang Anda lakukan dan apakah itu membuat Anda merasa lebih baik atau lebih buruk?”
“Apa biasanya yang Anda lakukan setelah Anda meninggalkan atau mangkir dari jam pelajaran di sekolah?”
Konsekuensi kognitif:
“Apa yang biasanya Anda pikirkan setelah Anda meninggalkan pelajaran sebelum waktunya (membolos)?”
“Apa yang biasanya Anda katakan pada diri Anda setelah Anda minum minuman keras?”
“Adakah pikiran-pikiran atau imej tertentu yang ada di benak Anda setelah Anda menyetubuhi pacar Anda?”
Konsekuensi kontekstual:
“Apa yang biasanya terjadi setelah Anda minum alkohol?”
“Apakah dalam situsi atau kondisi tertentu kebiasaan Anda minum alkohol itu dapat berhenti?”
“Dalam situasi apa Anda biasanya dapat mengendalikan dorongan Anda untuk merokok?”
Konsekuensi relasional:
“Siapa orang-orang yang bersama Anda atau Anda temui setiap kali kesulitan itu muncul?”
“Barangkali Anda dapat mengidentifikkasi siapa saja orang-orang tertentu dalam kehidupan Anda yang dapat membuat masalah Anda itu semakin menjadi, terus terjadi, berkurang, atau berhenti?”
“Dapatkah Anda mengingat reaksi orang-orang di sekeliling Anda setiap kali mereka menemukan Anda merokok?”
2.3.2.7. Identifikasi payoff
Dalam kategori ini konselor menggunakan berbagai ketarmpilan interpersaonalnya untuk membantu klien mengenali atau mengidentifikasi variabel-variabel pengendali penyerta yang bertindak sebagai “gain secondair” dari kesulitan atau masalah yang dialaminya.
CONTOH:
“Apa yang Anda peroleh setelah Anda merokok, dan apakah itu membuat Anda merasakan kesenangan tertentu dan sulit untukm menghentikannya?”
“Kesenangan apa yang biasanya Anda peroleh setelah Anda menghisap sabu-sabu?”
“Adakah perasaan tertentu yang Anda nikmati dan itu membuat Anda ingin selalu menggangu teman-teman anda?
2.3.2.8 Identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan
Dalam kategori ini konselor menggunakan keterampilan interpersonal untuk membantu klien mengidentifikasi upaya-upaya pemecahan yang telah dilakukan dan pengaruhnya pada masalah sekarang.

CONTOH:
“Apakah Anda pernah mencoba untuk memecahkan kesulitan Anda itu?”
“Apakah pernah ada orang lain yang mencoba membantu Anda untuk memecahkan masalah Anda itu?”
“Apakah Anda pernah berbicara dengan orang lain untuk maksud memecahkan masalah Anda tersebut?”

2.3.2.9. Identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk mengidentifikasi keterampilan yang dimilikinya dan apakah keterampilan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dialaminya.
CONTOH:
“Coba instrospeksi barangkali Anda memiliki keterampilan-ketrampilan tertentu yang dapat gunakan untuk memecahkan masalah Anda itu?”
“Apa kira-kira yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda itu?”
2.3.2.10. Identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk menggambarkan persepsi atau pemahamannya tentang masalah yang sedang dihadapinya.CONTOH:
“Problem macam apa kira-kira yang sedang Anda alami itu?”
“Kira-kira masalah Anda itu disebabkan oleh kesalahan orang lain ataukah kesalahan Anda sendiri?”
“Kira-kira apa yang menyebabkan Anda mengalami masalah tersebut?
2.3.2.11. Identifikasi intensitas masalah
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk mengidentifikasi dampak masalah yang dialaminya pada kehidupannya, yang meliputi tingkat severitas dan frekuensi atau durasi masalah.
CONTOH:
“Anda mengatakan jika Anda merasa cemas setiap kali akan menghadapi ujian. Jika rasa cemas itu kita tempatkan pada suatu rentangan skala, misalnya dari 1 s.d. 10, dimanakah kira-kira letak tingkat kecemasanmu Anda itu?”
“Berapa lama biasanya Anda mengalami kecemasan itu?”
“Berapa sering Anda mengalami kecemasan?”

EVALUASI
1. Apakah makna asesmen dalam bimbingan?
2. Jelaskan tujuan asesmen dalam konseling!
3. Uraikan asumsi-asumsi pendekatan kognitif-perilaku!
4. Wawancara asesmen kognitif-perilaku adalah:
5. Penggunaan wawancara sebagai prosedur asesmen memiliki beberapa keuntungan, yakni:……………
6. Yang dimaksud dengan identifikasi anteseden adalah ……………………
7. Yang dimaksud dengan identifikasi konsekuensi dalam wawancara asesmen adalah:
………………………….
8. Yang dimaksud identifikasi payoff adalah ……………………….
9. Yang dimaksud dengan identifikasi komponen masalah klien adalah:……………
10. Yang dimaksud history taking dalam wawancara asesmen kognitif-perilaku adalah:
………………………
11. Berikut ini manakah yang termasuk dalam komponen afektif:…………………………….
12. “Tadi Anda mengatakan bahwa Anda marah, malu, dan sedih ketika Anda dinyatakan tidak lolos sertifikasi. Apa yang membuat Anda mengalami perasaan seperti itu?” Respon konselor tersebut diarahkan untuk mengenali komponen: …………….

13. “Kau mengatakan jika kau selalu gemetar ketika jam matapelajaran matematika akan mulai. Apa ada reaksi tubuh yang lain yang Anda rasakan, misalnya pusing, mual, dsb.?” Respon konselor tersebut diarahkan untuk mengenali komponen: ……………
14. Beri contoh upaya konselor untuk mengidentifikasi intensitas masalah klien:…………
15. Penggunaan wawancara sebagai metode asesmen memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut: ……………………

Lakukanlah wawancara asesmen dengan kolega Anda sehingga Anda memperoleh informasi-informasi akurat berkenaan dengan sebelas kategori informasi seperti telah dicontohkan.
—-000000OOOO0000000—

DAFTAR PUSTAKA

Blackham, G. 1977, Counseling:theory, process, and practice. Belmont, California: Wadsworth Publising Company.

Bootzin, R. S, 1991, Behavior Modifikation and Therapy: An Introduction. Cambridge: Winthrop Publisher.

Brammer, L. M dan Everett L. S, 2001, Therapiutic Psychology: Fundamentals of Counseling and Psychoterapy, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Corey, G dan Corey, M. S. , 2001. Group: Processs and practice. Monterey, California: Brooks/ Cole Co.

Cormier, W.H., & Cormier L. S., 1985. Interviewing Strategies for Helpers, Monterey California: Brooks/Cole Publishing.

Egan, G., 1975, The skilled helper: A model for systematic helping and interpersonal relating, Monterey , CA: Brooks/ Cole.

Gambril, E. D, 1977, Behavior modification: Hand book of assesment, intervention, and evaluation, San Francisco: Jossey-Bass.

Gazda, GM. 1999, Group Prosedur with Children: A Developmental Approach. Dalam Ohlsen (ed), Counseling Children in Group: A Forum, New Jersey: Prentice Hall.

George R. L R. dan Cristiani, TS. 2001, Theory, Methods, and Process of Counseling and Psychoterapy, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

Ivey, A.E. & Simek Downing, L., 1980. Counseling and Psychotherapy. Englewood Cliffs, N.J. : Prentici-hall, Inc.

Krumboltz, J. D & Thoresen, C. E., 1976. Counseling Methods. New York : Holt, Rinehart and Winston.

Lazarus, A. A, 1981, The practice of multimodal therapy, New York: Mc-Graw-Hill.

Stewart, C. G., & Lewis, W. A., 1986. Effect of Assertiveness training on Self esteem of Black High School Students. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 10, 544-548.

Swensen, C. H. 1968, An approach to case conceptualization, Boston: Hougton Mifflin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: