MODEL MODEL KONSELING

MODEL-MODEL KONSELING

Lutfi Fauzan

KARAKTERISTIK KONSELING
• Proses bantuan (helping process)
• Interaksi/hubungan manusiawi  bersifat intelektual, emosional, perilaku
• memfasilitasi perkembangan/pemecahan masalah/pengambilan putusan
Batasan konseling sesuai dengan pendekatan/model masing-masing

BAGAIMANA MEMULAI KONSELING
Teori-Model

Praktik Falsafah Pribadi

Personal Counseling
PENTINGNYA TEORI DAN MODEL
• Mensistematikkan temuan-temuan
o fenomena kompleks  ditata sehingga dapat dianalisis,
o memperli¬hatkan kaitan hasil-hasil eksperimen/penelitian

membantu pemahaman,
(sejumlah besar fenomena diatur dalam suatu skema yang koheren)
• Melahirkan hipotesis-hipotesis
o teori sebagai pembangkit hipote¬sis penelitian.
o memberi arah di mana mencari jawaban atas per¬tanyaan.

menghemat usaha dalam penelitian
• Membuat prediksi
o perlihatkan apa yang mungkin ditemukan, bila dilakukan eksperi¬men/pengamatan.
• Memberikan penjelasan menjawab pertanyaan “mengapa”.
o Mengapa terjadi peristiwa-peristiwa tertentu, dan
o Mengapa manipulasi variabel menghasilkan perubahanh pada variabel lain.
Banyak ke¬jadian disebabkan faktor yg tidak diketahui dg sempurna.

dijelaskan secara teoretis.
TEORI
• sejumlah propo¬sisi yang terintegrasi secara sintaktik: ikuti aturan trt yg dpt menghu-bungkan secara logis proposisi satu dengan yang lain; juga pada data yang diamati
• untuk pre¬diksi & jelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati
MODEL
• struktur konseptual dalam suatu bidang
• Bimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain
• biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang
• mempunyai sifat “jika-maka”, dan terikat pada teori

VERIFIKASI TEORI/MODEL KONSELING
• Jelas, mudah difahami dan dikomunikasikan, konsepnya serasi
• Menyeluruh, jelaskan berbagai fenomena dalam berbagai situasi
• Membangkitkan riset
• Mengaitkan cara dengan hasil, kaitkan prosedur dan tujuan
• Berguna bagi praktisi
ORIENTASI TEORI/MODEL KONSELING

Afektif

Perilaku Kognitif

Berikut ini perkenalan singkat dengan dengan tiga model konseling yang mewakili corak afektif, kognitif, dan perilaku.

PERSON CENTERED (KONSELING BERPUSAT PRIBADI)

Model konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl R. Rogers. Sebagai hampiran keilmuan merupakan cabang dari psikologi humanistik yang menekankan model fenomenologis. Konseling person-centered mula-mula dikembangkan pada 1940 an sebagai reaksi terhadap konseling psychoanalytic. Semula dikenal sebagai model nondirektif, kemudian diubah menjadi client-centered, dan terakhir person-centered. Didasarkan pada pandangan subjektif terhadap pengalaman manusia, menekankan sumber daya konseli untuk menjadi sadar diri self-aware dan untuk pemecahan hambatan ke pertumbuhan pribadi. Model ini meletakkan konseli, bukan konselor, sebagai pusat konseling.

Falsafah dan Asumsi Dasar
Model ini berdasarkan pada pandangan positif tentang manusia yang melihat orang memiliki sifat bawaan berjuang keras ke arah menjadi untuk berfungsi secara penuh (becoming fully functioning). Asumsi dasarnya adalah: dalam konteks suatu hubungan pribadi dengan kepedulian konselor, konseli mengalami perasaan yang sebelumnya ditolak atau disimpangkan dan peningkatan self-awareness. Konseli diberdayakan melalui partisipasi mereka dalam hubungan konseling. Mereka mewujudkan potensi mereka untuk tumbuh, utuh, spontan, dan diarahkan dari motivasi internal (inner-directedness).

Konsep utama
Setiap orang dapat mengarahkan hidup dirinya sendiri. Konseli mempunyai kapasitas untuk memecahkan permasalahan hidup secara efektif tanpa penafsiran dan arahan konselor ahli. Model ini memusatkan proses pada mengalami secara penuh momen saat ini, belajar untuk menerima dirinya, dan memutuskan cara untuk berubah. Ia memandang kesehatan mental sebagai sama dan sebangun antara apa yang orang inginkan untuk menjadi dan apa yang benar-benar terjadi.
Tujuan Konseling
Tujuan utama konseling adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.
Hubungan Konseling
Rogers menekankan sikap dan karakteristik pribadi konselor dan mutu dari hubungan konseli/konselor sebagai faktor penentu utama dari hasil konseling. Kualitas konselor yang menentukan hubungan meliputi keaslian/ketulusan (genuineness), kehangatan (warmth), empati yang akurat (accurate empathy), penerimaan dan penghormatan tanpa syarat terhadap konseli (unconditional acceptance of and respect), memberikan kebebasan (permis¬siveness), kepedulian (caring), dan mengkomunikasikan sikap itu semua kepada konseli. Melalui hubungan sedemikian itu, konseli dapat menerjemahkan belajarnya di dalam konseling ke hubungan di luar dengan orang lain.

Teknik dan Prosedur
Sebab model menekankan hubungan konseli-konselor, teknik-tekniknya terbatas. Teknik hanyalah sekunder dibandingkan sikap konselor. Model ini meminimalkan teknik-teknik direktif, penafsiran, tanya jawab, penyelidikan, diagnosis, dan pengumpulan sejarah. Proses lebih memaksimalkan mendengarkan dan mendengar aktip, pemantulan perasaan, dan klarifikasi. Keterlibatan penuh dari konselor sebagai pribadi dalam hubungan konseling lebih ditekankan.

Aplikasi
Model ini mempunyai lapangan aplikasi yang luas pada banyak situasi pribadi ke pribadi. Ia bermanfaat untuk konseling individu dan kelompok, PBM yang berpusat pada siswa, hubungan orang tua-anak, dan laboratorium pelatihan hubungan antarmanusia; dan utamanya cocok untuk tahap awal kerja intervensi krisis. Prinsip-prinsipnya telah diterapkan pada administrasi dan manajemen dan untuk bekerjasama dalam institusi dan sistem.
Kontribusi
Model ini menjadi salah satu dari yang pertama mematahkan konseling psikoanalisa tradisional, menekankan tanggung jawab dan peran aktip konseli, menghadirkan pandangan yang positif dan optimis dan memberikan perhatian akan kebutuhan untuk memperhitungkan aspek kedalaman pribadi dan pengalaman subjektif. Ia mengutamakan proses konseling yang berpusat pada hubungan dibandingkan mengutamakan teknik. Model ini memusatkan pada peran penting dari sikap konselor. Model telah menghasilkan banyak riset klinis baik dalam hal proses maupun hasil konseling, yang pada gilirannya telah mendorong pelahiran hipotesis-hipotesis tentatatif. Model ini juga telah diterapkan pada orang-orang dari budaya yang berbeda secara bersama-sama. Prinsip-prinsipnya bernilai dan bermanfaat diaplikasikan pada latar multibudaya.
Keterbatasan
Ada kemungkinan bahaya menjadi konselor yang melulu merefleksikan isi, ketika membawa sedikit kepribadiannya ke dalam hubungan konseling. Model terbatas dalam menggunakan bahasa nonverbal konseli. Sebagai suatu model ahistorik cenderung kurang memperhitungkan arti masa lampau. Sebagian dari keterbatasan yang utama tampak bukan karena teorinya tetapi karena beberapa kesalahpahaman konselor terhadap konsep dasar dan aplikasi praktis mereka yang dogmatis.

By ekoendriwiyonowordpress

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s