ANALISIS SOSIOMETRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTER

ANALISIS SOSIOMETRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTER

MAKALAH
Disajikan dalam Semiloka Guru Pembimbing se kabupaten Rembang
Tanggal 31 Januari 2010

Oleh :
Drs. MASTUR, Kons.
Guru Pembimbing SMP 1 Mejobo Kudus
Ketua MGP SMP/MTs. Kab. Kudus

BAB. I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Sosiometri
Pelayanan Bimbingan dan Konseling harus dilakukan oleh orang yang profesional dan secara profesional pula. Agar dalam melaksanakan pelayanan konseling dapat melakukan secara profesional maka ada beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh konselor, diantaranya bahwa konselor harus mampu memahami kebutuhan dan permasalahan nyata yang dialami oleh individu ( Klien ) yang menjadi sasaran pelayanan konseling.Untuk mengungkap data-data yang diperlukan dari klien dapat dilakukan melalui kegiatan pengukuran sebagai upaya untuk menganalisa kebutuhan (need assesment) klien dengan menggunakan alat ukur atau instrumen tertentu. Yang mana kegiatan ini biasa juga disebut Aplikasi Instrumentasi.
Dalam Konseling, kondisi individu, terutama orang-orang yang potensial atau sedang menjadi klien mengandung berbagai hal yang perlu diungkapkan. Ketepatan pemahaman, penyingkapan dan perlakuan konselor terhadap individu ( Klien ) yang dimaksud sangat tergantung pada hasil pengungkapan kondisi diri individu tersebut. Pengungkapan kondisi diri klien dilakukan melalui Aplikasi Instrumentasi, baik melalui instrument tes maupun non tes. Hasil aplikasi instrumentasi ini kemudian ditafsirkan, disikapi dan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk layanan konseling dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Salah satu jenis instrumen non tes yang harus dikuasai Konselor ( Guru Pembimbing ) adalah Sosiometry, yang akan dikupas secara lebih mendalam dalam makalah ini.
Sociometry merupakan salah satu metode psikologi sosial yang dikembangkan oleh Jacob Levy Moreno, orang pertama yang memperkenalkan istilah sociometry, berawal dari studi sociometry yang dilakukannya dalam jangka waktu yang panjang pada tahun 1932 – 1938 di New York State Training School for Girls in Hudson, New York. Kata sociometry berasal dari bahasa Latin “socius”, yang berarti soial dan “metrum”, yang berarti mengukur. Berdasarkan kata dasar ini, sosiometri digunakan sebagai cara untuk mengukur tingkat antar hubungan individu dalam kelompok. Pengukuran tentang antar hubungan tersebut berguna tidak hanya dalam melakukan assessment terhadap perilaku individu dalam kelompok, tetapi juga untuk melakukan intervensi untuk menghasilkan perubahan positif dan menentukan seberapa luasnya perubahan itu. Dalam kerja kelompok, sosiometri merupakan alat untuk mengukur kekuatan penurunan konflik dan memperbaiki komunikasi, karena sosiometri kelompok membolehkan kelompok untuk melihat dirinya secara objektif dan untuk menganalisis dinamika kelompoknya. Sosiometri ini juga alat yang bagus untuk mengassess (assessing) dinamika dan perkembangan dalam kelompok pencurahan untuk terapi atau pelatihan. Dengan demikian, sosiometri merupakan alat untuk mengukur hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok.
Dalam perkembangan bimbingan konseling sekarang ini, sosiometri digunakan sebagai metode pemahaman individu untuk mengukur interaksi sosial dalam suatu kelompok. Popin Dictionary Home Page (2001) mendefinisikan sosiometri sebagai suatu metode yang digunakan untuk mempelajari hubungan antar pribadi dalam suatu kelompok orang, pengukuran perilaku sosial manusia. Pengertian sosiometri tersebut dapat dijelaskan sebagai:
1. Suatu metode untuk mempelajari hubungan antar pribadi dalam suatu kelompok. Di sini pribadi mempunyai makna sebagai manusia jika ia berada dalam kelompok. Karena dalam kehidupan kelompok ia dapat berhubungan dengan manusia yang lain, makna ke-manusia-annya hanya ada jika ada kelompok manusia.
2. Suatu cara untuk mengukur perilaku sosial manusia, yaitu mengukur bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain dalam kelompoknya, bagiamana ia memandang orang lain dalam kelompoknya, bagaimana ia memilih orang lain sebagai teman dalam kelompoknya, bagaimana kelompok mengembangkan struktur sosial.

B. Fungsi Sosiometri
Mengacu pada pengertian-pengertian di atas, sosiometri dapat diartikan sebagai suatu metode atau teknik untuk memahami individu terutama untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial antar individu (antar pribadi) dalam suatu kelompok, berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-anggota kelompok. Preferensi pribadi dinyatakan dalam kesukaan untuk berada bersama dalam melakukan kegiatan tertentu, atau dinyatakan dalam ungkapan perasaan terhadap anggota-anggota kelompok untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Dengan demikian secara ringkas dapat disebutkan bahwa sosiometri memiliki fungsi :
a. Sebagai alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu dengan dasar terhadap relasi sosial dan status dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan.
b. Sebagai alat untuk memperbaiki hubungan insani (human relation) diantara anggota-anggota kelompok tertentu.
c. Dapat digunakan untuk menentukan kelompok kerja.
d. Dapat digunakan untuk meneliti kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk suatu kegiatan tertentu.

BAB. II
CARA PENGERJAAN DAN PENGOLAHAN SOSIOMETRI
SERTA IMPLIKASINYA DALAM LAYANAN BK

A. Cara Pengerjaan Sosiometri
Langkah – langkah yang perlu dilakukan dalam penerapan instrumentasi sosiometri adalah sebagai berikut :
a. Siswa diberi daftar isian/angket sosiometri dan diminta untuk menuliskan identitas dirinya.
b. Konselor memberikan penjelasan maksud dan tujuan dari angket sosiometri, dan menjelaskan petunjuk pengisiannya.
c. Konselor mempersilahkan kepada siswa untuk mengisi angket sosiometri, yaitu dengan cara menuliskan teman yang paling disukai dan yang paling tidak ia sukai disertai alasan-alasannya.
d. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan kerahasiaan terhadap semua jawabannya
e. Menginformasikan bahwa hasil angket sosiometri ini akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan (bantuan) pada siswa.

B. Cara Pengolahan Sosiometri
Pengolahan hasil Instrumen sosiometeri mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut :
a. Siapkan tabel sosiometri yang berisikan nama pemilih / penolak dan nama yang dipilih / ditolak dalam satu kelas.
b. Masukkan data yang diperoleh dari angket sosiometri ke dalam tabel tersebut dengan ketentuan angka 1 untuk pilihan pertama ( 1 ) angka 2 untuk pilihan kedus ( 2 ), angka 3 untuk penolakan pertama ( 3 ) dan angka 4 untuk penolakan kedua ( 4 ), sehingga akan tampak skor pilihan dengan rumus jumlah angka 1 ditambah jumlah angka 2 serta skor penolakan dengan rumus jumlah angka 3 ditambah jumlah angka 4..
c. Dari hasil tabulasi tersebut kemudian dianalisis
Analisanya dilakukan melalui analisis sosiometri, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis sosiometri secara kuantitatif adalah analisis indeks. Dalam analisis ini kita menghitung berapakah jumlah indeks setiap individu dalam tiap-tiap kelompok yang dikenai sosiometri. Di dalam analisis indeks ini ada tiga kedudukan individu dalam kelompoknya, yaitu:
1. Status Pemilihan ( Choice Status : cs )
2. Status Penolakan ( Rejection Status : rs )
3. Status Pemilihan penolakan ( Choice and Rejection Status : crs ).
Berdasarkan praktek di lapangan, Susilo Rahardjo (1998) menemukan bahwa ada ketidaksesuaian teori analisis indeks sosiometri dalam segi status pemilihan (cs=choice status), status penolakan (rs=rejection status), dan status pemilihan penolakan (crs=choice and rejection status), karena itu rumus-rumus analisis indeks sosiometri perlu direkonstruksi. Dengan uji komputer, Susilo Rahardjo (1998) menyusun rumus baru; baik untuk indeks pemilihan, penolakan, maupun pemilihan penolakan.
Rumus baru yang digunakan untuk mencari masing-masing status adalah sebagai berikut :

1. Status pemilihan (choice status=cs)
Jumlah pemilih A
cs A =
Nxp
Keterangan :
A = Kode orang yang dicari statusnya dalam kelompok
N = Jumlah orang dalam kelompok
p = banyaknya pilihan setiap orang yang ditentukan dalam angket sosiometri

2. Status penolakan (rejection status=rs)
Jumlah penolak B
rs B = x -1
Nxt
Keterangan :
B = Kode orang yang dicari statusnya dalam kelompok
N = Jumlah orang dalam kelompok
t = banyaknya penolakan setiap orang yang ditentukan dalam angket sosiometri

3. Indeks pemilihan penolakan (choice and rejection status=crs)
Jumlah pemilih C – jumlah penolak C
rs C =
Nxq
Keterangan :
C = Kode orang yang dicari statusnya dalam kelompok
N = Jumlah orang dalam kelompok
q = banyaknya pilihan/penolakan setiap orang yang ditentukan dalam angket sosiometri
d. Dari tabulasi yang ada dituangkan dalam bentuk sosiogram untuk melihat hubungan antar individu dalam kelompok tersebut.

C. Implikasi Analisis Sosiometri dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Pemahaman guru pembimbing terhadap sosialisasi siswa merupakan hal yang penting dalam rangka pemahaman individu. Dengan pemahaman tersebut guru pembimbing dapat mendeskripsikan siswa-siswa yang mengalami masalah sosial, dan yang tidak mengalami masalah sosial. Selanjutnya guru pembimbing dapat melakukan berbagai layanan bimbingan dan konseling yang berfungsi pencegahan timbulnya masalah interaksi sosial, pengatasan masalah interaksi sosial, pemeliharaan dan pengembangan interaksi sosial siswa. Untuk memahami interaksi di antara para siswa, guru dapat menggunakan metode sosiometri.
Sosiometri merupakan teknik untuk meneliti struktur sosial di kelas yang pada hakekatnya untuk meneliti kekohesivan ( kepaduan, kekompakan ) kelompok, atau dengan kata lain meneliti seberapa jauh keterpaduan suatu kelompok, apakah suatu kelompok padu ataukah terpecah/terbelah. Beck (1951) menyatakan, ada tiga dasar padunya kelompok, yaitu daya tarik pribadi (personal attraction), kinerja dalam menyelesaikan tugas ( performance of a task ), menjaga prestise atau gengsi kelompok ( group prestige ).
Pemahaman guru pembimbing terhadap interaksi sosial siswa asuhnya mempunyai implikasi dalam berbagai layanan dan/atau kegiatan bimbingan konseling. Pemahaman individu merupakan starting point dalam layanan dan/atau kegiatan bimbingan. Maksudnya berbagai layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling semestinya dimulai dengan pemahaman individu oleh klien dan guru pemibimbing. Pemahaman diri yang dilakukan oleh klien adalah agar klien dapat memahami dirinya ( kelebihan dan kekurangannya ), memahami masalahnya, dan memahami bahwa keputusan akhir dalam memecahkan masalahnya menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan pemahaman yang dilakukan oleh guru pembimbing adalah agar guru pembimbing mengenal dan memahami tentang diri klien, latar belakangnya, masalah yang dihadapi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisi lingkungannya.
Secara khusus, penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi Sosiometri yang telah dilaksanakan, implikasinya dalam layanan konseling dapat dijelaskan sebagai berikut :
Hasil analisis sosiogram akan membantu konselor dalam memahami hubungan sosial dan hubungan individu yang berlangsung dalam suatu kelompok. Dari hasil tersebut akan tampak individu-individu yang memerlukan bantuan layanan konseling secara perorangan maupun kelompok. Setalah hasil angket sosiometri dianalisa akan tampaklah gambaran hubungan sosial dalam kelompok siswa, yaitu siswa-siswa yang memiliki hubungan sosial yang tinggi dengan melihat skore pemilihan dan juga akan tampak siswa-siswa yang memiliki hubungan social rendah atau terisolir. Dari gambaran ini konselor sekolah dapat merencanakan layanan-layanan apa yang tepat bagi mereka. Terutama untuk siswa-siswa yang memiliki hubungan sosial rendah atau terisolir, konselor harus memberikan perhatian lebih dari siswa yang lain. Dari analisa angket sosiometri tersebut dapat ditentukan prioritas siswa yang perlu mendapatkan layanan konseling, yaitu terutama untuk siswa yang memperoleh skore penolakan kategori tinggi

BAB. III
ANALISIS SOSIOMETRI DENGAN SISTEM KOMPUTER

Teknologi dalam bimbingan dan konseling sekarang ini makin dirasakan manfaatnya untuk menunjang pelayanan yang diberikan konselor kepada klien. Teknologi dalam arti kata instrumentasi bimbingan dan konseling perlu dipahami, dikembangkan dan digunakan untuk mencapai manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan klien. Sosiometri sebagai salah satu instrumen non-tes mempunyai implikasi bagi pelayanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu pemahaman, pengembangan, dan praktek sosiometri secara intens oleh setiap konselor, diharapkan memberikan dampak positif kepada klien. Dalam pengolahan hasil angket sosiometri konselor sering mengalami kesulitan, bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu hal ini mungkin menjadi sulit untuk dilakukan. Padahal bila konselor memiliki kemampuan mengoperasikan komputer kini sudah ada software yang dapat digunakan untuk mengolah hasil angket sosiometri , dengan menggunakan software ini analisis hasil angket sosiometri relatif lebih mudah untuk dilakukan dan lebih mempercepat proses.
Software sosiometri dan sosiogram ini penulis buat dalam rangka untuk memudahkan konselor sekolah menganalisa data tentang jaringan hubungan sosial antar individu ( antar pribadi siswa ) dalam suatu kelompok. Software sosiometri dan sosiogram ini kami buat melalui dua paduan program yaitu Microsoft Excel untuk analisa indeks, grafik, dan lain-lain serta Microsoft Accses yang kami temukan dalam web Internet Konseling Indonesia untuk pembuatan sosiogram.

Agar software ini bisa dipakai maka ikutilah beberapa petunjuk di bawah ini :

1. Install dulu software sosiogram ke dalam PC atau laptop anda, langkahnya :

CARA 1 :
a. Klik folder BOX 2 ( SOSIOGRAM ), klik SOSIOGRAM INST, pilih dan klik 2x file Setup ( icon / gambar komputer )
b. Muncul kotak dialog Sociogram Setup.( Welcome to the sociogram installation program ), klik OK
c. Muncul kotak dialog Sosiogram Setup. ( Begin the installation by clicking the button below ). Klik Kotak bergambar Komputer
d. Lalu muncul kotak dialog Sosiogram – ( Choose program group ) Klik Continue
e. Muncul kotak dialog Version conflict, klik Yes, Klik Yes. Lalu terjadi proses menginstall
f. Terakhir muncul kotak dialog Sosiogram Setup ( Sociogram Setup was completed succesfully ). Klik OK

CARA 2 :
a. Klik folder BOX 2 ( SOSIOGRAM ), pilih dan klik 2X SOSIOGRAM SETUP ( Gambar kotak warna merah, biru dan hiaju terikat ), lalu muncul kotak dialog SOSIOGRAM SETUP.Zip.winRAR
b. Pilih dan klik 2X setup.exe
c. Lalu muncul kotak dialog Sociogram Setup.( Welcome to the sociogram installation program ), klik OK
d. Muncul kotak dialog Sosiogram Setup. ( Begin the installation by clicking the button below ). Klik Kotak bergambar Komputer
e. Lalu muncul kotak dialog Sosiogram – ( Choose program group ), Klik Continue
f. Muncul kotak dialog Version conflict, klik Yes, Klik Yes. Lalu terjadi proses menginstall
g. Terakhir muncul kotak dialog Sosiogram Setup ( Sociogram Setup was completed succesfully ). Klik OK
h. Keluar / Exit dari kotak dialog Sosiogram Setup. Zip win RAR.

2. Cek dulu apakah Program Sosiogram sudah terinstall di Komputer / Laptop anda ?
Sebagai bukti bahwa Software Sosiogram telah terinstall ke PC atau Laptop anda, maka anda bisa :
- Mengeceknya di windows explore Drive C: pada folder Program File, temukan folder sociogrm
- Atau klik Start, sorot All Program lalu cari Program Sociogram.
Akan terlihat seperti gambar sbb :

Kalau Program Sociogram sudah ada di komputer / Laptop anda, berarti anda telah sikses menginstall program sociogram dan selanjutnya Program siap digunakan.

3. Selanjutnya kita bisa menggunakan Program Aplikasi Sosiometri ini.
Klik Folder BOX 1 ( SOSIOMETRI ), pilih nama file APLIKASI SOSIOMETRI ( MASTER ), Lalu muncul Menu Utama yang memuat tampilan seluruh isi dari file ini. Untuk memudahkan pengoperasian, File ini kami susun dalam 12 ( Dua Belas Sheet ), yang masing – masing sheet bisa di akses melalui HALAMAN MUKA / MENU, cukup dengan meng “KLIK” kotak Link halaman yang akan dibuka. Berikut kami jelaskan masing – masing Sheet / halaman yang ada di file ini :

MENU
Halaman ini berisi daftar isi dari seluruh file yang ada. Apabila Bapak / Ibu ingin menuju ke halaman tertentu, cukup meng “KLIK” pada kotak pilihan.
PETUNJUK OPERASIONAL
Bagian ini memuat petunjuk umum penggunaan alat ini. Apabila Bpk / Ibu mengalami kesulitan Dalam penggunaan alat ini, barangkali lewat bagian ini Bpk / Ibu bisa mendapatkan petunjuk pengoperasian alat ini.

ANGKET SOSIOMETRI
Berisi contoh angket sosiometri, bisa langsung dicetak / print dengan terlebih dahulu mengedit bagian-bagian yang perlu diganti.

TABULASI
Bagian ini merupakan bagian inti pertama pekerjaan yang harus Bapak / Ibu laksanakan. Dinamakan bagian inti pertama karena hanya dibagian ini pertama anda bekerja memasukkan data dan selebihnya data pada bagian yang lain akan terisi / terproses dengan sendirinya.
Setelah angket sosiometri diisi saswa, Bapak / Ibu bisa langsung memasukkan datanya ke sheet tabulasi ini.
- Ketikan nama-nama siswa satu kelas yang akan dianalisa, akhiri setiap pengetikan nama dengan tanda , ( koma ). Untuk mempercepat proses kerja, Bapak / Ibu bisa mengcopy daftar nama dari file lain, dan jangan lupa setiap akhir nama diberi tanda , ( koma )
- Ketik satu persatu hasil angket sosiometri dengan kode : Pilihan Pertama dengan kode angka 1, Pilihan Kedua dengan kode angka 2, Penolakan Pertama dengan kode angka 3 dan Penolakan Kedua dengan kode angka 4

INDEKS PEMILIHAN
Memuat indeks status pemilihan ( Choice Status / CS ) yang secara otomatis akan terisi bila data sudah dima-sukkan ke Tabulasi. Demikian juga grafiknya yang terletak di sebelah kanannya, akan muncul sendiri. Dari tabel dan grafik yang muncul, anda bisa menafsirkan / melihat siswa – siswa yang memperoleh indeks CS dalam kategori tinggi, yang bisa diterjemahkan bahwa siswa – siswa tersebut tergolong favirit di kelompok / kelasnya.
Anda juga bisa melihat peringkat / ranking siswa yang memperoleh indeks CS tinggi. Karena sheet ini terprotek untuk melindungi terhapusnya rumus – rumus paten, maka terlebih dahulu anda harus membuka proteknya, caranya :
- Munculkan Toolbars Proteksion, klik Unprotect Sheet, pada kotak Pasword ketik SOSIO
- Protect sudah terbuka, klik tanda panah filter pada kotak SCORE, lalu klik pilihan yang dikehendaki.
- Misalnya anda mau melihat 10 siswa teratas atau yang memiliki indeks tinggi, anda bisa memilih ( Top 10 ), untuk mengembalikan ke bentuk semula pilih All.
- Kalau sudah selesai sebaiknya sheet / lembar kerjanya diprotect lagi, klik toolbars protect sheet, lalu isi pasword yang sama ketika anda membuka, yaitu SOSIO.

INDEKS PENOLAKAN
Memuat indeks status penolakan ( Rejektion Status / RS ) yang secara otomatis akan terisi bila data sudah dimasukkan ke Tabulasi. Demikian juga grafiknya yang terletak di sebelah kanannya, akan muncul sendiri. Dari tabel dan grafik yang muncul, anda bisa menafsirkan / melihat siswa – siswa yang memperoleh indeks RS dalam kategori tinggi, yang bisa diterjemahkan bahwa siswa – siswa tersebut tergolong dibenci atau terisolir di kelompok / kelasnya. Anda juga bisa melihat peringkat / ranking siswa yang memperoleh indeks RS tinggi. Lakukan langkah yang sama seperti pada INDEKS PEMILIHAN

INDEKS PEMILIHAN DAN PENOLAKAN ( CRS )
Memuat indeks status pemilihan danpenolakan ( CRS ) yang secara otomatis akan terisi bila data sudah dimasukkan ke Tabulasi. Demikian juga grafiknya yang terletak di sebelah kanannya, akan muncul sendiri. Anda juga bisa melihat peringkat / ranking siswa yang memperoleh indeks CRS tinggi. Lakukan – langkah yang sama seperti pada INDEKS PEMILIHAN

KARTU SOSIOMETRI
Berisi contoh kartu sosiometri, bapak / ibu bisa mengetahui profil masing-masing siswa dengan cara mengetik nomor absen siswa yang ingin diketahui profilnya.

PINTU SOSIOGRAM
Pada bagian ini merupakan pekerjaan utama kedua anda, karena di bagian ini anda harus memproses data untuk membuat sosiogram.
Anda tinggal mengklik kotak KE SOSIOGRAM, ada 2 ( dua pilihan ) pintu masuk ke Sosiogram ini, yaitu :

A. KE SOSIOGRAM LINK 1 : Ini artinya sosiogram yang anda kerjakan akan tersambung di link sosiogram yang terdapat di folder BOX 2 ( SOSIOMETRI ) di flash atau drive data anda. Hasil proses pengerjaan sosiogram akan tersimpan di folder atau drive tersebut, sehingga nantinya hasil kerja bisa dibuka di komputer manapun yang sudah terinstall program sosiogram ini tentunya

AGAR LINK 1 INI BERFUNGSI, PINDAHKAN DULU SEMUAI ISI FILE DI CD INI KE PC / LAPTOP / FLSH DISK ANDA. SEBAB KALAU TIDAK AKAN ERROR, KARENA DATA DI CD BERSIFAT READ ONLY

Cara memindahkan :
– Klik kanan folder AI SOSIOMETRI, Sorot Send To , lalu klik My Document atau flash anda.
Apabila saat anda menggunakan LINK 1 ini mengalami Error, lakukan langkah – langkah berikut :
- Letakkan Kursor di kotak KE SOSIOGRAM LINK 1
- Klik menu Insert, klik hyperlink
- Muncul kotak dialog insert hypelink, Isi kotak Look In dg cara : Klik AI SOSIOMETRI, Klik 2x Folder BOX 2 ( SOSIOGRAM ), Klik 2x folder SOSIOGRAM LINK, sorot file sosiogram yang bergambar , lalu Klik OK.
- Set Ulang bentuk Tulisan ( Font ) KE SOSIOGRAM LINK 1 sesuai selera anda.

B. KE SOSIOGRAM LINK 2 : Ini artinya sosiogram yang anda kerjakan akan tersambung di link sosiogram yang terdapat di drive C : folder Program File di komputer / laptop anda. Hasil proses pengerjaan sosiogram hanya akan tersimpan di komputer / laptop anda, sehingga nantinya hasil kerja hanya bisa dibuka di komputer atau laptop anda dan tidak bisa dibuka di komputer lain karena tidak tersimpan di flash disk anda.
Pilih dan KLIK LINK yang anda kehendaki, lalu muncul kotak dialog opening file Sosiogram, klik OK nanti akan muncul Stratform Sosiogram, Klik File lalu muncul kotak dialog berikut :

Ada 3 pilihan menu : – New Project : untuk membuat sosiogram baru
- Load existing project : untuk membuka sosiogram yang sudah pernah dibuat
- Exit : untuk keluar
Kalu anda membuat sosiogram baru, pilih New Project, nanti akan muncul kotak dialog sbb :

Isi kotak dialog dengan contoh isian sbb :
 Criterion : Data soiometri pemilihan teman 1 kelas ATAU Data sosiometri penolakan teman 1 kelas
 Criterion Type :
- Pilih Positive : Untuk sosiometri pemilihan teman
- Pilih Negative : Untuk sosiometri penolakan teman
- Pilih Both : Untuk sosiometri pemilihan dan penolakan teman
 Reference Name : diisi nama kelas ( misal Kelas 9 A ) Atau kalau kita mau membuat secara terpisah antara pemilihan dan Penolakan, maka Reference Name diisi misal : Pemilihan Kelas 9A. atau Penolakan Kelas 9 A.
 Group Size : diisi jumlah siswa dalam 1 kelas / kelompok ( misal 40 )

 Maximum Number of Choice Allowed ( 1 – 10 ) : diisi jumlah pilihan / penolakan ( misal 2 )
Lalu klik OK, nanti akan muncul daftar isian sbb :

Isikan pada kotak data pilihan persiswa dengan mengetikkan nomor absen siswa yang dipilih/ditolak. Untuk memudahkan kerja anda, sebaiknya data yang sudah anda kerjakan di sheet TABULASI Dicetak / diprint terlebih dahulu.
Setelah terketik semua, anda harus menyimpan terlebih dahulu, Klik File , pilih Save Data, muncul kotak dialog, lalu klik OK
Selanjutnya anda bisa menampilkan Sosiogramnya, Klik Plot Sosiogram, muncul beberapa pilihan bentuk sosiogram ( Circle, Random, Square dan Target )

Kalau anda memilih bentuk Circle maka tampilannya sbb :

Anda bisa langsung mencetak Sosiogram yang sudah jadi tersebut. Karena di Sosiogram yang sudah jadi tersebut tidak muncul topik atau nama sosiogram, maka terlebih dahulu anda harus mencetak / membuat Label Sosiogram dulu. Hasil print out label sosiogram tadi lalu digunakan lagi untuk mencetak / print sosiogram. Contoh Label Sosiogram bisa anda lihat pada file LABEL SOSIOGRAM di CD ini.

ANALISA HASIL
Memuat kesimpulan hasil pengolahan data sosiometri. Untuk mengisi ini anda bias melihat grafik indeks atau dengan cara meranking / filter tabel indeks pemilihan ( CS ) maupun indeks penolakan ( RS ). Block dan copy nama siswa yang memperoleh indeks CS dan RS dalam kategori tinggi. Dan pastekan di sheet Analisa Hasil ini.

SATKUNG
Berisi Satuan Pendukung dari Aplikasi Instrumentasi Sosiometri ini. Anda bisa merubah bagian-bagian yang dipandang perlu

DATA PENYUSUN
Berisi keterangan data diri penyusun, anda bisa menyampaikan kritik dan saran terhadap kekurangan – kekurang yang terdapat dalam Aplikasi Sosiometri ini.

BAB. IV
PENUTUP

Kemajuan teknologi menjadi tantangan di masa depan bagi konselor dalam menjalankan amanah profesi. Kondisi ini nyata memberi dampak pada lingkungan kerja konselor, untuk itu bukan suatu tindakan yang bijak jika konselor menghindari keadaan ini. Apabila konselor memiliki kemampuan di bidang teknologi komputer ini menjadi sebuah nilai tambah positif. Namun kemampuan yang dimiliki diharapkan tidak hanya sekedar pengetahuan kognitif konselor saja tetapi disertai dengan sikap positif terhadap kemampuan yang dimilikinya. Apabila profesi konselor ingin setara dengan profesi lain misalnya dokter; dalam prakteknya dokter pun sangat dekat dengan peralatan berteknologi canggih, maka setidaknya konselor juga akrab dengan teknologi canggih dalam prakteknya kalau ingin profesinya setara dengan dokter.
Konselor sangat perlu untuk terus menambah pengetahuan dan keterampilan secara personal untuk kepentingan praktek profesinya. Kenyataannya saat ini masih banyak konselor yang belum mahir dalam menguasai perangkat komputer, ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjawab kenyataan dilapangan.
Dalam kegiatan analisis instrumentasi, hendaknya sedini mungkin konselor mulai menggunakan komputer sebagai upaya profesionalitas kerja konselor, misalnya dalam analisis data pada angket sosiometri sebagaimana dibahas pada makalah ini. Sistem analisis sosiometri yang penulis susun ini belumlah sempurna, kalau konselor yang lain mau lebih aktif menekuni system computer, bukannya tidak mungkin bisa menyusun / mengkreasi lebih baik dari apa yang penulis susun ini. Untuk itu kritik, saran dan masukan sangat penulis harapkan dari para pemerhati semua.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, G. 1991. Theory and practice of counseling and psychoteraphy. California: Brooks/Cole Publishing Company.

General information about sociometry: Sociometry. http://www.asgp.org/soc2.htm (15 Des. 2001).

Hale, Ann E. (1985) Conducting Clinical Sociometric Explorations: A Manual . Roanoke, Virginia: Royal Publishing Company.

Hoffman, Chris, Wilcox, L., Gomez, E. & Hollander, C. (1992). Sociometric Applications in a Corporate Environment, Journal of Group Psychotherapy, Psychodrama & Sociometry, 45 , 3-16.

Hollander, Carl E. (1978) An Introduction to Sociogram Construction. Denver, Colorado: Snow Lion Press, Inc. Available at the Colorado Psychodrama Center, 350 South Garfield, Denver CO, 303-322-8000.Hoffman, C. 2001. Introduction to sociometry. Sociometry. http://www.hoopandtree.org /sociometry. htm (15 Des. 2001).

http://www.blatner.com/adam/pdntbk/sociomnotes.htm

Mastur, Drs. ( 2009 ) : Laporan Program Dan Praktik Aplikasi Instrumentasi Bimbingan dan Konseling. FIP , BK / PPK Universitas Negeri Semarang.

Moreno, Jacob Levy (1934, Revised edition 1953). Who Shall Survive? Beacon, NY: Beacon House.

Moreno, Jacob Levy (1960). The Sociometry Reader . Glencoe, Illinois: The Free Press.

Northway, Mary L. (1967). A Primer of Sociometry . Toronto: University of Toronto Press.Popin Dictionary Home Page. 2001. Sociometric technics. http://www.popin.org/~undpterm/files/data/eng02028.htm (15 Dec. 2002).

Popin Dictionary Home Page. 2001. Sociometric technics. http://www.popin.org/~undpterm/files/data/eng02028.htm (15 Dec. 2002).

Quantative methods in public administation: Sociometry and network analysis. http://www2.chass.nscu.edu/garson/pa765/sociometry.htm. (15 Dec. 2001)

Rahardjo, S. 2005. Analisis Sosiometri (Implikasinya dalam Bimbingan dan Konseling). Makalah disajikan dalam Workshop Konvensi Nasional XIV dan Kongres Nasional X Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) di Semarang: 13 s.d. 16 April 2005

Sociometry Basic. http://www.thesociometry.com/sociometry.html #sociometry. (15 Dec. 2001).

Susanto, Eko. S.Pd. Pengolahan Sosiometri dengan Aplikasi Komputer. Makalah disajikan dalam Kongres Nasional XI Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) di Surabaya: 15 s.d. 17 Nopember 2009

By ekoendriwiyonowordpress

Sosiometri

SOSIOMETRI
( Oleh : Drs. Mastur, Kons. }

Sosiometri merupakan teknik yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai hubungan sosial dan tingkah laku sosial siswa. Dengan teknik ini dapat diperoleh data tentang suasana hubungan antar individu, struktur dan arah hubungan sosial. Gambaran suasana hubungan sosial yang diperoleh dengan sosiometri disebut sosiogram. Dari data sosiometri individu dapat diketahui keluasan dan kedalaman pergaulan (keintiman pergaulan), status pemilihan atau penolakan sesama teman, dan popularitas dalam pergaulan.

Fungsi dari sosiometri
a. Sebagai alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu dengan dasar terhadap relasi sosial dan status dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan.
b. Sebagai alat untuk memperbaiki hubungan insani (human relation) diantara anggota-anggota kelompok tertentu.
c. Dapat digunakan untuk menentukan kelompok kerja.
d. Dapat digunakan untuk meneliti kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk suatu kegiatan tertentu.

Cara Pengerjaan Sosiometri
a. Siswa diberi daftar isian/angket sosiometri dan diminta untuk menuliskan identitas dirinya.
b. Konselor memberikan penjelasan maksud dan tujuan dari angket sosiometri, dan menjelaskan petunjuk pengisiannya.
c. Konselor mempersilahkan kepada siswa untuk mengisi angket sosiometri, yaitu dengan cara menuliskan teman yang paling disukai dan yang paling tidak ia sukai disertai alasan-alasannya.
d. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan kerahasiaan terhadap semua jawabannya
e. Menginformasikan bahwa hasil angket sosiometri ini akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan (bantuan) pada siswa.

Pengolahan Hasil
Pengolahan hasil Instrumen sosiometeri mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut :
a. Siapkan tabel sosiometri yang berisikan nama pemilih / penolak dan nama yang dipilih / ditolak dalam satu kelas.
b. Masukkan data yang diperoleh dari angket sosiometri ke dalam tabel tersebut dengan ketentuan angka 1 untuk pilihan pertama ( 1 ) angka 2 untuk pilihan kedus ( 2 ), angka 3 untuk penolakan pertama ( 3 ) dan angka 4 untuk penolakan kedua ( 4 ), sehingga akan tampak skor pilihan dengan rumus jumlah angka 1 ditambah jumlah angka 2 serta skor penolakan dengan rumus jumlah angka 3 ditambah jumlah angka 4..
c. Dari tabulasi yang ada dituangkan dalam tebel varian pilihan ( Cs ) untuk mengetahui indeks pilihan dengan rumus :
SKOR
( N x p )
N : Jumlah Responden
P : Jumlah Pilihan
d. Selanjutnya dituangkan dalam tebel varian penolakan ( Rs ) untuk mengetahui indeks penolakan dengan rumus :
SKOR
X – 1
( N x p )

N : Jumlah Responden
P : Jumlah Penolakan
e. Selanjutnya dituangkan lagi dalam tebel varian pemilihan dan penolakan ( CRs ) untuk mengetahui indeks pemilihan dan penolakan dengan rumus :
SKOR Pemilihan + SKOR Penolakan

( N x q )

N : Jumlah Responden
q : Jumlah Pemilihan dan Penolakan
f. Dari tabulasi yang ada dituangkan dalam bentuk sosiogram untuk melihat hubungan antar individu dalam kelompok tersebut.

Penyampaian Hasil
Hasil dari pengolahan Instrumentasi perlu disampaikan kepada fihak-fihak yang terkait secara langsung dengan responden. Dalam penyampaian hasil instrumentasi ini tetap harus menjaga kerahasiaan, tidak boleh disampaikan/diumumkan secara terbuka dan dijadikan pembicataan umum.
Dalam forum khusus, hasil instrumentasi dapat dijadikan topik bahasan/diskusi, namun tetap harus menjaga kerahasiaan responden (tidak menyebut nama responden).
Dari keseluruhan penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini hasil yang diperoleh disampaikan kepada masing-masing responden, dalam bentuk Profil Individual, sedangkan kepada Guru bimbingan dan konseling/Kepala Sekolah diberikan Data rekap dan data pendukung lainnya, sebagai bahan untuk pemberian layanan lebih lanjut.
Penyampaian hasil instrumentasi kepada masing-masing responden akan lebih baik apabila disampiakan secara individual, sehingga konselor dapat berkomunikasi dan menjelaskan isi dari laporan hasil instrumentasi yang akan diberikan dalam bentuk format individual, dan sekaligus bagi siswa yang memiliki permasalahan dapat diberikan penjelasan untuk langkah-langkah tindak lanjut berikutnya

IMPLIKASI HASIL APLIKASI INSTRUMENTASI DALAM PELAYANAN KONSELING
Hasil Aplikasi Instrumentasi pada hakekatnya dapat diaplikasikan dalam seluruh spektrum kegiatan pelayanan konseling, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian dan pengembangannya. Bahkan memungkinkan kegiatan Aplikasi Instrumentasi ini merupakan langkah yang menentukan dalam penentuan pemberian layanan konseling
Secara umum Implikasi hasil Aplikasi Instrumentasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Perencanaan Program Konseling.
Penyusunan program layanan konseling di sekolah, baik program tahunan maupun semesteran seharusnya didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil ulangan/ujian, bakat dan minat serta kecenderungan siswa, dan data lainnya yang kesemuanya terkumpul dalam kegiatan Need Assessment..
Hasil Aplikasi Instrumentasi secara jelas telah menunjukkan berbagai data yang menyangkut kondisi responden, maka akan ditemuka Need Assessment sebagai dasar penyusunan/perencanaan Program Konseling. Dengan data yang lengkap dari Aplikasi Instrumentasi ini dapat dirumuskan Program Konseling secara menyeluruh, untuk setiap kelas, dengan mengacu kepada kebutuhan siswa, baik perorangan maupun kelompok. Pada intinya untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling direncanakan berdasarkan data hasil Need Assessment.

2. Penetapan Peseta Layanan
Berdasarkan data hasil instrumentasi, Konselor dapat menetapkan individu yang perlu mendapat layanan konseling, baik layanan dengan format klasikal, kelompok maupun individual. Kegiatan dengan format lapangan dan “politik” bagi klien tertentupun dapat direncanakan oleh Konselor dengan mendasarkan pada hasil Aplikasi Instrumentasi ini.

3. Sebagai Isi Layanan
Data yang terungkap dari penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini dapat pula menjadi isi dari layanan konseling.Hal ini disebabkan karena dalam penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi khususnya yang mengungkap tentang hubungan sosial (sosiogram), inteligensi, bakat dan minat dapat dijadikan sebagai isi layanan Untuk hal ini diperlukan kecermatan Konselor dalam melihat relevansi antara hasil Aplikasi Instrumentasi dengan kebutuhan Klien dan menggunakannya secara tepat, dengan senantiasa menerapkan asas kerahasiaan sebagaimana mestinya.

4. Tindak lanjut Layanan
Hasil instrumentasi, khususnya hasil evaluasi (laiseg, laijapen dan laijapang) dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi upaya tindak lanjut pelayanan terhadap klien. Kecermatan Konselor terhadap kesesuaian antara hasil evaluasi dan upaya tindak lanjutnya sangat diperlukan.

5. Pengembangan.
Dalam upaya pengembangan layanan konseling, dasar utama yang diperlukan adalah data yang akurat dan handal. Dalam hal ini, data hasil Aplikasi Instrumentasi dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi dapat secara tepat menunjang pengembangan program pelayanan konseling dalam jangka panjang. Dalam hal ini diperlukan berbagai instrumentasi yang komprehensip, dari berbagai kelompok responden dalam jangka waktu yang relatif memadai. Dengan data gabungan tersebut, akan nampak arah pokok yang dapat dijadikan arah dan garis besar pengembangan layanan konseling.
Secara khusus, penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi SOSIOMETRI yang telah dilaksanakan, implikasinya dalam layanan konseling dapat dijelaskan sebagai berikut :
Hasil analisis sosiogram akan membantu konselor dalam memahami hubungan sosial dan hubungan individu yang berlangsung dalam suatu kelompok. Dari hasil tersebut akan tampak individu-individu yang memerlukan bantuan layanan konseling secara perorangan maupun kelompok.
Setalah hasil angket sosiometri dianalisa akan tampaklah gambaran hubungan sosial dalam kelompok siswa, yaitu siswa-siswa yang memiliki hubungan sosial yang tinggi dengan melihat skore pemilihan dan juga akan tampak siswa-siswa yang memiliki hubungan social rendah atau terisolir. Dari gambaran ini konselor sekolah dapat merencanakan layanan-layanan apa yang tepat bagi mereka. Terutama untuk siswa-siswa yang memiliki hubungan sosial rendah atau terisolir, konselor harus memberikan perhatian lebih dari siswa yang lain.
Dari analisa angket sosiometri di atas dapat ditentukan prioritas siswa yang perlu mendapatkan layanan konseling, yaitu terutama untuk siswa yang memperoleh skore penolakan kategori tinggi.

By ekoendriwiyonowordpress

ASESMEN MASALAH KONSELI

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
2009

KATA PENGANTAR

Materi dalam modul ini dimaksudkan untuk membelajarkan para peserta diklat PLPG dengan keterampilan asesmen masalah konseli, Asesmen ini merupakan suatu proses mengklasifikasikan masalah klien dan faktor-faktor penyebabnya ke dalam kategori-kategori tertentu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan utuh tentang masalah tersebut dan dalam rangka menyediakan data yang obyektif guna pengambilan keputusan tentang teknik, strategi, atau pendekatan intervensi. Oleh karena itu, proses asesmen pada dasarnya mengandung kegiatan pengumpulan informasi dan diagnosis atau analisis. Dengan kata lain, asesmen merupakan proses untuk mengumpulkan informasi yang akurat guna mengembangkan hipotesis tentang masalah klien dan strategi. Dalam lapangan teori dan praktek konseling, kegiatan mengungkap masalah klien beserta dengan berbagai faktor yang menyebabkannya disebut asesmen masalah (problem assessment). Asesmen dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik atau prosedur dan wawancara merupakan salah satunya. Wawancara yang digunakan untuk mengungkap masalah klien disebuat wawancara asesmen. Jadi, wawancara asesmen merupakan salah satu bagian dalam proses keseluruhan.
Dalam hubungannya dengan proses konseling secara keseluruhan, wawancara asesmen berkaitan dengan (merupakan salah satu prosedur) proses identifikasi masalah, analisis masalah, dan pengembangan pendekatan atau strategi intervensi (konseling). Wawancara asesmen juga memiliki keterkaitan yang erat dengan ketrampilan dasar konseling, sebab untuk dapat melaksanakan proses wawancara asesmen dengan berhasil, setiap konselor perlu telah menguasai ketrampilan-kterampilan dasar konseling yang meliputi ketrampilan merawat atau mengurus klien (attending) , ketrampilan mendengarkan (listening responses), ketrampilan mengarahkan (action responses), dan ketrampilan mengkomunikasikan kondisi fasilitatif atau ketrampilan sikap yang meliputi empati, kesungguhan atau ketulusan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada keunikan klien. Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan dalam proses wawancara asesmen merupakan salah satu bentuk ketrampilan dalam proses asesmen atau identifikasi masalah yang dipengaruhi oleh tingkat penguasaan ketrampilan dasar konseling dan akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses analisis, pengembangan hipotesis, dan perancangan program bantuan.

Untuk dapat mencapai kompetensi yang diharapkan tersebut, para peserta diklat diinstruksikan untuk mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran dengan aktif khususnya melakukan hal-hal berikut:
1. Mengikuti kegiatan belajar tatap muka di kelas.
2. Menanyakan atau meminta penjelasan kepada instruktur jika terdapat istilah, konsep, dan kalimat dalam modul ini yang tidak jelas, atau penjelasan instruktur yang kurang jelas.
3. Mengerjakan seluruh soal latihan yang terdapat dalam modul.
4. Melaksanakan tugas-tugas praktek yang diberikan oleh instruktur dan mempraktekkan semua jenis ketrampilan yang sudah dipelajari.
5. Meminta umpan balik kepada teman/kolega/instruktur berkenaan dengan tingkat ketepatan dalam mempraktekkan keterampilan-keterampilan.

____________________________________

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

I. KONSEP ASESMEN …………………………………………………………………………………2
1.1 Pengertian Asesmen Masalah dalam Proses Konseling ………………………………..2
1.2 Tujuan asesmen dalam Konseling………………………………………………………………3
1.3 Wawancara Sebagai Pendekatan dalam Asesmen…………………………………………4

II. WAWANCARA ASESMEN KOGNITIF PERILAKU………………………………….7
2.1 Batasan dan Konsep …………………………………………………………………………………7
2.2 Asumsi-Asumsi dalam Pendekatan Kognitif-Perilaku…………………………………..7
2.3 Sasaran dalam Wawancara Asesmen kognitif-Perilaku ………………………………10
2.3.1 Riwayat kasus………………………………………………………………………………………10
2.3.2 Sebelas kategori informasi …………………………………………………………………… 11
2.3.2.1 Menjelaskan tujuan asesmen………………………………………………………………. 11
2.3.2.2 Identifikasi cakupan masalah klien……………………………………………………….12
2.3.2.3 Menetapkan prioritas dan memilih isu dan masalah klien………………………..12
2.3.2.4 Identifikasi komponen masalah ………………………………………………………….13
2.3.2.5 Identifikasi anteseden ………………………………………………………………………..16
2.3.2.6 Identifikasi konsekuensi……………………………………………………………………..18
2.3.2.7 Identifikasi payoff ……………………………………………………………………………..20
2.3.2.8 Identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan………………………….21
2.3.2.9 Identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah……………………………21
2.3.2.10 Identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya ……………….21
2.3.2.11 Identifikasi intensitas masalah …………………………………………………………..21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………. 23

TUJUAN
Umum:
Modul ini, dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar pada para calon konselor untuk mengembangkan dirinya dalam bidang praktek konseling, khususnya untuk menerapkan keterampilan-keterampilan dasar konseling dalam proses wawancara asesmen.

Khusus:
Secara khusus, setelah mempelajari buku ini setiap mahasiswa calon konselor diharapkan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan keterampilan wawancara asesmen dalam proses konseling, hubungannya dengan kegiatan identifikasi masalah dan pengembangan strategi intervensi.

DESKRIPSI UMUM
Asesmen ini, merupakan suatu proses mengklasifikasikan masalah klien dan faktor-faktor penyebabnya ke dalam kategori-kategori tertentu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan utuh tentang masalah tersebut dan dalam rangka menyediakan data yang obyektif guna pengambilan keputusan tentang teknik, strategi, atau pendekatan intervensi. Oleh karena itu, proses asesmen pada dasarnya mengandung kegiatan pengumpulan informasi dan diagnosis atau analisis. Dengan kata lain, asesmen merupakan proses untuk mengumpulkan informasi yang akurat guna mengembangkan hipotesis tentang masalah klien dan strategi intervensi atau program perlakuannya.
—000000000OOOO000000000—

I. KONSEP ASESMEN

1.1. Pengertian Asesmen Masalah dalam Proses Konseling
Dalam lapangan teori dan praktek konseling, kegiatan mengungkap masalah klien beserta dengan berbagai faktor yang menyebabkannya disebut asesmen masalah (problem assessment). Asesmen dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik atau prosedur, tes dan nontes, wawancara merupakan salah satunya. Wawancara yang digunakan untuk mengungkap masalah klien disebuat wawancara asesmen. Jadi, wawancara asesmen merupakan salah satu bagian dalam proses keseluruhan.
Dalam hubungannya dengan proses konseling secara keseluruhan, wawancara asesmen berkaitan dengan (merupakan salah satu prosedur) proses identifikasi masalah, analisis masalah, dan pengembangan pendekatan atau strategi intervensi (konseling). Wawancara asesmen juga memiliki keterkaitan yang erat dengan ketrampilan dasar konseling, sebab untuk dapat melaksanakan proses wawancara asesmen dengan berhasil, setiap konselor perlu telah menguasai ketrampilan-kterampilan dasar konseling yang meliputi ketrampilan merawat atau mengurus klien (attending) , ketrampilan mendengarkan (listening responses), ketrampilan mengarahkan (action responses), dan ketrampilan mengkomunikasikan kondisi fasilitatif atau ketrampilan sikap yang meliputi empati, kesungguhan atau ketulusan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada keunikan klien.
Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan dalam proses wawancara asesmen merupakan salah satu bentuk ketrampilan dalam proses asesmen atau identifikasi masalah yang dipengaruhi oleh tingkat penguasaan ketrampilan dasar konseling dan akan mempengaruhi keberhasilan dalam proses analisis, pengembangan hipotesis, dan perancangan program bantuan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang pengertian asesmen, berikut ini diberikan definisi asesmen menurut beberapa ahli:
Cormier & Cormier (1991) mendefinisikan asesmen masalah sebagai suatu proses mengumpulkan dan mengolah informasi dengan menggunakan berbagai prosedur dan alat sebagai dasar untuk mengembangkan program bantuan/konseling. Ahli lain, Goldenberg (1983) mendefinisikan asesmen masalah sebagai suatu upaya untuk memperoleh suatu gambaran tentang kekuatan, aset, dan kemampuan adaptif, di samping kelemahan, kekurangan, dan perilaku menyimpang klien agar diperoleh suatu pemahaman yang memadai tentang masalah klien baik dalam hubungannya dengan dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan konteks sosial yang lebih luas.
Sedangkan Sundberg (1977) memberikan pengertian asesmen sebagai suatu proses yang digunakan oleh konselor untuk mengembangkan kesan dan citra tentang klien, membuat keputusan dan memeriksa hipotesis tentang pola dan karakteristik perilaku klien dan interaksinya dengan orang lain.
Asesmen pada dasarnya merupakan suatu istilah lebih disenangi oleh para ahli klinis belakangan untuk menggantikan istilah diagnosa. Istilah diagnostik itu sendiri aslinya berasal dari bahasa Greek, yakni dia = sebagian, dan gignoskein = mengetahuai. Secara harfiah, diagnosa berarti upaya untuk membedakan ataum melihat dengan jelas (to distinguish) atau untuk mengetahui sebagian (to know apart) (Achenbach, 1982). Sedangkan pengertian yang lebih luas, diagnosa berarti suatu penyelidikan atau analisis tentang sebab atau sifat dari suatu kondisi, situasi, atau masalah, dan suatu pernyataan atau kesimpulan berkenaan dengan sifat atau sebab dari beberapa gejala (Woofl, 1977). Konselor yang menguasai keterampilan asesmen akan lebih mungkin dapat bertindak lebih efektif dalam proses terapeutik, khususnya untuk mengenali dan menetapkan masalah klien.

1.2. Tujuan asesmen dalam Konseling
Cormier & Cormier (1991), mengemukakan lima tujuan asesmen dalam proses konseling sebagai berikut: (1) Untuk memperoleh informasi yang jelas tentang masalah utama klien dan masalah-masalah lain yang terkait. (2) Untuk mengidentifikasi atau mengenali faktor-faktor atau variabel-variabel yang menyebabkan dan mempertahankan masalah klien. (3) Untuk menetapkan data awal (baseline data) sebagai bahan pertimbangan (kriteria) untuk menetapkan atau menilai kemajuan klien dan keefektifan program perlakuan/intervensi. Penilaian ini penting untuk mengambil keputusan berkenaan dengan apakah strategi atau program intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. (3) Untuk mendidik dan memotivasi klien dengan cara mengkomunikasikan masalah yang telah diidentifikasi atau dikenali kepada klien, mendorong penerimaan atau kesediaan klien untuk menerima program intervensi. (4) Untuk menggunakan informasi yang diperoleh dari klien sebagai bahan pertimbangan guna merancang strategi dan program intervensi yang efektif. Informasi yang diperoleh dari proses asesmen dapat membantu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: macam strategi atau program perlakuan yang manakah yang seharusnya digunakan untuk membantu klien yang memiliki problem ini, siapa yang harus mengadministrasikan, dan di bawah kondisi seperti apa?

1.3. Wawancara Sebagai Pendekatan dalam Asesmen
Asesmen masalah dapat dilakukan melalui pendekatan tes dan non tes baik secara tunggal maupun kombinatif. Namun demikian, untuk memperoleh data yang komprehensif biasanya para ahli merekomendasikan untuk menggunakan berbagai teknik asesmen. Menurut beberapa literatur konseling dan literatur konseling kognitif-perilaku, wawancara merupakan instrumen asesmen masalah yang yang paling tua dan paling banyak digunakan.
Wawancara asesmen didefinisikan sebagai suatu prosedur pertemuan tatap muka antara konselor dan klien untuk tujuan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang masalah klien, atau cara untuk mengidentifikasi dan membatasi masalah klien sebagai dasar untuk merancang program bantuan. Wawancara merupakan metode yang menarik dan banyak dipilih untuk digunakan dalam bidang asemen masalah karena familiaritas dan kemudahannya untuk diadaptasikan. Wawancara asesmen bukan hanya sekedar peristiwa pengumpulan fakta, tetapi juga memungkinkan terjadinya pola-pola komunikasi dan berkembangnya hubungan interpersonal yang kondusif antara konselor dan klien.
Dalam proses ini, konselor dan klien bertindak aktif dan saling mempengaruhi satu sama lain. Aspek-aspek hubungan dalam wawancara merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan apakah tujuan wawancara dapat dicapai atau tidak (Wiens, 1976). Dalam hubungan tersebut, konselor harus mengembangkan rapport dengan cara mengkomunikasikan empati, ketulusan atau kesungguhan untuk menolong, dan penerimaan atau penghargaan positif pada klien agar klien menjadi rileks (tidak tegang/cemas) dan mengembangkan rasa percaya pada konselor. Kenyamanan dan kepercayaan klien dalam hubungan tersebut sangat penting, sebab sebelum klien merasa rileks dan percaya pada konselor dan perasaan cemasnya belum bisa diatasi, ia tidak akan mungkin memberikan informasi penting.
Secara khusus, penggunaan wawancara sebagai metode asesmen memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut: (1) Dalam wawancara klien dapat melibatkan pribadinya secara penuh dan keterlibatan pribadi klien dapat memperkuat keinginan untuk berubah. (2) Percakapan dapat terus berlangsung sehingga memungkinkan konselor untuk mengidentifikasi bidang permasalahan klien lebih jauh. (3) Secara tidak langsung klien mulai mengenal dan dapat belajar tentang metode-metode pemecahan masalah yang mungkin akan digunakan pada pertemuan-pertemuan atau hubungan terapeutik yang akan dilaksanakan kemudian.
Agar berhasil dalam mengadministrasikan wawancara asesmen, konselor perlu mengikuti suatu program pelatihan berkenaan dengan keterampilan tersebut (Duley, Cancelli, Kratochwill, & Meredith, 1983). Pelatihan dalam wawancara asesmen memungkinkan konselor menjadi lebih peka terhadap tekanan klien dan cara klien memberikan respon, verbal maupun nonverbal, serta lebih mungkin memperoleh banyak petunjuk guna memahami masalah klien.
Kelebihan-kelebihan dari wawancara asesmen tersebut dapat diperoleh hanya jika konselor mampu mendorong klien untuk terlibat aktif dan memberikan informasi yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya tentang pengalaman, perasaan, pikiran, dan tindakan khususnya yang terkait dengan masalahnya. Jelas bahwa wawancara asesmen bukan hanya sekedar peristiwa pengumpulan informasi, tetapi juga suatu peristiwa sosial yang memungkinkan terjadinya pola-pola komunikasi dan berkembangnya hubungan interpersonal antara konselor dan klien. Dalam proses ini, antara konselor dan klien dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan yang tercipta ini selanjutnya memainkan peran penting untuk menentukan apakah tujuan wawancara dapat atau tidak dapat dicapai. Dengan demikian, kemampuan untuk mengembangkan hubungan interpersonal merupakan keterampilan lain yang perlu dimiliki oleh konselor di samping ketrampilan dalam komunikasi wawancara itu sendiri.

__________________________________________

II. WAWANCARA ASESMEN
KOGNITIF PERILAKU

2.1. Batasan dan Konsep
Wawancara asesmen kognitif perilaku adalah suatu prosedur dalam wawancara asesmen yang menggunakan pendekatan kognitif-perilaku. Menurut perspektif kognitif-perilaku, wawancara dipandang sebagai instrumen asesmen perilaku yang sangat umum (Haynes & Jansen, 1979; Nelson, 1983), dan paling sering digunakan (Keane, black, Collins, & Venson, 1982).

2.2. Asumsi-Asumsi dalam Pendekatan Kognitif-Perilaku
Berikut adalah beberapa asumsi teoretis yang yang digunakan dalam konseling kognitif-perilaku sebagaimana dikemukakan oleh Cormier & Cormier (1991):
(1) Gangguan perilaku merupakan hasil belajar. Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang (tidak adaptif, tidak normal) terbentuk, berkembang, dipertahankan, dan diubah melalui cara-cara yang sama seperti halnya perilaku normal (adaptif). Perilaku adaptif dan tidak adaptif terbentuk dan dipertahankan oleh peristiwa-peristiwa situasional eksternal, oleh penguatan eksternal, atau oleh proses-proses internal seperti kognisi, mediasi, dan pemecahan masalah. Dalam banyak kasus, perilaku menyimpang tidak dipandang sebagai fungsi dari kelainan/sakit fisik atau karena adanya konflik-konflik intrapsikis. Asumsi ini mengimplikasikan bahwa para konselor kognitif-perilaku tidak akan membuang-buang waktu untuk memusatkan perhatian pada kemungkinan kondisi patologis atau konflik-konflik awal yang tak terpecahkan. Namun tidak berarti bahwa konselor kognitif-perilaku mengabaikan adanya kemungkinan sebab organik atau fisiologis pada perilaku meyimpang. Sebagai contoh, klien yang menyatakan “merasa cemas” dan mengeluhkan berbagai bentuk gejala psikosomatis seperti jantung berdebar-debar, sakit perut, sakit dada dan sesak nafas, keluhan-keluhan tersebut perlu diperhatikan hanya setelah klien melakukan pemeriksaan fisik secara medis. Variabel-variabel fisik dapat dieksplorasi jika hasil-hasil asesmen tidak mengindikasikan adanya stimuli tertentu yang menyebabkan terjadinya gangguan perilaku. Perlu juga diakui akan pentingnya melakukan pengelolaan fisiologis untuk menangani masalah perilaku. Misalnya, untuk menangani berbagai keluhan fisik klien sebagaimana disebutkan di atas, dapat diberikan pengobatan (medications) sebagai suplemen intervensi konseling. Penggunaan obat antidepressants sering direkomendasikan dan telah terbukti efektif sebagai tambahan dalam intervensi konseling untuk menangani beberapa bentuk depresi, agoraphobia (suatu gangguan yang ditandai oleh adanya rasa takut ketika sendirian atau ketika di tempat umum), dan beberapa bentuk kecemasan.
(2) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang memiliki banyak sebab, oleh karenanya penanganan/intervensi harus bersifat multidimensional. Jarang sekali ditemukan bahwa suatu masalah perilaku disebabkan oleh hanya satu faktor, dan jarang pula program perlakuan yang diberikan secara tunggal bisa mencapai hasil yang memuaskan. Sebagai contoh, pada klien-klien yang menyatakan depresi mungkin ditemukan adanya kelainan faktor organik (misalnya adanya malfungsi dalam sistem kelenjar adrenalin), kondisi lingkungan yang merusak (ditinggal pergi orang yang dicintai), dan faktor-faktor internal negatif (misalnya adanya pikiran-pikiran yang mencela diri) yang menyebabkan terjadinya gangguan tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan masalah perilaku seringkali bersifat jamak, melibatkan tindakan yang kasat mata, peristiwa-peristiwa lingkungan dan hubungan dengan orang lain, perilaku tidak kasat mata seperti keyakinan, kesan diri, kognisi, perasaan dan sensasi fisik, dan kemungkinan kondisi organik/fisiologis. Suatu program intervensi dapat mencapai hasil yang memuaskan jika diarahkan pada berbagai faktor penyebab tersebut.
(3) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang yang akan ditangani harus dinyatakan secara spesifik atau operasional. Untuk memudahkan arahan intervensi, masalah klien dan beberapa kondisi yang mendukung masalah tersebut harus didefinisikan secara operasional, artinya dinyatakan secara jelas, kongkrit, dan dapat diamati/diukur. Definisi operasional tersebut berfungsi sebagai ukuran, barometer, atau “behavioral anchor.” Definisi operasional menyatakan apa yang dilakukan oleh klien dalam suatu situasi khusus dan bukan merupakan inferensi dari atribut-atribut umum. Sebagai contoh, dalam menangani klien yang menyatakan depresi, konselor harus mengoperasionalkan depresi tersebut dengan cara menemukan perubahan fisik apa yang dialami klien selama depresi, apa yang dipikirkan klien ketika mendapat serangan depresi, dan apa yang dilakukan klien selama periode depresi. Kelebihan dari memandang masalah klien dalam bentuk operasional adalah bahwa konselor dapat menterjemahkan gejala yang samar (tidak jelas) ke dalam perilaku-perilaku spesifik yang dapat diamati. Ini memungkinkan konselor dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang sedang terjadi pada diri klien, serta memperoleh ukuran yang jelas untuk menetapkan kemajuan dan hasil-hasil konseling.
(4) Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang terjadi dalam konteks sosial dan berhubungan secara fungsional dengan anteseden dan konsekuensi internal maupun eksternal. Gangguan perilaku selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang dapat diamati (respon verbal, nonverbal, atau motorik) dan peristiwa-peristiwa yang kurang bisa diamati (pikiran, perasaan, kesan, moods, dan sensasi tubuh) yang menyebabkan dan mempertahankan problem. Anteseden adalah peristiwa-peristiwa yang mendahului gangguan perilaku (misalnya bencana alam, tidak lulus ujian, ditinggal kekasih, sakit berkepanjangan, ketakutan atau kecemasan, tidak/kurang memiliki keterampilan, dsb.), sedangkan konsekuensi adalah peristiwa-peristiwa yang mengikuti gangguan perilaku (misalnya tidak adanya teguran atau sanksi setelah melakukan pelanggaran, memperoleh uang atau perhatian setelah menangis hebat, merajuk, memukul, mengancam, dsb.) yang dipelajari. Sebagai contoh, seorang anak yang tidak mampu untuk bertindak asertif terhadap gurunya mungkin disebabkan oleh (merupakan fungsi) adanya perasaan cemas yang dipelajari, kurangnya keterampilan sosial. Menurut pandangan para teoris kognitif-perilaku, mengubah satu bagian bentuk gangguan berpotensi memberikan efek pada variabel-variabel perilaku yang lain, positif maupun negatif. Oleh karena itu, konselor harus berjaga-jaga atau mempersiapkan dirinya untuk tidak hanya mengantisipasi dampak intervensi pada perilaku yang sedang ditangani tetapi juga dampak lain dari terjadinya perubahan perilaku tersebut.

2.3. Sasaran dalam Wawancara Asesmen kognitif-Perilaku
2.3.1. Riwayat kasus
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang masalah klien dan latar belakangnya, khususnya berbagai faktor dan variabel yang berkaitan dengan masalah atau keluhan klien saat ini. Meskipun beberapa model konseling mungkin mengakui peran kehidupan masa lalu klien sebagai variabel penting yang perlu diungkap dalam proses asesmen (Goldenberg, 1982), dalam konseling kognitif-perilaku peristiwa masa lalu – disebut histori – tidak perlu diperhatikan (diungkap) kecuali ia berkaitan dengan amsalah sekarang (Cormier & Cormier, 1991). Informasi historis tersebut hanya digunakan sebagai bagian dari proses asesmen secara keseluruhan untuk membantu konselor mempertalikan potongan-potongan peritiwa yang berkaitan dengan masalah atau kesulitan hidup klien saat ini. Proses pengumpulan informasi semacam ini disebut “history taking.”
Dalam banyak kasus, history taking terjadi pada proses wawancara wawancara awal yang disebut “intake interview.” Wawancara awal ini tidak mengandung unsur terapeutik melainkan hanya bersifat informasional belaka dan dapat diadministrasikan oleh orang lain selain konselor. Menurut Cormier & Cormier (1985), berbagai macam informasi dapat dihimpun dalam proses history taking tetapi yang paling penting adalah: (1) Informasi tentang klien. (2) Penampilan dan sikap atau cara bertindak secara umum. (3) Peristiwa masa lalu (riwayat hidup) yang berkaitan dengan masalah yang dialami sekarang. (3) Riwayat konseling atau penyembuhan yang pernah dilakukan. (4) Riwayat pendidikan dan pekerjaan.(5) Riwayat kesehatan. (6) Riwayat perkembangan/sosial (termasuk di dalamnya latar belakang dan afiliasi budaya dan agama, nilai dan prinsip hidup, masalah/kesulitan yang pernah dialami, kronologi peristiwa-peristiwa perkembangan, kegiatan sosial dan waktu luang, dan situasi sosial saat terakhir). (7) Riwayat seksual, perkawinan, dan keluarga. (8) Asesmen pola-pola komuniaksi. (9) Hasil-hasil diagnostik/pemeriksaan mental .

2.3.2. Sebelas kategori informasi
Setelah wawancara awal, dilaksanakan wawancara asesmen yang sesungguhnya oleh konselor. Tujuan dari proses wawancara asesmen menurut model konseling kognitif-perilaku dapat dikelompokkan ke dalam sebelas kategori informasi, yakni: (1) penjelasan tujuan asesmen kepada klien, (2) identifikasi cakupan masalah, (3) pengurutan prioritas dan pemilihan masalah klien, (4) identifikasi masalah yang dialami saat ini, (5) identifikasi anteseden, (6) identifikasi konsekuensi, (7) identifikasi payoff, (8) identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan, (9) identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah, (10) identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya, dan (11) identifikasi intensitas masalah. Berikut adalah penjelasan dan contoh dari masing-masing kataegori informasi tersebut (Cormier & Cormier, 1985).
2.3.2.1. Menjelaskan tujuan asesmen
Untuk menjelaskan tujuan asesmen, konselor dapat memberikan suatu rasional (alasan) kepada klien tentang perlunya dilakukan wawancara asesmen (untuk maksud atau tujuan apa). Ini untuk memberikan gambaran dan menumbuhkan harapan pada klien tentang apa yang akan terjadi selama proses wawancara dan mengapa wawancara tersebut perlu dilakukan.
CONTOH:
“Hari ini kita akan membahas berbagai hal yang sedang merisaukan Anda. Agar kita dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang masalah apa yang sebenarnya sedang Anda alami, saya membutuhkan banyak informasi. Informasi itu akan sangat membantu kita untuk menetapkan dengan tegas masalah Anda, faktor-faktor penyebabnya, dan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memecahkanya. Nah, apakah Anda mengerti maksud saya?”
2.3.2.2 .Identifikasi cakupan masalah klien
Dalam kategori ini, konselor menggunakan berbagai ketrampilan dasar konseling, utamanya pertanyaan terbuka, untuk membantu klien mengenali semua isu primer dan sekunder yang berkaitan dengan masalah yang sedang dialaminya sehingga ia dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang masalahnya tersebut. Pada awalnya klien seringkali hanya mengemukakan satu permasalahan, tetapi pada proses selanjutnya konselor dapat menemukan sejumlah masalah lain yang saling berkaitan, bahkan satu atau beberapa di antaranya mungkin justru menjadi masalah utamanya. Jadi, untuk benar-benar dapat memahami masalah klien, konselor prlu memperoleh suatu big picture dari masalah klien tersebut.
CONTOH:
“Masalah atau kesulitan apa saja yang sedang Anda alami?’
“Dapatkah Anda mengatakan berbagai hal yang merisaukan Anda?”
“Dalam situasi atau kondisi apa saja Anda merasa tertekan?”
“Apa ada hal lain lagi yang juga mengganggu Anda?”
2.3.2.3. Menetapkan prioritas dan memilih isu dan masalah klien.
Pada kategori ini konselor menggunakan berbagai ketarampilan dasar konseling atau ketrampilan interpersonal untuk membantu klien membuat prioritas dari berbagai masalah yang sedang dialaminya dan kemudian memilih salah satu di anataranya untuk dijadikan sebagai fokus awal pemecahan. Prioritasisasi ini perlu sebab konselor tidak akan mungkin dapat membantu klien memecahkan semua masalahnya secara serentak. Idealnya, pemecahan masalah diurutkan dari hal yang paling mudah untuyk ditangani. Tetapi untuk beberapa kasus, fokus awal dapat tertuju pada masalah utama atau masalah yang menjadi penyebab timbulnya amsalah lain. Ada kemungkinan, jika masalah utama ini terpecahkan, masalah lain dapat dengan sendirinya ikut tereliminasi.
CONTOH:
“Dari lima masalah yang Anda sebutkan tadi, manakah yang Anda inginkan untuk kita tangani lebih dahulu?”
“Dari seluruh masalah Anda yang telah kita temukan, manakah yang paling merisaukan Anda?”
2.3.2.4. Identifikasi komponen masalah .
Setelah menetapkan fokus masalah apa yang akan ditangani, konselor selanjutnya membantu klien untuk mengidentifikasi komponen-komponen dari permasalahannya. Pada kategori ini, dengan menggunakan berbagai bentuk ketrampilan dasar konseling, konselor berusaha membantu klien untuk mengenali enam komponen masalah yang sedang dialaminya, yakni: afektif, somatik, perilaku, kognitif, kontekstual, dan relasional.
Afektif. Komponen afektif meliputi mood atau perasaan-perasaan atau seperti: cemas, depresi, ketidakbahagiaan, dsb. Perasaan-perasaan ini pada umumnya merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara proses-proses biologis, perilaku, dan kognitif.
Sensasi somatik. Berkaitan erat dengan perasaan adalah sensasi somatik atau perasaan tubuh. Beberapa klien sangat menyadari pengalaman internal ini, dan beberapa klien lain tidak menyadarinya. Reaksi-reaksi somatik ini memiliki kaitan erat dengan berbagai gangguan seperti mal fungsi seksual, kecemasan, dan depresi. Beberapa klien mungkin menyatakan masalahnya dalam bentuk keluhan somatik alih-alih perasaan atau pikiran, seperti mengeluh sakit kepala, mual, sesak nafas, dsb.
Perilaku attau respon motorik. Klien seringkali menyatakan masalahnya bukan dalam bentuk perilaku yang dapat diamati. Dengan klata lain, mereka menggambarkan suatu situasi atau suatu proses dan bukan tindakan mereka dalam peristiwa atau proses itu. Misalnya, klien mengatakan “Saya tak dapat bergaul secara baik dengan ibun saya,” atau “Saya merasa tidak enak,” atau “Saya tidak mampu untuk berbicara di depan orang banyak,” tanpa menyebutkan secara spesifik tentang apa yang mereka lakukan untuk dapat berhubungan dan tak dapat berhubungan secara baik. Dalam wawancara asesmen informasi ini perlu diungkap oleh konselor.
Kognisi, keyakinan. Banyak ahli, khsuusnya dari perspektif kognitif, yang mengakui peran penting proses-proses kognisi atau keyakinan dalam menyebabkan suatu masalah. Proses kognisi atau keyakinan yang berpotensi menyebabkan masalah atau gangguan adalah yang tidak adaptif seperti: adanya harapan yangbtidak rasional atau tidak realistis terhadap diri dan orang lain, pernyataan diri negatif, menyalahkan diri, distorsi kognitif, dsb.
Konteks. Masalah klien terjadi dalam suatu konteks sosial, yakni berkaitan erat dengan berbagai macam situyasi, waktu, tempat, dan persitiwa. Pentingnya mengungkap informasi tentang konteks ini ditegaskan oleh Lazarus (1976) sebagai berikut: jika konselor benar-benar tulus ingin membantu klien, maka penting baginya untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang semua konteks tempat terjadinya gangguan perilaku (Lazarus, 1976).
Relasi atau hubungan. Masalah klien tidak hanya berhubungan dengan waktu, tempat, dan peristiwa, tetapi juga berkaitan dengan ada atau tidak adanya kehadiran orang lain. Orang-orang di sekeliling klien – baik yang keberadaannya hanya sementara atau permanen – tidak hanya membuat klien merasa aman dan bahagia, tetapi juga dapat membuat klien merasa terancam dan menderita. Banyak orientasi teoretik konseling yang merekomendasikan perlunya melakukan asesmen tentang hubungan klien dengan orang lain.
CONTOH:
Indentifikasi komponen Afektif:
“Ketika hal itu terjadi, perasaan apa saja yang Anda alami?”
“Bagaiamana perasaan Anda ketika Anda melakukan hal itu atau ketika hal itu terjadi?”
“Ketika Anda berceritera tentang ayah Anda, suara Anda sedikit berat dan bergetar. Apa yang Anda rasakan ketika Anda berceritera tentang ayah Anda tadi?”
“Tadi Anda mengatakan jika Anda marah dan menangis ketika mendapati nilai ulangan Anda jelek. Apa ada perasaan lain yang Anda alami?”
Identifikasi komponen Somatik:
“Secara fisik, apa saja yang terjadi pada diri Anda ketika hal itu terjadi?”
“Apakah Anda sadar ketika Anda melakukannya?”
“Anda mengatakan jika Anda selalu gemetar ketika jam matapelajaran matematika akan mulai. Apa ada reaksi tubuh yang lain yang Anda rasakan, misalnya pusing, mual, dsb.?”

Identifikasi perilaku dan respon motorik:
“Saya ingin Anda menggambarkan apa saja yang Anda lakukan dalam situasi tersebut!”
“Tadi Anda mengatakan bahwa Anda mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran matematika di kelas. Saya ingin Anda mengatakan pada saya tentang apa saja yang anda lakukan pada waktu Anda mengikuti pelajaran matematika di kelas.”
“Apa yang Anda lakukan ketika peristiwa itu terjadi?”
“Apa pengaruh peristiwa itu pada perilaku Anda sehari-hari?”

Identifikasi kognisi atau keyakinan:
“Apa saja yang Anda pikirkan ketika peristiwa itu terjadi?”
“Menurut Anda, apa yang menyebabkan Anda menjadi seperti ini?”
“Seandainya Anda tetap seperti ini atau seandainya Anda berubah, menurut Anda, apa kemungkinan yang akan terjadi pada diri Anda?”
“Menurut Anda, apa yang seharus Anda lakukan agar nilai-nilai ujian Anda bisa menjadi lebih baik?”
Identifikasi konteks (waktu, tempat, dan peristiwa yang bersamaan):
“Dimana saja biasanya Anda mengalami kesulitan itu?”
“Anda tadi mengatakan bahwa Anda merasa tertekan ketika mengikuti pelajaran matematika. Apakah perasaan itu juga muncul ketika Anda mengikuti matapelajaran yang lain?”
“Anda meninggalkan rumah karena tidak tahan setiap hari dimarahi oleh ibu Anda. Barangkali ada sebab lain?”
Identifikasi relasi/hubungan dengan orang lain:
“Apakah masalah yang Anda alami itu berpengaruh buruk pada teman-teman Anda di sekolah?”
“Seberapa jauh masalah yang Anda alami itu mempengaruhi hubungan Anda dengan orang tua Anda?”
“Apakah Anda punya teman atau siapa saja yang biasanya Anda ajak untuk membicarakan masalah-masalah Anda?”
“Kepada siapa saja biasanya Anda mengelukan perasaan atau kesulitan Anda?”
2.3.2.5. Identifikasi anteseden.
Dengan menggunakan berbagai keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor membantu klien untuk mengenali sumber-sumber atau peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebab dari masalah atau kesulitannya. Suatu peristiwa tidak terjadi dengan sendirinya, dan anak tidak terlahir dengan masalah tertentu. Beberapa peristiwa mungkin dapat menyebabkan masalah klien dengan cara memelihara, memperkuat, atau menguaanginya. Berkaitan dengan ini, konselor dapat mengungkap sitausi atau kondisi-kondisi yang ada sebelum terjadinya masalah, baik yang menyebabkan terjadinya masalah maupun yang berpotensi tidak menyebabkan masalah, maupun yang masih mempengaruhi masalah.
CONTOH:
Kondisi afektif:
“Apa yang Anda rasakan sebelum peristiwa itu terjadi?”
“Apa yang biasanya Anda rasakan sebelum hal itu terjadi?”
“kapan pertama kali Anda merasakan hal itu?”
Kondisi somatik:
“Secara fisik, apa saja yang biasanya Anda alami sebelum peristiwa terjadi?”
“Apakah Anda merasakan gejala-gejala fisik tertentu sebelum hal itu terjadi?”
“Sebelum hal itu terjadi, apakah Anda merasakan tanda-tanda fisik tertentu seperti mual, pusing, gemetar, dsb.?”
Kondisi perilaku:
“Dapatkah Anda mengenali beberapa bentuk tindakan Anda sebelum hal ini terjadi?”
“barangkali Anda dapat mengingat mungkin hal ini terjadi karena Anda telah melakukan sesuatu?”
“Dapatkah Anda mengambarkan beberapa bentuk perilaku Anda yang tampaknya (mungkin) menyebabkan Anda mengalami masalah tersebut?”
Kondisi kognitif:
“Sebelum Anda mengalami masalah ini, apa yang biasanya Anda pikirkan?”
“Barangkali Anda dapat mengenali keyakinan-keyakainan Anda yang mungkin menyebabkan Anda mengalami maslaah ini?”
“Mungkin Anda memiliki keyakinan-keyakinan atau pikiran-pikiran tertentu yang mungkin menyebabkan Anda mengalami kesulitan ini?”

Kondisi kontekstual:
“Pernahkah Anda mengalami masalah ini sebelumnya, misalnya ketika masih di SD, SLP?”
“Telah berapa lama masalah ini Anda alami?”
“Di mana dan kapan saja masalah itu Anda alami?”
“Dalam situasi apa saja kesulitan itu muncul?”
Kondisi hubungan/relasional:
“Coba Anda temukan mungkin ada orang-orang atau siapa saja yang menyebabkan Anda mengalami masalah ini?”
“Barangkali Anda dapat menyebutkan orang-orang tertentu yang tampak menyebabkan atau turut mendukung masalah Anda ini?”
“Dengan siapa biasanya Anda melakukan hal itu?”
2.3.2.6. Identifikasi konsekuensi
Dengan menggunakan berbagai keterampilan dasar konseling, konselor membantu klien mengenali sumber-sumber konsekuensi yang berhubungan dengan masalah yang dialaminya. Sumber-sumber ini dapat berupa peristiwa-peristiwa internal atau eksternal yang memperkuat, memelihara, atau memperlemah masalah yang dialaminya.
CONTOH:
Konsekuensi afektif:
“Perasaan apa yang Anda alami setelah Anda memperoleh nilai buruk dalam ujian statistik kemarin?”
“Emos apa saja yang Anda rasakan setelah Anda melakukan hal itu?”
Konsekuensi somatik:
“Secara fisik gejala tubuh apa yang Anda rasakan setelah Anda berbicara kasar pada guru Anda?”
“Apakah Anda merasakan gejala-gejala tubuh tertentu setelah Anda meminum minuman keras?”
Konsekuensi perilaku:
“Setelah peristiwa itu terjadi, apa yang Anda lakukan dan apakah itu membuat Anda merasa lebih baik atau lebih buruk?”
“Apa biasanya yang Anda lakukan setelah Anda meninggalkan atau mangkir dari jam pelajaran di sekolah?”
Konsekuensi kognitif:
“Apa yang biasanya Anda pikirkan setelah Anda meninggalkan pelajaran sebelum waktunya (membolos)?”
“Apa yang biasanya Anda katakan pada diri Anda setelah Anda minum minuman keras?”
“Adakah pikiran-pikiran atau imej tertentu yang ada di benak Anda setelah Anda menyetubuhi pacar Anda?”
Konsekuensi kontekstual:
“Apa yang biasanya terjadi setelah Anda minum alkohol?”
“Apakah dalam situsi atau kondisi tertentu kebiasaan Anda minum alkohol itu dapat berhenti?”
“Dalam situasi apa Anda biasanya dapat mengendalikan dorongan Anda untuk merokok?”
Konsekuensi relasional:
“Siapa orang-orang yang bersama Anda atau Anda temui setiap kali kesulitan itu muncul?”
“Barangkali Anda dapat mengidentifikkasi siapa saja orang-orang tertentu dalam kehidupan Anda yang dapat membuat masalah Anda itu semakin menjadi, terus terjadi, berkurang, atau berhenti?”
“Dapatkah Anda mengingat reaksi orang-orang di sekeliling Anda setiap kali mereka menemukan Anda merokok?”
2.3.2.7. Identifikasi payoff
Dalam kategori ini konselor menggunakan berbagai ketarmpilan interpersaonalnya untuk membantu klien mengenali atau mengidentifikasi variabel-variabel pengendali penyerta yang bertindak sebagai “gain secondair” dari kesulitan atau masalah yang dialaminya.
CONTOH:
“Apa yang Anda peroleh setelah Anda merokok, dan apakah itu membuat Anda merasakan kesenangan tertentu dan sulit untukm menghentikannya?”
“Kesenangan apa yang biasanya Anda peroleh setelah Anda menghisap sabu-sabu?”
“Adakah perasaan tertentu yang Anda nikmati dan itu membuat Anda ingin selalu menggangu teman-teman anda?
2.3.2.8 Identifikasi pemecahan masalah yang pernah dilakukan
Dalam kategori ini konselor menggunakan keterampilan interpersonal untuk membantu klien mengidentifikasi upaya-upaya pemecahan yang telah dilakukan dan pengaruhnya pada masalah sekarang.

CONTOH:
“Apakah Anda pernah mencoba untuk memecahkan kesulitan Anda itu?”
“Apakah pernah ada orang lain yang mencoba membantu Anda untuk memecahkan masalah Anda itu?”
“Apakah Anda pernah berbicara dengan orang lain untuk maksud memecahkan masalah Anda tersebut?”

2.3.2.9. Identifikasi potensi klien untuk memecahkan masalah
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk mengidentifikasi keterampilan yang dimilikinya dan apakah keterampilan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dialaminya.
CONTOH:
“Coba instrospeksi barangkali Anda memiliki keterampilan-ketrampilan tertentu yang dapat gunakan untuk memecahkan masalah Anda itu?”
“Apa kira-kira yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda itu?”
2.3.2.10. Identifikasi persepsi klien terhadap masalah yang dialaminya
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk menggambarkan persepsi atau pemahamannya tentang masalah yang sedang dihadapinya.CONTOH:
“Problem macam apa kira-kira yang sedang Anda alami itu?”
“Kira-kira masalah Anda itu disebabkan oleh kesalahan orang lain ataukah kesalahan Anda sendiri?”
“Kira-kira apa yang menyebabkan Anda mengalami masalah tersebut?
2.3.2.11. Identifikasi intensitas masalah
Dengan menggunakan seperangkat keterampilan dasar, dalam kategori ini konselor berupaya membantu klien untuk mengidentifikasi dampak masalah yang dialaminya pada kehidupannya, yang meliputi tingkat severitas dan frekuensi atau durasi masalah.
CONTOH:
“Anda mengatakan jika Anda merasa cemas setiap kali akan menghadapi ujian. Jika rasa cemas itu kita tempatkan pada suatu rentangan skala, misalnya dari 1 s.d. 10, dimanakah kira-kira letak tingkat kecemasanmu Anda itu?”
“Berapa lama biasanya Anda mengalami kecemasan itu?”
“Berapa sering Anda mengalami kecemasan?”

EVALUASI
1. Apakah makna asesmen dalam bimbingan?
2. Jelaskan tujuan asesmen dalam konseling!
3. Uraikan asumsi-asumsi pendekatan kognitif-perilaku!
4. Wawancara asesmen kognitif-perilaku adalah:
5. Penggunaan wawancara sebagai prosedur asesmen memiliki beberapa keuntungan, yakni:……………
6. Yang dimaksud dengan identifikasi anteseden adalah ……………………
7. Yang dimaksud dengan identifikasi konsekuensi dalam wawancara asesmen adalah:
………………………….
8. Yang dimaksud identifikasi payoff adalah ……………………….
9. Yang dimaksud dengan identifikasi komponen masalah klien adalah:……………
10. Yang dimaksud history taking dalam wawancara asesmen kognitif-perilaku adalah:
………………………
11. Berikut ini manakah yang termasuk dalam komponen afektif:…………………………….
12. “Tadi Anda mengatakan bahwa Anda marah, malu, dan sedih ketika Anda dinyatakan tidak lolos sertifikasi. Apa yang membuat Anda mengalami perasaan seperti itu?” Respon konselor tersebut diarahkan untuk mengenali komponen: …………….

13. “Kau mengatakan jika kau selalu gemetar ketika jam matapelajaran matematika akan mulai. Apa ada reaksi tubuh yang lain yang Anda rasakan, misalnya pusing, mual, dsb.?” Respon konselor tersebut diarahkan untuk mengenali komponen: ……………
14. Beri contoh upaya konselor untuk mengidentifikasi intensitas masalah klien:…………
15. Penggunaan wawancara sebagai metode asesmen memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut: ……………………

Lakukanlah wawancara asesmen dengan kolega Anda sehingga Anda memperoleh informasi-informasi akurat berkenaan dengan sebelas kategori informasi seperti telah dicontohkan.
—-000000OOOO0000000—

DAFTAR PUSTAKA

Blackham, G. 1977, Counseling:theory, process, and practice. Belmont, California: Wadsworth Publising Company.

Bootzin, R. S, 1991, Behavior Modifikation and Therapy: An Introduction. Cambridge: Winthrop Publisher.

Brammer, L. M dan Everett L. S, 2001, Therapiutic Psychology: Fundamentals of Counseling and Psychoterapy, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Corey, G dan Corey, M. S. , 2001. Group: Processs and practice. Monterey, California: Brooks/ Cole Co.

Cormier, W.H., & Cormier L. S., 1985. Interviewing Strategies for Helpers, Monterey California: Brooks/Cole Publishing.

Egan, G., 1975, The skilled helper: A model for systematic helping and interpersonal relating, Monterey , CA: Brooks/ Cole.

Gambril, E. D, 1977, Behavior modification: Hand book of assesment, intervention, and evaluation, San Francisco: Jossey-Bass.

Gazda, GM. 1999, Group Prosedur with Children: A Developmental Approach. Dalam Ohlsen (ed), Counseling Children in Group: A Forum, New Jersey: Prentice Hall.

George R. L R. dan Cristiani, TS. 2001, Theory, Methods, and Process of Counseling and Psychoterapy, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

Ivey, A.E. & Simek Downing, L., 1980. Counseling and Psychotherapy. Englewood Cliffs, N.J. : Prentici-hall, Inc.

Krumboltz, J. D & Thoresen, C. E., 1976. Counseling Methods. New York : Holt, Rinehart and Winston.

Lazarus, A. A, 1981, The practice of multimodal therapy, New York: Mc-Graw-Hill.

Stewart, C. G., & Lewis, W. A., 1986. Effect of Assertiveness training on Self esteem of Black High School Students. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 10, 544-548.

Swensen, C. H. 1968, An approach to case conceptualization, Boston: Hougton Mifflin.

By ekoendriwiyonowordpress

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI
NOMOR 16 TAHUN 2009
TENTANG
JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN
REFORMASI BIROKRASI,
Menimbang : a. bahwa Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi Guru;
b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut, perlu mengatur kembali
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah dua kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966 tentang Pemberhentian Sementara Pegawai Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2797);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3098), sebagaimana telah sebelas kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 21);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang

Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4015), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4332);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4016), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4192);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 196, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4017), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4193);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 198, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4019);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4941);
16. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah empat kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2008;
17. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun l999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
Memperhatikan : 1. Usul Menteri Pendidikan Nasional dengan surat Nomor 175/MPN/KP/2007 tanggal 15 November 2007;
2. Pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara dengan surat Nomor K 26-30/V 165-1/93 tanggal 23 Desember 2008;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI TENTANG JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini yang dimaksud dengan:
1. Jabatan fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.
2. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
3. Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan Guru dalam menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik.
4. Kegiatan bimbingan adalah kegiatan Guru dalam menyusun rencana bimbingan, melaksanakan bimbingan, mengevaluasi proses dan hasil bimbingan, serta melakukan perbaikan tindak lanjut bimbingan dengan memanfaatkan hasil evaluasi.
5. Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi Guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesional itasnya.
6. Tim penilai Jabatan Fungsional Guru adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit dan bertugas menilai prestasi kerja Guru.
7. Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.
8. Penilaian kinerja Guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.
9. Daerah Khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang, daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain.
10. Program induksi adalah kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pembimbingan, dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran bagi Calon Pegawai Negeri Sipil Guru.

BAB II
RUMPUN JABATAN, JENIS GURU, KEDUDUKAN,
DAN TUGAS UTAMA

Pasal 2
Jabatan Fungsional Guru adalah jabatan tingkat keahlian termasuk dalam rumpun pendidikan tingkat taman kanak-kanak, dasar, lanjutan, dan sekolah khusus.

Pasal 3
Jenis Guru berdasarkan sifat, tugas, dan kegiatannya meliputi:
a. Guru Kelas;
b. Guru Mata Pelajaran; dan
c. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.
Pasal 4
(1) Guru berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional di bidang
pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu pada jenjang pendidikan anak
usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
(2) Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam peraturan ini, adalah
jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.
Pasal 5
(1) Tugas utama Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
(2) Beban kerja Guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan/atau melatih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
(3) Beban kerja Guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dalam 1 (satu) tahun.
BAB III
KEWAJIBAN, TANGGUNGJAWAB, DAN WEWENANG
Pasal 6
Kewajiban Guru dalam melaksanakan tugas adalah:
a. merencanakan pembelajaran/bimbingan, melaksanakan pembelajaran/
bimbingan yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran/
bimbi ngan, serta melaksanakan pembelajaran/perbai kan dan pengayaan;
b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi
secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni;
c. bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik Guru, serta nilai agama dan etika; dan
e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Pasal 7
Guru bertanggungjawab menyelesaikan tugas utama dan kewajiban sebagai pendidik sesuai dengan yang dibebankan kepadanya.
Pasal 8
Guru berwenang memilih dan menentukan materi, strategi, metode, media pembelajaran/bimbingan dan alat penilaian/evaluasi dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan untuk mencapai hasil pendidikan yang bermutu sesuai dengan kode etik profesi Guru.
BAB IV
Pasal 9
Instansi Pembina Jabatan Fungsional Guru adalah Departemen Pendidikan Nasional
Pasal 10
Instansi pembina sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 mempunyai tugas membina Jabatan Fungsional Guru menurut peraturan perundang-undangan dengan fungsi antara lain:
a. penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru;
b. penyusunan pedoman formasi Jabatan Fungsional Guru;
c. penetapan standar kompetensi Guru;
d. pengusulan tunjangan Jabatan Fungsional Guru;
e. sosialisasi Jabatan Fungsional Guru serta petunjuk pelaksanaannya;
f. penyusunan kurikulum pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional Guru;
g. penyelenggaraan pendidi kan dan pelatihan fungsional/teknis dan penetapan sertifikasi Guru;
h. pengembangan sistem informasi Jabatan Fungsional Guru;
i. fasilitasi pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru;
j. fasilitasi pembentukan organisasi profesi dan penyusunan kode etik Guru; dan
k. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru.

BAB V
UNSUR DAN SUB UNSUR KEGIATAN
Pasal 11
Unsur dan sub unsur kegiatan Guru yang dinilai angka kreditnya adalah:
a. Pendidikan, meliputi:
1. pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah; dan
2. pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan dan memperoleh surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan (STTPP) prajabatan atau sertifikat termasuk program induksi.
b. Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, meliputi:
1. melaksanakan proses pembelajaran, bagi Guru Kelas dan Guru Mata Pelajaran;
2. melaksanakan proses bimbingan, bagi Guru Bimbingan dan Konseling; dan
3. melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
c. Pengembangan keprofesian berkelanjutan, meliputi:
1. pengembangan diri:
a) diklat fungsional; dan
b) kegiatan kolektif Guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian Guru;
2. publikasi Ilmiah:
a) publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal; dan
b) publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman Guru;
3. karya Inovatif:
a) menemukan teknologi tepat guna;
b) menemukan/menciptakan karya seni;
c) membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum; dan
d) mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya;
d. Penunjang tugas Guru, meliputi:
1. memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang d iam pu nya;
2. memperoleh penghargaan/tanda jasa; dan
3. melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas Guru, antara lain :
a) membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ ekstrakurikuler dan sejenisnya;
b) menjadi organisasi profesi/kepramukaan;
c) menjadi tim penilai angka kredit; dan/atau
d) menjadi tutor/pelatih/instruktur.

BAB VI
JENJANG JABATAN DAN PANGKAT
Pasal 12
(1) Jenjang Jabatan Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, yaitu:
a. Guru Pertama;
b. Guru Muda;
c. Guru Madya; dan
d. Guru Utama.
(2) Jenjang pangkat Guru untuk setiap jenjang jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu:
a. Guru Pertama:
1. Penata Muda, golongan ruang III/a; dan
2. Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b;
b. Guru Muda:
1. Penata, golongan ruang III/c; dan
2. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
c. Guru Madya:

1. Pembina, golongan ruang IV/a;
2. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b; dan
3. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c.
d. Guru Utama:
1. Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d; dan
2. Pembina Utama, golongan ruang IV/e.
(3) Jenjang pangkat untuk masing-masing Jabatan Fungsional Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah jenjang pangkat dan jabatan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki untuk masing-masing jenjang jabatan.
Penetapan jenjang Jabatan Fungsional Guru untuk pengangkatan dalam jabatan ditetapkan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit sehingga dimungkinkan pangkat dan jabatan tidak sesuai dengan pangkat dan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
BAB VII
RINCIAN KEGIATAN DAN UNSUR YANG DINILAI
Pasal 13
(1) Rincian kegiatan Guru Kelas sebagai berikut:
a. menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan;
b. menyusun silabus pembelajaran;
c. menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran;
d. melaksanakan kegiatan pembelajaran;
e. menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran;
f. menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaran di kelasnya;
g. menganalisis hasil penilaian pembelajaran;
h. melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi;
i. melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi tanggung jawabnya;
j. menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional;
k. membimbing guru pemula dalam program induksi;
l. membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
m. melaksanakan pengembangan diri;
n. melaksanakan publikasi ilmiah; dan
o. membuat karya inovatif.
(2) Rincian kegiatan Guru Mata Pelajaran sebagai berikut:
a. menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan;
b. menyusun silabus pembelajaran;
c. menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran;
d. melaksanakan kegiatan pembelajaran;
e. menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran;
f. menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaran yang diampunya;
g. menganalisis hasil penilaian pembelajaran;
h. melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan
memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi;
i. menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional;
j. membimbing guru pemula dalam program induksi;
k. membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
l. melaksanakan pengembangan diri;
m. melaksanakan publikasi ilmiah; dan
n. membuat karya inovatif.
(3) Rincian kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling sebagai berikut:
a. menyusun kurikulum bimbingan dan konseling;
b. menyusun silabus bimbingan dan konseling;
c. menyusun satuan layanan bimbingan dan konseling;
d. melaksanakan bimbingan dan konseling per semester;
e. menyusun alat ukur/lembar kerja program bimbingan dan konseling;
f. mengevaluasi proses dan hasil bimbingan dan konseling;
g. menganalisis hasil bimbingan dan konseling;
h. melaksanakan pembelajaran/perbaikan tindak lanjut bimbingan dan konseling dengan memanfaatkan hasil evaluasi;
i. menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional;
j. membimbing guru pemula dalam program induksi;
k. membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
l. melaksanakan pengembangan diri;
m. melaksanakan publikasi ilmiah; dan
n. membuat karya inovatif.
(4) Guru selain melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2), atau ayat (3) dapat melaksanakan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah sebagai:
a. kepala sekolah/madrasah;
b. wakil kepala sekolah/madrasah;
c. ketua program keahlian atau yang sejenisnya;
d. kepala perpustakaan sekolah/madrasah;
e. kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya pada sekolah/madrasah; dan
f. pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi.

Pasal 14
(1) Unsur kegiatan yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri atas:
a. unsur utama; dan
b. unsur penunjang.
(2) Unsur utama, terdiri atas:
a. pendidikan;
b. pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah; dan
c. pengembangan keprofesian berkelanjutan.
(3) Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas Guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf d.
(4) Rincian kegiatan dan angka kredit masing-masing kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran I.
Pasal 15
(1) Penilaian kinerja Guru dari sub unsur pembelajaran atau pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan didasarkan atas aspek kualitas, kuantitas, waktu, dan biaya.
(2) Penilaian kinerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan nilai dan sebutan sebagai berikut:
a. nilai 91 sampai dengan 100 disebut amat baik;
b. nilai 76 sampai dengan 90 disebut baik;
c. nilai 61 sampai dengan 75 disebut cukup;
d. nilai 51 sampai dengan 60 disebut sedang; dan
e. nilai sampai dengan 50 disebut kurang.
(3) Nilai kinerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikonversikan ke dalam angka kredit yang harus dicapai, sebagai berikut:
a. sebutan amat baik diberikan angka kredit sebesar 125% dari jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun;
b. sebutan baik diberikan angka kredit sebesar 100% dari jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun;
c. sebutan cukup diberikan angka kredit sebesar 75% dari jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun;
d. sebutan sedang diberikan angka kredit sebesar 50% dari jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun;

e. sebutan kurang diberikan angka kredit sebesar 25% dari jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun.
(4) Jumlah angka kredit yang harus dicapai setiap tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah jumlah angka kredit kumulatif minimal sebagaimana tersebut pada lampiran II, III, IV, VI, VII, dan VIII dikurangi jumlah angka kredit pengembangan keprofesian berkelanjutan dan unsur penunjang yang dipersyaratkan untuk setiap jenjang jabatan/pangkat dan dibagi 4 (empat).
(5) Penilaian kinerja Guru diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.
Pasal 16
(1) Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap Pegawai Negeri Sipil untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan/pangkat Guru adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran II dengan ketentuan :
a. paling kurang 90% (sembilan puluh persen) angka kredit berasal dari
unsur utama; dan
b. paling banyak 10% (sepuluh persen) angka kredit berasal dari unsur penunjang.
(2) Untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi dari Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a sampai dengan Guru Utama, pangkat Pembina Utama, golongan ruang IV/e wajib melakukan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang meliputi sub unsur pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan/atau karya inovatif.
Pasal 17
(1) Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a yang akan naik pangkat menjadi Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(2) Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b yang akan naik jabatan/pangkat menjadi guru muda pangkat penata golongan ruang III/c angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan/pangkat paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif dan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari sub unsure pengembangan diri
(3) Guru Muda, pangkat Penata golongan ruang III/c Penata,yang akan naik jabatan/pangkat menjadi guru muda pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang III/d angka kredit yang dipersyaratkan kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 6 (enam) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(4) Guru Muda, pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang III/d yang akan naik jabatan/pangkat menjadi menjadi Guru Madya, pangkat Pembina golongan ruang
IV/a angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan/pangkat, paling sedikit 8 (delapan) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(5) Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang IV/a yang akan naik menjadi Guru Madya, pangkat Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 12 (dua belas) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(6) Guru Madya, pangkat Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b yang akan naik pangkat menjadi Guru Madya, pangkat Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 12 (dua belas) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(7) Guru Madya, pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/c yang akan
naik jabatan/pangkat menjadi Guru Utama, pangkat Pembina Utama Madya,
golongan ruang IV/d, angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 14 (empat belas) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.

(8) Guru Utama, pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d yang akan naik pangkat menjadi Guru Utama, pangkat Pembina Utama, golongan ruang IV/e angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat, paling sedikit 20 (dua puluh) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari sub unsur pengembangan diri.
(9) Guru Madya, pangkat Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Utama, pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d wajib melaksanakan presentasi ilmiah

Pasal 18
(1) Guru yang bertugas di daerah khusus, dapat diberikan tambahan angka kredit setara untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi 1 (satu) kali selama masa kariernya sebagai Guru.
(2) Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling singkat telah bertugas selama 2 (dua) tahun secara terus menerus di daerah khusus.
Pasal 19
Guru yang memiliki prestasi kerja luar biasa baiknya dan dedikasi luar biasa diber penghargaan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.
Pasal 20
(1) Guru yang secara bersama membuat karya tulis/ilmiah di bidang pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, diberikan angka kredit dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Apabila terdiri dari 2 (dua) orang penulis maka pembagian angka kreditnya adalah 60% (enam puluh persen) untuk penulis utama dan 40% (empat puluh persen) untuk penulis pembantu.
b. Apabila terdiri dari 3 (tiga) orang penulis maka pembagian angka kreditnya adalah 50% (lima puluh persen) untuk penulis utama dan masing-masing 25% (dua puluh lima persen) untuk penulis pembantu.
c. Apabila terdiri dari 4 (tiga) orang penulis maka pembagian angka kreditnya adalah 40% (empat puluh persen) untuk penulis utama dan masing¬masing 20% (dua puluh persen) untuk penulis pembantu.
(2) Jumlah penulis pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak 3 (tiga) orang.

BAB VIII
PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT
Pasal 21
(1) Untuk kelancaran penilaian dan penetapan angka kredit, Guru wajib mencatat dan menginventarisasikan seluruh kegiatan yang dilakukan.
(2) Penilaian dan penetapan angka kredit terhadap Guru dilakukan paling kurang 1 (satu) kali dalam setahun.
(3) Penilaian dan penetapan angka kredit untuk kenaikan pangkat Guru yang akan dipertimbangkan untuk naik pangkat dilakukan paling kurang 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, yaitu 3 (tiga) bulan sebelum periode kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil.
Pasal 22
(1) Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit adalah:
a. Menteri Pendidikan Nasional atau pejabat lain yang ditunjuk setingkat eselon I bagi Guru Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b sampai dengan Guru Utama pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e di lingkungan instansi pusat dan daerah serta Guru Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Utama pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e yang diperbantukan pada sekolah Indonesia di luar negeri;
b. Direktur Jenderal Departemen Agama yang membidangi pendidikan terkait bagi Guru Madya, pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan Departemen Agama;
c. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama bagi Guru Muda pangkat Penata golongan ruang III/c sampai dengan Guru Muda pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Agama.
d. Kepala Kantor Departemen Agama bagi Guru Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a dan pangkat Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b di lingkungan Kantor Departemen Agama.
e. Gubernur atau Kepala Dinas yang membidangi pendidikan bagi Guru Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya, pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan Provinsi;
f. Bupati/Walikota atau Kepala Dinas yang membidangi pendidikan bagi Guru Pertama, pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya, pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan Kabupaten/Kota.
g. Pimpinan instansi pusat atau pejabat lain yang ditunjuk bagi Guru Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan instansi pusat di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.
(2) Dalam menjalankan kewenangannya, pejabat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dibantu oleh:
a. Tim Penilai Tingkat Pusat bagi Menteri Pendidikan Nasional yang selanjutnya disebut Tim Penilai Pusat.
b. Tim Penilai Direktorat Jenderal Departemen Agama yang membidangi pendidikan terkait, yang selanjutnya disebut Tim Penilai Departemen Agama.
c. Tim Penilai Kantor Wilayah Departemen Agama yang selanjutnya Tim

Pen ilai Kantor Wilayah.
d. Tim Penilai Kantor Departemen Agama, yang selanjutnya disebut Tim Pen ilai Kantor Departemen.
e. Tim Penilai Tingkat Provinsi bagi Gubernur, yang selanjutnya disebut Tim Penilai Provinsi.
f. Tim Penilai Tingkat Kabupaten/Kota bagi Bupati/ Walikota yang selanjutnya disebut Tim Penilai Kabupaten/Kota.
g. Tim Penilai Instansi Pusat di luar Departemen Pendidikan Nasional dan
Departemen Agama, yang selanjutnya disebut Tim Penilai Instansi.
(3) Tim Penilai Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri dari unsur Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Badan Kepegawaian Negara.
Pasal 23
(1) Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru terdiri dari unsur teknis, dan pejabat fungsional Guru.
(2) Susunan keanggotaan Tim Penilai sebagai berikut:
a. seorang ketua merangkap anggota dari unsur teknis;
b. seorang wakil ketua merangkap anggota;
c. seorang sekretaris merangkap anggota dari unsur kepegawaian; dan
d. paling kurang 4 (empat) orang anggota.
(3) Syarat Anggota Tim Penilai adalah:
a. menduduki jabatan dan pangkat paling rendah sama dengan jabatan dan pangkat Guru yang dinilai;
b. memiliki keahlian serta mampu untuk menilai kinerja Guru; dan
c. dapat aktif melakukan penilaian.
(4) Anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru harus lulus pendidikan dan pelatihan calon tim penilai dan mendapat sertifikat dari Menteri Pendidikan Nasional.
Pasal 24
(1) Apabila Tim Penilai Kantor Departemen Agama belum dapat dibentuk, penilaian angka kredit Guru dapat dimintakan kepada Tim Penilai Kantor Departemen Agama terdekat, Tim Penilai Kantor Wilayah Departemen Agama yang bersangkutan, atau Tim Penilai Departemen Agama.
Apabila Tim Penilai Kantor Wilayah Departemen Agama belum dapat dibentuk, penilaian angka kredit Guru dapat dimintakan kepada Tim Penilai Kantor Wilayah Departemen Agama terdekat, Tim Penilai Departemen Agama.
(3) Apabila Tim Penilai Kabupaten/Kota belum dapat dibentuk, penilaian angka kredit Guru dapat dimintakan kepada Tim Penilai Kabupaten/Kota lain terdekat atau Tim Penilai Provinsi yang bersangkutan atau Tim Penilai Unit Kerja.
(4) Apabila Tim Penilai Provinsi belum dapat dibentuk, penilaian angka kredit Guru dapat dimintakan kepada Tim Penilai Provinsi lain terdekat atau Tim Penilai Unit Kerja.
(5) Apabila Tim Penilai Departemen Agama belum dapat dibentuk, penilaian
angka kredit Guru dapat dimintakan kepada Tim Penilai Unit Kerja.
(6) Pembentukan dan susunan Anggota Tim Penilai ditetapkan oleh:
a. Menteri Pendidikan Nasional untuk Tim Penilai Pusat;
b. Direktur Jenderal yang membidangi pendidikan terkait pada Departemen Agama untuk Tim Penilai Departemen Agama;
c. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama untuk Tim Penilai Kantor Wilayah Departemen Agama;
d. Kepala Kantor Departemen Agama untuk Tim Penilai Kantor Departemen Agama;
e. Gubernur untuk Tim Penilai Provinsi;
f. Bupati/Walikota untuk Tim Penilai Kabupaten/Kota; dan
g. Pimpinan Unit Kerja yang membidangi pendidikan setingkat eselon I di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama untuk Tim Penilai Instansi.
Pasal 25
(1) Masa jabatan Anggota Tim Penilai adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk masa jabatan berikutnya.
(2) Pegawai Negeri Sipil yang telah menjadi Anggota Tim Penilai dalam 2 (dua) masa jabatan berturut-turut, dapat diangkat kembali setelah melampaui tenggang waktu 1 (satu) masa jabatan.
(3) Dalam hal terdapat Anggota Tim Penilai yang ikut dinilai, maka Ketua Tim Penilai dapat mengangkat Anggota Tim Penilai Pengganti.
Pasal 26
Tata kerja dan tata cara penilaian Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional selaku Pimpinan Instasi Pembina Jabatan Fungsional Guru.
Pasal 27
Usul penetapan angka kredit Guru diajukan oleh:
a. Pimpinan unit kerja instansi Provinsi yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon II), pimpinan unit kerja instansi Kabupaten/Kota yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon II), pimpinan unit kerja instansi pusat yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon II), Direktur Jenderal yang membidangi pendidikan terkait Departemen Agama kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk angka kredit Guru Madya, pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b sampai dengan Guru Utama, pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e di lingkungan instansi pusat dan daerah;
b. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri atau pejabat yang membidangi pendidikan kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk angka kredit Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a sampai dengan Guru Utama, pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e yang diperbantukan pada sekolah Indonesia di luar negeri;
c. Pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Agama kepada Direktur Jenderal yang membidangi pendidikan terkait Departemen Agama untuk angka kredit Guru Madya, pangkat Pembina golongan ruang IV/a di lingkungan Departemen Agama.
d. Pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Agama kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama untuk angka kredit Guru Muda pangkat Penata golongan ruang III/c sampai dengan pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Agama.
e. Pejabat eselon IV yang membidangi kepegawaian di lingkungan Kantor Departemen Agama kepada Kepala Kantor Departemen Agama untuk angka kredit Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a dan pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b di lingkungan Kantor Departemen Agama.
f. Pimpinan instansi Provinsi yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon III) kepada Gubernur untuk angka kredit Guru Pertama pangkat Penata

Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya pangkat Pembina, golongan ruang IV/a di lingkungan Provinsi.
g. Pimpinan instansi Kabupaten/Kota yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon III) kepada Bupati/Walikota untuk angka kredit Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang IV/a di lingkungan Kabupaten/Kota.
h. Pimpinan instansi pusat di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama yang membidangi kepegawaian (paling rendah eselon III) kepada Menteri yang bersangkutan untuk angka kredit Guru Pertama, pangkat Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang IV/a di lingkungan instansi pusat.
Pasal 28
(1) Angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit, digunakan untuk mempertimbangkan kenaikan jabatan/pangkat Guru sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Keputusan pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit, tidak dapat diajukan keberatan oleh Guru yang bersangkutan.
BAB IX
PENGANGKATAN DALAM JABATAN FUNGSIONAL GURU
Pasal 29
Pejabat yang berwenang mengangkat Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional Guru, adalah pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 30
(1) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam Jabatan Fungsional Guru harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. berijazah paling rendah Sarjana (S1) atau Diploma IV, dan bersertifikat pendidik;
b. pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang III/a;
c. setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan
d. memiliki kinerja yang baik yang dinilai dalam masa program induksi.
(2) Pengangkatan Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengangkatan yang dilakukan untuk mengisi lowongan formasi Jabatan
Fungsional Guru melalui pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil;
(3) Program induksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur lebih lanjut oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Pasal 31
Di samping persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional Guru dilaksanakan sesua dengan formasi Jabatan Fungsional Guru, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Pusat dalam Jabatan Fungsional Guru
dilaksanakan sesuai dengan formasi Jabatan Fungsional Guru yang
ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan
aparatur negara setelah mendapat pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian
Negara;
b. Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Daerah dalam Jabatan Fungsional Guru dilaksanakan sesuai dengan formasi Jabatan Fungsional Guru yang ditetapkan oleh Kepala Daerah masing-masing setelah mendapat persetujuan tertulis Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan setelah mendapat pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.
Pasal 32
(1) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dari jabatan lain ke dalam Jabatan Fungsional Guru dapat dipertimbangkan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan
Pasal 31;
b. memiliki pengalaman sebagai Guru paling singkat 2 (dua) tahun;
c. usia paling tinggi 50 (lima puluh) tahun; dan
d. setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.
(2) Pangkat yang ditetapkan bagi Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sama dengan pangkat yang dimiliki, dan jenjang Jabatan Fungsional Guru ditetapkan sesuai dengan jumlah angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.
(3) Jumlah angka kredit sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dari unsur utama dan unsur penunjang.

BAB X

PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI,
DAN PEMBERHENTIAN DARI JABATAN FUNGSIONAL GURU
Pasal 33
Pejabat yang berwenang membebaskan sementara, mengangkat kembali, dan memberhentikan Pegawai Negeri Sipil dalam dan dari Jabatan Fungsional Guru adalah pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 34
Guru dibebaskan sementara dari jabatannya apabila:
a. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat berupa jenis hukuman disiplin penurunan pangkat;
b. diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil;
c. ditugaskan secara penuh di luar Jabatan Fungsional Guru;
d. menjalani cuti di luar tanggungan negara; dan
e. melaksanakan tugas belajar selama 6 bulan atau lebih.
Pasal 35
(1) Guru yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf a, huruf d, dan huruf e, dapat diangkat kembali dalam Jabatan Fungsional Guru.
(2) Guru yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf b, diangkat kembali dalam Jabatan Fungsional Guru apabila berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dinyatakan tidak bersalah atau dijatuhi hukuman pidana percobaan.
(3) Guru yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf c, dapat diangkat kembali dalam Jabatan Fungsional Guru apabila berusia paling tinggi 51 (lima puluh satu) tahun.
(4) Pengangkatan kembali dalam Jabatan Fungsional Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menggunakan angka kredit terakhir yang dimiliki dan dapat ditambah angka kredit dari publikasi ilmiah dan karya inovatif yang diperoleh selama pembebasan sementara.
Pasal 36
Guru diberhentikan dari jabatannya apabila dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat.

BAB XI
S A N K S I
Pasal 37
(1) Guru yang tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan tidak mendapat pengecualian dari Menteri Pendidikan Nasiona dihi langkan haknya untuk mendapat tunjangan profesi, tunjangan fungsional dan maslahat tambahan.
(2) Guru yang terbukti memperoleh penetapan angka kredit (PAK) dengan cara melawan hukum diberhentikan sebagai Guru dan wajib mengembalikan seluruh tunjangan profesi, tunjangan fungsional, maslahat tambahan dan penghargaan sebagai Guru yang pernah diterima setelah yang bersangkutan memperoleh dan mempergunakan penetapan angka kredit (PAK) tersebut.
(3) Pengaturan sanksi lebih lanjut diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 38
(1) Dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini, jenjang jabatan fungsional setiap Guru disesuaikan dengan jenjang jabatan fungsional Guru sebagaimana dimaksud Pasal 12 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
(2) Penyesuaian jenjang jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
(3) Prestasi kerja yang telah dilakukan Guru sampai dengan ditetapkannya petunjuk pelaksanaan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini, dinilai berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993.
Pasal 39
(1) Pada saat Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini ditetapkan, Guru yang masih memiliki pangkat Pengatur Muda, golongan ruang II/a sampai pangkat Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d melaksanakan tugas sebagai Guru Pertama dan penilaian prestasi kerjanya sebagaimana tersebut dalam Lampiran V Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini

(2) Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan dan kegiatan penunjang tugas Guru, diberikan angka kredit sebagaimana tersebut dalam Lampiran V Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
(3) Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila :
a. memperoleh ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang
tugas yang diampu, disesuaikan dengan jenjang jabatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini; dan
b. naik pangkat menjadi pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a,
disesuaikan dengan jenjang jabatan/pangkat sebagai mana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
(4) Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi untuk kenaikan jabatan/pangkat Guru untuk:
a. Guru yang berijazah SLTA/Diploma I adalah sebagaimana tersebut dalam
Lampiran VI Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
Dan Reformasi Birokrasi ini;
b. Guru yang berijazah Diploma II adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran VII Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini; dan
c. Guru yang berijazah Diploma III adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran VIII Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
Pasal 40
(1) Pada saat Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini ditetapkan Guru yang memiliki pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a dan belum memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang tugas yang diampu, disesuaikan dengan jenjang jabatan/pangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
(2) Guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (3) huruf b dan Pasal 40

ayat (1) apabila tidak memperoleh ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesua dengan bidang tugas yang diampu, kenaikan pangkat setinggi-tingginya adalah Penata Tingkat I, golongan ruang III/d, atau pangkat terakhir yang di mili ki.
Pasal 41
(1) Guru yang berpangkat Pengatur Muda golongan ruang II/a sampai dengan Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d pada saat Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini berlaku, sampai dengan akhir tahun 2015 belum memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV melaksanakan tugas utama Guru sebagai Guru Pertama dengan sistem kenaikan pangkat menggunakan angka kredit sebagaimana tercantum pada lampiran V Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.

(2) Guru yang berpangkat Pengatur Muda golongan ruang II/a sampai dengan Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d pada saat Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini berlaku, sampai dengan akhir tahun 2015 belum memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV, dan belum mencapai pangkat Penata Muda golongan ruang III/a, tetap melaksanakan tugas utama Guru sebagai Guru Pertama.

(3) Guru yang belum memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), apabila memperoleh ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang tugas yang diampu, diberikan anka kredit 65% (enam puluh lima persen) angka kredit komulatif diklat, tugas utama, dan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan ditambah angka kredit ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang tugas yang diampu dengan tidak memperhitungkan angka kredit dari kegiatan penunjang

(4) Guru yang belum memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sudah memiliki pangkat Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b ke atas, apabila memperoleh ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang tugas yang diampu diberikan angka kredit sebesar 100% dari tugas utama dan pengembangan keprofesian berkelanjutan ditambah angka kredit ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang sesuai dengan bidang tugas yang diampu, dengan memperhitungkan angka kredit unsur penunjang sesuai pada lampiran VIII Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan
Reformasi Birokrasi ini.
(5) Guru yang memperoleh ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV yang tidak sesuai dengan bidang tugas yang diampu, diberikan angka kredit sesuai pada lampiran I Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini.
Pasal 42
Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit Guru golongan II adalah sebagai berikut:
a. Kepala Kantor Departemen Agama bagi Guru mata pelajaran Pendidikan Agama dan Guru pada madrasah.
b. pimpinan unit kerja yang membidangi pendidikan setingkat eselon II bagi Guru
di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Depertemen Agama.
c. Kepala Dinas yang membidangi pendidikan bagi Guru di lingkungan provinsi.
d. Kepala Dinas yang membidangi pendidikan bagi Guru di lingkungan
kabupaten/kota.
Pasal 43
Dalam menjalankan kewenangannya, pejabat berwenang sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 dibantu oleh Tim Penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) huruf d, e, f, dan g.
Pasal 44
Usul penetapan angka kredit Guru golongan II diajukan oleh:
a. Kepala Sekolah yang bersangkutan kepada Kepala Kantor Departemen Agama bagi Guru mata pelajaran Pendidikan Agama dan Guru pada madrasah.
b. Kepala Sekolah yang bersangkutan kepada pimpinan unit kerja yang membidangi pendidikan setingkat eselon II bagi Guru di instansi di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Depertemen Agama.
c. Kepala Sekolah yang bersangkutan kepada Kepala Dinas yang membidangi
pendidikan di kabupaten/kota bagi Guru di lingkungan kabupaten/kota.
d. Kepala Sekolah yang bersangkutan kepada Kepala Dinas yang membidangi
pendidikan di provinsi bagi Guru di lingkungan provinsi.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 45
Ketentuan pelaksanaan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Dan Reformasi Birokrasi ini diatur lebih lanjut oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara.
Pasal 46
Dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini, Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1 993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 47
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 10 November 2009
MENTERI NEGARA
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI,
E. E. MANGINDAAN

LAMPIRAN I: PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009
TANGGAL: 10 November 2009
RINCIAN KEGIATAN GURU DAN ANGKA KREDITNYA
NO UNSUR SUB UNSUR KEGIATAN KODE SATUAN HASIL ANGKA
KREDIT PELAKSANA
1 PENDIDIKAN 1. Mengikuti pendidikan 1.1 Doktor (S-3) 01 Ijazah 200 Semua Jenjang
dan memperoleh 1.2 Magister (S-2) 02 Ijazah 150 Semua Jenjang
gelar/ijazah/akta 1.3 Sarjana (S-1) / Diploma IV 03 Ijazah 100 Semua Jenjang
2. Mengikuti pelatihan 2.1 Pelatihan prajabatan fungsional bagi Guru Calon Pegawai 04 STTPP 3 Semua Jenjang
prajabatan Negeri Sipil / program induksi
2 PEMBELAJARAN/ 1. Melaksanakan proses 1.1 Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, 05 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
BIMBINGAN DAN pembelajaran mengevaluasi dan menilai hasil pembelajaran, menganalisis
TUGASTERTENTU hasil pembelajaran, melaksanakan tindak lanjut hasil
2. Melaksanakan proses 2.1 penilaian Merencanakan pembelajaran dan melaksanakan pembimbingan, 06 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
bimbingan mengevaluasi dan menilai hasil pembimbingan, menganalisis
hasil pembimbingan, melaksanakan tindak lanjut hasil
pembimbingan
3. Melaksanakan tugas lain 3.1 Menjadi Kepala Sekolah/Madrasah per tahun 07 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
yang relevan dengan 3.2 Menjadi Wakil Kepala Sekolah/Madrasah per tahun 08 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
fungsi sekolah /
madrasah. 3.3 Menjadi ketua program keahlian/program studi atau yang
sejenisnya 09 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.4 Menjadi kepala perpustakaan 10 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.5 Menjadi kepala laboratorium, bengkel, unit produksi atau yang 11 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
sejenisnya
3.6 Menjadi pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan inklusi, pendidikan terpadu
atau yang sejenisnya. 12 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.7 Menjadi wali kelas 13 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.8 Menyusun kurikulum pada satuan pendidikannya 14 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.9 Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses 15 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
dan hasil belajar.
3.10 Membimbing guru pemula dalam program induksi 15.a Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.11 Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler 16 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
3.12 Menjadi pembimbing pada penyusunan publikasi ilmiah dan 17 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
karya inovatif
3.13 Melaksanakan pembimbingan pada kelas yang menjadi 18 Laporan Penilaian Kinerja Paket Semua Jenjang
tanggungjawabnya (khusus Guru Kelas)
3 PENGEMBANGAN 1. Melaksanakan 1.1 Mengikuti diklat fungsional:
KEPROFESIAN pengembangan diri a. Lamanya lebih dari 960 jam 19 1. Surat tugas 2. Laporan 15 Semua Jenjang
BERKELANJUTAN deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat
b. Lamanya antara 641 s.d 960 jam 20 1. Surat tugas 2. Laporan 9 Semua Jenjang
deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat

NO UNSUR SUB UNSUR KEGIATAN KODE SATUAN HASIL ANGKA
KREDIT PELAKSANA
c. Lamanya antara 481 s.d 640 jam 21 1. Surat tugas 2. Laporan
deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat 6 Semua Jenjang
d. Lamanya antara 181 s.d 480 jam 22 1. Surat tugas 2. Laporan
deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat 3 Semua Jenjang
e. Lamanya antara 81 s.d 180 jam 23 1. Surat tugas 2. Laporan
deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat 2 Semua Jenjang
f. Lamanya antara 30 s.d 80 jam 24 1. Surat tugas 2. Laporan
deskripsi hasil pelatihan 3.
Sertifikat 1 Semua Jenjang
1.2 Kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi
dan/atau keprofesian guru
a. Lokakarya atau kegiatan bersama (seperti kelompok 25 Surat keterangan dan laporan per 0.15 Semua Jenjang
kerja guru) untuk penyusunan perangkat kurikulum dan
atau pembelajaran kegiatan
b. keikutsertaan pada kegiatan ilmiah (seminar, kologium
dan diskusi panel)
1) Menjadi pembahas pada kegiatan ilmiah 26 Surat keterangan dan laporan per
kegiatan 0.2 Semua Jenjang
2) Menjadi peserta pada kegiatan ilmiah 27 Surat keterangan dan laporan per
kegiatan 0.1 Semua Jenjang
c. Kegiatan kolektif lainnya yang sesuai dengan tugas dan 28 Surat keterangan dan laporan per 0.1 Semua Jenjang
kewajiban guru kegiatan
2 Melaksanakan Publikasi 2.1 Presentasi pada forum ilmiah
Ilmiah a. Menjadi pemrasaran/nara sumber pada seminar atau 29 Surat keterangan dan makalah 0.2 Semua Jenjang
lokakarya ilmiah pemrasaran
b. Menjadi pemrasaran/nara sumber pada koloqium atau 30 Surat keterangan dan makalah 0.2 Semua Jenjang
diskusi ilmiah pemrasaran
2.2 Melaksanakan publikasi Ilmiah hasil penelitian atau gagasan
ilmu pada bidang pendidikan formal.
a. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian
pada bidang pendidikan di sekolahnya,
diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku ber ISBN
dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari
penilaian BNSP. 31 Buku 4 Semua Jenjang
b. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian 32 Karya tulis dalam majalah / jurnal 3 Semua Jenjang
pada bidang pendidikan di sekolahnya,
diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah
tingkat nasional yang terakreditasi. ilmiah
c. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian 33 Karya tulis dalam majalah / jurnal 2 Semua Jenjang
pada bidang pendidikan di sekolahnya,
diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah
tingkat provinsi. ilmiah

NO UNSUR SUB UNSUR KEGIATAN KODE SATUAN HASIL ANGKA
KREDIT PELAKSANA
d. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian 34 Karya tulis dalam majalah / jurnal 1 Semua Jenjang
pada bidang pendidikan di sekolahnya, ilmiah
diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah ilmiah tingkat
kabupaten/ kota.
e. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian
pada bidang pendidikan di sekolahnya, diseminarkan di
sekolahnya, disimpan di perpustakaan. 35 Laporan 4 Semua Jenjang
f. Membuat makalah berupa tinjauan ilmiah dalam 36 Makalah 2 Semua Jenjang
bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya, tidak diterbitkan, disimpan di
perpustakaan.
g. Membuat Tulisan Ilmiah Populer di bidang pendidikan
formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya.
1) Membuat Artikel Ilmiah Populer di bidang 37 Artikel Ilmiah 2 Semua Jenjang
pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya dimuat di media masa tingkat
nasional
2) Membuat Artikel Ilmiah Populer di bidang 38 Artikel Ilmiah 1.5 Semua Jenjang
pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya dimuat di media masa tingkat
provinsi (koran daerah).
h. Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan formal
dan pembelajaran pada satuan pendidikannya.
1) Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan 39 Artikel Ilmiah 2 Semua Jenjang
formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya dan dimuat di jurnal tingkat nasional
yang terakreditasi
2) Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan 40 Artikel Ilmiah 1.5 Semua Jenjang
formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya dan dimuat di jurnal tingkat nasional
yang tidak terakreditasi/tingkat propvinsi.
3) Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan 41 Artikel Ilmiah 1 Semua Jenjang
formal dan pembelajaran pada satuan
pendidikannya dan dimuat di jurnal tingkat lokal
(kabupaten/kota/ sekolah/madrasah dstnya).
2.3 Melaksanakan publikasi buku teks pelajaran, buku
pengayaan, dan pedoman Guru:
a. Membuat buku pelajaran per tingkat/buku pendidikan per
judul:
1) Buku pelajaran yang lolos penilaian oleh BSNP 42 Buku 6 Semua Jenjang
2) Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit dan ber 43 Buku 3 Semua Jenjang
ISBN
3) Buku pelajaran dicetak oleh penerbit tetapi belum 44 Buku 1 Semua Jenjang
ber-ISBN.
b. Membuat modul/diktat pembelajaran per semester:

NO UNSUR SUB UNSUR KEGIATAN KODE SATUAN HASIL ANGKA
KREDIT PELAKSANA
1) Digunakan di tingkat Provinsi dengan pengesahan
dari Dinas Pendidikan Provinsi. 45 Modul /diktat 1.5 Semua Jenjang
2) Digunakan di tingkat kota/kabupaten dengan
pengesahan dari Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. 46 Modul / diktat 1 Semua Jenjang
3) Digunakan di tingkat sekolah/madrasah setempat 47 Modul / diktat 0.5 Semua Jenjang
c. Membuat buku dalam bidang pendidikan:
1) Buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh
penerbit dan ber-ISBN. 48 Buku 3 Semua Jenjang
2) Buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit
tetapi belum ber-ISBN. 49 Buku 1.5 Semua Jenjang
d. Membuat karya hasil terjemahan yang dinyatakan oleh
kepala sekolah/madrasah tiap karya. 50 Karya hasil terjemahan 1 Semua Jenjang
e. Membuat buku pedoman guru 51 Buku 1.5 Semua Jenjang
3 Melaksanakan Karya 3.1 Menemukan teknologi tepatguna
Inovatif a. Kategori Kompleks 52 Hasil karya 4 Semua Jenjang
b. Kategori Sederhana 53 Hasil karya 2 Semua Jenjang
3.2 Menemukan / menciptakan karya seni
a. Kategori kompleks 54 Hasil karya 4 Semua Jenjang
b. Kategori sederhana 55 Hasil karya 2 Semua Jenjang
3.3 Membuat / modifikasi alat pelajaran / peraga / praktikum:
a. Membuat alat pelajaran:
1) Kategori kompleks 56 Alat pelajaran 2 Semua Jenjang
2) Kategori sederhana 57 Alat pelajaran 1 Semua Jenjang
b. Membuat alat peraga:
1) Kategori kompleks 58 Alat peraga 2 Semua Jenjang
2) Kategori sederhana 59 Alat peraga 1 Semua Jenjang
c. Membuat alat praktikum:
1) Kategori kompleks 60 Alat Praktik 4 Semua Jenjang
2) Kategori sederhana 61 Alat Praktik 2 Semua Jenjang
3.4 Mengikuti Pengembangan Penyusunan Standar, Pedoman,
Soal dan sejenisnya
a. Mengikuti Kegiatan Penyusunan Standar/ Pedoman/
Soal dan sejenisnya pada tingkat nasional. 62 SK 1 Semua Jenjang
b. Mengikuti Kegiatan Penyusunan Standar/ Pedoman/
Soal dan sejenisnya pada tingkat provinsi. 63 SK 1 Semua Jenjang
4 PENUNJANG TUGAS 1 Memperoleh gelar/ijazah Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang
GURU yang tidak sesuai diampunya:
dengan bidang yang a. Doktor (S-3) 64 Ijazah 15,00 Semua Jenjang
diampunya b. Pascasarjana (S-2) 65 Ijazah 10,00 Semua Jenjang
c. Sarjana (S-1) / Diploma IV 66 Ijazah 5,00 Semua Jenjang

NO UNSUR SUB UNSUR KEGIATAN KODE SATUAN HASIL ANGKA
KREDIT PELAKSANA
2 Melaksanakan kegiatan Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru:
yang mendukung tugas a. Membimbing siswa dalam praktik kerja nyata / praktik industri 67 laporan 0.17 Semua Jenjang
guru / ekstrakurikuler dan yang sejenisnya
b. Sebagai pengawas ujian penilaian dan evaluasi terhadap
proses dan hasil belajar tingkat :
1) sekolah 68 SK 0.08 Semua Jenjang
2) nasional 69 SK 0.08 Semua Jenjang
c. Menjadi anggota organisasi profesi, sebagai:
1) Pengurus aktif 70 SK 1 Semua Jenjang
2) Anggota aktif 71 SK 0.75 Semua Jenjang
d. Menjadi anggota kegiatan kepramukaan, sebagai:
1) Pengurus aktif 72 SK 1 Semua Jenjang
2) Anggota aktif 73 SK 0.75 Semua Jenjang
e. Menjadi tim penilai angka kredit 74 DUPAK 0.04 Semua Jenjang
f. Menjadi tutor/pelatih/instruktur 75 2 Jampel 0.04 Semua Jenjang
3 Perolehan 3.1 Memperoleh Penghargaan/tanda jasa Satya Lancana
penghargaan/tanda jasa Karya Satya
a. 30 (tiga puluh) tahun 76 Sertifikat/Piagam 3 Semua jenjang
b. 20 (dua puluh) tahun 77 Sertifikat/Piagam 2 Semua jenjang
c. 10 (sepuluh) tahun 78 Sertifikat/Piagam 1 Semua jenjang
3.2 Memperoleh Penghargaan/tanda jasa 79 Sertifikat/Piagam 1 Semua jenjang

MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
APARATUR NEGARA DAN REFORMASI
BIROKRASI,
E. E. MANGINDAAN

LAMPIRAN II: PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI
NOMOR 16 TAHUN 2009
TANGGAL: 10 November 2009

JUMLAH ANGKA KREDIT KUMULATIF MINIMAL
UNTUK PENGANGKATAN DAN KENAIKAN JABATAN / PANGKAT
GURU DENGAN PENDIDIKAN SARJANA (S1) / DIPLOMA IV

NO. U N S U R PROSENTASE JENJANG JABATAN / GOLONGAN RUANG DAN ANGKA KREDIT
PERTAMA MUDA MADYA UTAMA
III/a III/b III/c III/d IV/a IV/b IV/c IV/d IV/e
1 UNSUR UTAMA
A Pendidikan
1. Mengikuti pendidikan dan memperoleh gelar / ijazah / akta 100 100 100 100 100 100 100 100 100
2. Mengikuti pelatihan prajabatan ≤ 90% - 45 90 180 270 405 540 675 855
B Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu
1. Melaksanakan proses pembelajaran
2. Melaksanakan proses bimbingan
3. Melaksanakan tugas laian yang relevan dengan fungsi sekolah / madrasah
C Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
1. Melaksanakan pengembangan diri
2. Melaksanakan publikasi ilmiah
3. Melaksanakan karya inovativ
2 UNSUR PENUNJANG ≥ 10% - 5 10 20 30 45 60 75 95
1. Memperoleh gelar / ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya
2. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru
J U M L A H 100 150 200 300 400 550 700 850 1050

MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI,

E. E. MANGINDAAN

LAMPIRAN IV: PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009
TANGGAL: 10 November 2009
JUMLAH ANGKA KREDIT KUMULATIF MINIMAL
UNTUK PENGANGKATAN DAN KENAIKAN JABATAN / PANGKAT
GURU DENGAN PENDIDIKAN DOKTOR (S3)
JENJANG JABATAN / GOLONGAN RUANG DAN ANGKA KREDIT
NO. U N S U R PROSENTASE MUDA MADYA UTAMA
III/c III/d IV/a IV/b IV/c IV/d IV/e
1 UNSUR UTAMA
A Pendidikan
1. Mengikuti pendidikan dan memperoleh gelar / ijazah / akta 200 200 200 200 200 200 200
2. Mengikuti pelatihan prajabatan
B Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu
1. Melaksanakan proses pembelajaran
2. Melaksanakan proses bimbingan
3. Melaksanakan tugas laian yang relevan dengan fungsi
sekolah / madrasah
C Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
1. Melaksanakan pengembangan diri
2. Melaksanakan publikasi ilmiah
3. Melaksanakan karya inovativ ~ 90% - 90 180 315 450 585 765
2 UNSUR PENUNJANG
1. Memperoleh gelar / ijazah yang tidak sesuai dengan bidang
yang diampunya
2. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru ~ 10% - 1 0 2 0 35 50 65 85
J U M L A H 200 300 400 550 700 850 1050

MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI,
E. E. MANGINDAAN

LAMPIRAN VI: PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009
TANGGAL: 10 November 2009
JUMLAH ANGKA KREDIT KUMULATIF MINIMAL
UNTUK PENGANGKATAN DAN KENAIKAN PANGKAT
GURU DENGAN PENDIDIKAN SLTA / DIPLOMA I
JENJANG PANGKAT / GOLONGAN RUANG DAN ANGKA KREDIT
NO. U N S U R PROSENTASE II/a II/b II/c II/d III/a III/b III/c III/d
1 UNSUR UTAMA
A Pendidikan
1. Mengikuti pendidikan dan memperoleh gelar / ijazah / akta 25 25 25 25 25 25 25 25
2. Mengikuti pelatihan prajabatan
B Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu
1. Melaksanakan proses pembelajaran
2. Melaksanakan proses bimbingan
3. Melaksanakan tugas laian yang relevan dengan fungsi sekolah
/ madrasah
C Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ~ 90% - 13.5 31.5 49.5 67.5 112.5 157.5 247.5
1. Melaksanakan pengembangan diri
2. Melaksanakan publikasi ilmiah
3. Melaksanakan karya inovativ
2 UNSUR PENUNJANG
1. Memperoleh gelar / ijazah yang tidak sesuai dengan bidang ~ 10% - 1.5 3.5 5.5 7.5 12.5 17.5 27.5
yang diampunya
2. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru
J U M L A H 25 40 60 80 100 150 200 300

MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI,
E. E. MANGINDAAN

By ekoendriwiyonowordpress

Instrumen Identifikasi Masalah Siswa

Instrumen Identifikasi Masalah Siswa
Petunjuk!
Di bawah ini dikemukakan bermacam-macam masalah yang mungkin anda alami, karena itu Madrasah ingin membantu anda untuk memecahkan masalah yang anda alami. Untuk itu anda diminta mengajukan permasalahan dengan cara menjawab pernyataan-pernyataan berikut dengan sejujur-jujurnya dengan jalan memberi tanda silang (X) pada kemungkinan jawaban yang cocok dengan kondisi yang kamu alami sesuai dengan masing-masing pernyataan.
Arti dari simbol masing-masing jawaban sebagai berikut
S = Sering
J = Jarang
HT = Hampir tidak pernah
TP = Tidak Pernah

No [

Pernyataan Alternatif Jawaban
S J HT TP
1. Sering sakit
2. Jantung sering berdebar-debar
3. Sering pusing
4. Merasa sering terganggu
5. Perut sering terganggu
6. Sukar tidur
7. Merasa lelah dan tidak bersemangat
8. Sering bermimpi yang menakutkan
9. Mempunyai penyakit kronis (asma, bronkhitis, TBC, dll)
10. Kurang bahagia karena cacat jasmani/rohani
11. Uang sekolah tidak terbayar oleh orang tua
12. Kekurangan biaya untuk membeli alat sekolah/buku pelajaran
13. Kekurangan pakaian untuk sekolah
14. Penghasilan orang tua tidak cukup untuk hidup sehari-hari
15. Makanan sehari-hari kurang memenuhi syarat kesehatan
16. Ibu terpaksa ikut mencari nafkah
17. Di samping sekolah juga bekerja mencari nafkah
18. Setelah tamat Mts terpaksa tidak melanjutkan
19. Mengalami korban perasaan karena sekolah/hidupnya ditanggung oleh orang lain (bukan orang tua sendiri)
20. Sering menerima pemberian /ajakan teman karena uang saku kurang
21. Dirumah tidak mempunyai waktu untuk menghibur diri
22. Merasa sulit memilih bentuk hiburan yang sehat
23. Merasa tidak diberi kesempatan berekreasi keluar rumah
24. Tidak dapat menggunakan waktu terluang secara sehat
25. Pelajaran terganggu
26. Sukar membatasi membaca buku hiburan/majalah/komik
27. Sukar membatasi nonton film/TV/main HP
28. Merasa sulit untuk meninggalkan hobi (bergadang, keluar malam)
29. Terpaksa melakukan hobi/menghibur dengan sembunyi-sembunyi
30. Pernah merasa menyesal yang mendalam karena hobi/menghibur diri yang kurang sehat
31. Dalam pergaulan merasa rendah diri
32. Merasa sukar untuk memulai pekerjaan
33. Merasa diabaikan oleh kawan-kawan
34. Merasa sukar menyesuaikan diri
35. Merasa mudah tersinggung
36. Merasa mudah dipercaya oleh teman-teman
37. Merasa selalu ingin berkuasa/menang sendiri
38. Merasa diancam oleh teman-teman
39. Merasa tidak bebas memilih teman-teman
40. Pernah dicemarkan oleh teman
41. Sulit untuk melakukan ibadah secara teratur/khidmat
42. Ingin pindah agama
43. Sering mempunyai dorongan untuk berdusta/berbuat tidak jujur
44. Sering tidak sadar mengambil barang milik orang lain
45. Merasa sering menyakiti orang lain
46. Sering merasa iri hati terhadap orang lain
47. Sering lupa mengembalikan barang pinjaman
48. Sering mempunyai dorongan untuk melanggar peraturan
49. Sering terganggu dengan perasaan yang aneh
50. Merasa puas bila ada orang lain yang menderita
51. Merasa dimanja oleh orang tua
52. Merasa diabaikan oleh orang tua
53. Tidak hidup bersama orang tua
54. Tidak pernah bergembira bersama orang tua
55. Sering ditinggal pergi oleh orang tua
56. Sering terjadi salah paham/pertentangan dengan orang tua
57. Merasa tidak tahan/jemu di rumah
58. Merasa tidak puas dengan keadaan keluarga sekarang
59. Keluarga hidup berantakan (perceraian, meninggal dunia, perselingkuhan, cekcok)
60. Anggota keluarga tidak saling menyanyangi
61. Ingin mengetahui bakat dan kemampuan yang sebenarnya
62. Merasa sulit menyesuaikan cita-cita dengan kemampuan/bakat
63. Cita-cita tidak sesuai harapan orang tua
64. Belum mempunyai cita-cita/pandangan masa depan yang jelas
65. Merasa kecil hati menghadapi masa depan
66. Merasa bingung setelah tamat akan melanjutkan atau bekerja
67. Sulit untuk memilih kegiatan exstrakurikuler yang tepat
68. Sulit untuk memilih pekerjaan/jabatan yang cocok
69. Merasa tidak ada yang mendorong untuk mencapai cita-cita
70. Cita-cita menjadi hancur karena pengalaman
71. Merasa malas untuk sekolah
72. Ingin pindah sekolah
73. Ingin pindah kelas
74. Merasa tidak tahan lama di kelas/sekolah
75. Merasa tertekan oleh peraturan sekolah
76. Merasa dimusuhi guru
77. Merasa diperlakukan tidak adil di sekolah
78. Sering melarikan diri dari sekolah/kelas
79. Karena pribadi salah seorang guru menyebabkan pelajaran sulit ditangkap
80. Merasa tidak ada gunanya bersekolah
81. Pelajaran di sekolah teralu berat bagiku
82. Pelajaran di sekolah makin lama makin membosankan
83. Guru terlalu cepat menerangkan
84. Terlalu banyak pekerjaan rumah (PR)
85. Suara guru terlalu pelan/tidak jelas
86. Merasa putus asa karena sering memperoleh nilai kurang
87. Lebih senang terhadap pelajaran bahasa daripada yang lain
88. Lebih senang terhadap pelajaran ilmu pasti dan pengetahuan alam daripada yang lain
89. Lebih senang terhadap pelajaran-pelajaran ilmu social daripada yang lain
90. Ada satu/beberapa pelajaran yang merupakan momok/menakutkan bagiku
91. Sulit untuk belajar teratur
92. Sulit untuk memulai belajar
93. Sukar untuk memusatkan perhatian (berkonsentrasi) pada waktu belajar
94. Lekas merasa lelah/pusing/bosan saat belajar
95. Pada waktu belajar sering mengalami gangguan dari teman/keluarga/hal-hal lain
96. Sukar belajar bila tidak sambil makan makanan/membaca komik/mendengar radio, dsb.
97. Tempat belajar selalu berpindah-pindah
98. Belajar sambil tiduran
99. Merasa bahwa yang dipelajari mudah sekali hilang
100. Sulit untuk dapat belajar bersama-sama teman/saudara
101. Pada waktu ulangan umum sering merasa sakit
102. Pada waktu ulangan sering perut merasa sakit/ingin buang air
103. Sering timbul rasa percaya diri terhadap pekerjaan sendiri
104. Kurang teliti dalam mengerjakan ulangan
105. Sering merasa putus asa pada waktu ulangan
106. Pada waktu ulangan merasa diawasi guru
107. Hasil ulangan sering tidak sesuai dengan hasil yang dibayangkan sebelumnya
108. Ulangan merupakan siksaan bagiku
109. Sering terpaksa tidak masuk/lari dari sekolah karena takut ulangan
110. Sering merasa bahwa waktu yang disediakan untuk mengerjakan ulangan terlalu banyak
111. Merasa mulai mencintai seseorang
112. Merasa mulai dicintai seseorang
113. Merasa diganggu oleh seseorang
114. Pernah dikecewakan oleh seseorang
115. Orang tuaku melarang pacaran
116. Terpaksa menjalin hubungan (pacaran) sembunyi-senbunyi
117. Sering terganggu oleh rasa cemburu
118. Sering merasa terpengaruh oleh pergaulan muda-mudi
119. Merasa terpengaruh apabila melihat tayangan/video porno
120. Lebih senang bermesra-mesraan dengan jenis kelamin yang sama

No. Alternative Jawaban
S J HT TP
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
jmlah
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
jmlah
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
jmlah
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
jmlah
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
jmlah
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
jmlah

No. Alternative Jawaban
S J HT TP
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
jmlah
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
jmlah
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
jmlah
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
jmlah
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
jmlah
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
jmlah

By ekoendriwiyonowordpress

MODEL MODEL KONSELING

MODEL-MODEL KONSELING

Lutfi Fauzan

KARAKTERISTIK KONSELING
• Proses bantuan (helping process)
• Interaksi/hubungan manusiawi  bersifat intelektual, emosional, perilaku
• memfasilitasi perkembangan/pemecahan masalah/pengambilan putusan
Batasan konseling sesuai dengan pendekatan/model masing-masing

BAGAIMANA MEMULAI KONSELING
Teori-Model

Praktik Falsafah Pribadi

Personal Counseling
PENTINGNYA TEORI DAN MODEL
• Mensistematikkan temuan-temuan
o fenomena kompleks  ditata sehingga dapat dianalisis,
o memperli¬hatkan kaitan hasil-hasil eksperimen/penelitian

membantu pemahaman,
(sejumlah besar fenomena diatur dalam suatu skema yang koheren)
• Melahirkan hipotesis-hipotesis
o teori sebagai pembangkit hipote¬sis penelitian.
o memberi arah di mana mencari jawaban atas per¬tanyaan.

menghemat usaha dalam penelitian
• Membuat prediksi
o perlihatkan apa yang mungkin ditemukan, bila dilakukan eksperi¬men/pengamatan.
• Memberikan penjelasan menjawab pertanyaan “mengapa”.
o Mengapa terjadi peristiwa-peristiwa tertentu, dan
o Mengapa manipulasi variabel menghasilkan perubahanh pada variabel lain.
Banyak ke¬jadian disebabkan faktor yg tidak diketahui dg sempurna.

dijelaskan secara teoretis.
TEORI
• sejumlah propo¬sisi yang terintegrasi secara sintaktik: ikuti aturan trt yg dpt menghu-bungkan secara logis proposisi satu dengan yang lain; juga pada data yang diamati
• untuk pre¬diksi & jelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati
MODEL
• struktur konseptual dalam suatu bidang
• Bimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain
• biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang
• mempunyai sifat “jika-maka”, dan terikat pada teori

VERIFIKASI TEORI/MODEL KONSELING
• Jelas, mudah difahami dan dikomunikasikan, konsepnya serasi
• Menyeluruh, jelaskan berbagai fenomena dalam berbagai situasi
• Membangkitkan riset
• Mengaitkan cara dengan hasil, kaitkan prosedur dan tujuan
• Berguna bagi praktisi
ORIENTASI TEORI/MODEL KONSELING

Afektif

Perilaku Kognitif

Berikut ini perkenalan singkat dengan dengan tiga model konseling yang mewakili corak afektif, kognitif, dan perilaku.

PERSON CENTERED (KONSELING BERPUSAT PRIBADI)

Model konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl R. Rogers. Sebagai hampiran keilmuan merupakan cabang dari psikologi humanistik yang menekankan model fenomenologis. Konseling person-centered mula-mula dikembangkan pada 1940 an sebagai reaksi terhadap konseling psychoanalytic. Semula dikenal sebagai model nondirektif, kemudian diubah menjadi client-centered, dan terakhir person-centered. Didasarkan pada pandangan subjektif terhadap pengalaman manusia, menekankan sumber daya konseli untuk menjadi sadar diri self-aware dan untuk pemecahan hambatan ke pertumbuhan pribadi. Model ini meletakkan konseli, bukan konselor, sebagai pusat konseling.

Falsafah dan Asumsi Dasar
Model ini berdasarkan pada pandangan positif tentang manusia yang melihat orang memiliki sifat bawaan berjuang keras ke arah menjadi untuk berfungsi secara penuh (becoming fully functioning). Asumsi dasarnya adalah: dalam konteks suatu hubungan pribadi dengan kepedulian konselor, konseli mengalami perasaan yang sebelumnya ditolak atau disimpangkan dan peningkatan self-awareness. Konseli diberdayakan melalui partisipasi mereka dalam hubungan konseling. Mereka mewujudkan potensi mereka untuk tumbuh, utuh, spontan, dan diarahkan dari motivasi internal (inner-directedness).

Konsep utama
Setiap orang dapat mengarahkan hidup dirinya sendiri. Konseli mempunyai kapasitas untuk memecahkan permasalahan hidup secara efektif tanpa penafsiran dan arahan konselor ahli. Model ini memusatkan proses pada mengalami secara penuh momen saat ini, belajar untuk menerima dirinya, dan memutuskan cara untuk berubah. Ia memandang kesehatan mental sebagai sama dan sebangun antara apa yang orang inginkan untuk menjadi dan apa yang benar-benar terjadi.
Tujuan Konseling
Tujuan utama konseling adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.
Hubungan Konseling
Rogers menekankan sikap dan karakteristik pribadi konselor dan mutu dari hubungan konseli/konselor sebagai faktor penentu utama dari hasil konseling. Kualitas konselor yang menentukan hubungan meliputi keaslian/ketulusan (genuineness), kehangatan (warmth), empati yang akurat (accurate empathy), penerimaan dan penghormatan tanpa syarat terhadap konseli (unconditional acceptance of and respect), memberikan kebebasan (permis¬siveness), kepedulian (caring), dan mengkomunikasikan sikap itu semua kepada konseli. Melalui hubungan sedemikian itu, konseli dapat menerjemahkan belajarnya di dalam konseling ke hubungan di luar dengan orang lain.

Teknik dan Prosedur
Sebab model menekankan hubungan konseli-konselor, teknik-tekniknya terbatas. Teknik hanyalah sekunder dibandingkan sikap konselor. Model ini meminimalkan teknik-teknik direktif, penafsiran, tanya jawab, penyelidikan, diagnosis, dan pengumpulan sejarah. Proses lebih memaksimalkan mendengarkan dan mendengar aktip, pemantulan perasaan, dan klarifikasi. Keterlibatan penuh dari konselor sebagai pribadi dalam hubungan konseling lebih ditekankan.

Aplikasi
Model ini mempunyai lapangan aplikasi yang luas pada banyak situasi pribadi ke pribadi. Ia bermanfaat untuk konseling individu dan kelompok, PBM yang berpusat pada siswa, hubungan orang tua-anak, dan laboratorium pelatihan hubungan antarmanusia; dan utamanya cocok untuk tahap awal kerja intervensi krisis. Prinsip-prinsipnya telah diterapkan pada administrasi dan manajemen dan untuk bekerjasama dalam institusi dan sistem.
Kontribusi
Model ini menjadi salah satu dari yang pertama mematahkan konseling psikoanalisa tradisional, menekankan tanggung jawab dan peran aktip konseli, menghadirkan pandangan yang positif dan optimis dan memberikan perhatian akan kebutuhan untuk memperhitungkan aspek kedalaman pribadi dan pengalaman subjektif. Ia mengutamakan proses konseling yang berpusat pada hubungan dibandingkan mengutamakan teknik. Model ini memusatkan pada peran penting dari sikap konselor. Model telah menghasilkan banyak riset klinis baik dalam hal proses maupun hasil konseling, yang pada gilirannya telah mendorong pelahiran hipotesis-hipotesis tentatatif. Model ini juga telah diterapkan pada orang-orang dari budaya yang berbeda secara bersama-sama. Prinsip-prinsipnya bernilai dan bermanfaat diaplikasikan pada latar multibudaya.
Keterbatasan
Ada kemungkinan bahaya menjadi konselor yang melulu merefleksikan isi, ketika membawa sedikit kepribadiannya ke dalam hubungan konseling. Model terbatas dalam menggunakan bahasa nonverbal konseli. Sebagai suatu model ahistorik cenderung kurang memperhitungkan arti masa lampau. Sebagian dari keterbatasan yang utama tampak bukan karena teorinya tetapi karena beberapa kesalahpahaman konselor terhadap konsep dasar dan aplikasi praktis mereka yang dogmatis.

By ekoendriwiyonowordpress

TEKNIK-TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

TEKNIK-TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

1. PENDAHULUAN
Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu, bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di.SMA pada saat itu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, dalam kurikulum 1975 sampai kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan , kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. sampai dengan sekarang. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konselor, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut, didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang dapat memberikan manfaat banyak, hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konselor.
Dalam tataran teoritis, teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran – mata pelajaran di sekolah. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling, baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. Di sisi lain, teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling.
Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat, karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kesan lama, Guru Pembimbing sebagai “polisi sekolah“ atau “Polisi Susila”pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat, khususnya di kalangan siswa dan guru bahkan dikalangan kepala sekolah.
Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik, Guru Pembimbing dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat, melalui berbagai bentuk aturan, ketentuan, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis dan sebagainya. Akibatnya, ruang gerak Guru Pembimbing menjadi terbatasi, sehingga pada akhirnya menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan Guru Pembimbing pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal, namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. Maka, muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan, seperti : kerja yang sifatnya rutinitas, masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja.
Dengan hadirnya otonomi pendidikan sampai ketingkat satuan pendidikan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional, maka ruang gerak Guru Pembimbing menjadi lebih leluasa. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Guru Pembimbing didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Dengan kata lain, memasuki alam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Guru Pembimbing dituntut bekerja secara profesional.
Dari sini, timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini, tentu saja Guru Pembimbing seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional.
Guru Pembimbing seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya, akan tetapi justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya señalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi sehingga tidak menjadi terpuruk secara profesional.
Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling, atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs dalam internet, yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini, termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. Sedangkan secara langsung, dapat dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan, seperti : seminar, penataran dan pelatihan, atau mengikuti kegiatan MGP , aktif dalam organisasi profesi ABKINdan melalui jenjang pendidikan formal.
Secara realita saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh Guru Pembimbing masih beragam, baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Bagi Guru Pembimbing yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan, barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Sementara, bagi kawan-kawan Guru Pembimbing yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan, dalam rangka memantapkan diri sebagai Guru Pembimbing, tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling; sehingga pada gilirannya, dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan dan konseling benar-benar telah ditopang oleh fondasi keilmuan yang mantap dan memadai.
Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan, salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Misalkan, untuk menguasai teknik-teknik bimbingan dan teknik-teknik konseling, tentunya Guru Pembimbing harus mempraktekkan sendiri secara langsung yang diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan, kemudian membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada, sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulannya. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan, dengan bercermin dari kekurangan- kekurangan pada praktek konseling sebelumnya.
Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya, dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha kajian ilmiah yang disebut penelitian tindakan bimbingan. Walaupun demikian perlu dicatat, bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh, hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara, sejalan dengan tuntutan profesionalisme sehingga tidak justyru menambah permasalahan baru di kalangan profesi guru pembimbing.

2. PEMBAHASAN

Subjek sasaran bimbingan dan konseling adalah individu sebagai pribadi dengan karakteristiknya yang unik. Artinya tidak ada dua orang individu yang memiliki karekteristik yang sama. Atas dasar karakteristik pribadinya, guru pembimbing memberikan bantuan agar individu dapat berkembang optimal melalui proses pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan aktualisasi diri.. Untuk itu seyogyanya Guru Pembimbing memahami pribadi setiap individu yang dibimbing sehingga dapat melakukan tugasnya membantu siswa ke arah perkembangan yang optimal. Untuk hal ini, maka menurut Moh Surya( 1998: 4.1), Guru Pembimbing dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu : (1) Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan (2) Kemampuan dan keterampilan berupa teknik membantu individu. Dengan demikian teknik-teknik bimbingan dan konseling, mencakup teknik memahami individu dan teknik-teknik membantu individu.

2.1. Pemahaman Individu.
Pemahaman individu adalah merupakan awal dari kegiatan bimbingan dan konseling. Tanpa adanya pemahaman terhadap individu, sangat sulit bagi Guru Pembimbing untuk memberikan bantuan karena pada dasarnya bimbingan adalah bantuan dalam rangka pengembangan pribadi. Adapun hal-hal yang perlu dipahami dari seorang individu dalam rangka pelaksanaan bimbingan dan konseling, adalah sebagai berikut :
1) Identitas diri, yaitu berbagai aspek yang secara langsung menjadi keunikan pribadi..
2) Kondisi jasmaniah dan kesehatan.
3) Kapasitas ( umum/Intligensi dan khusus/Bakau) dan kecakapan
4) Sikap dan minat
5) Watak dan tempramen.
6) Cita-cita sekolah dan pekerjaan.Aktivitas social
7) Hobi dan pengisian waktu Luang.
8) Kelebihan atau keluarbiasaan dan kelainan-kelainan yang dimiliki.
9) Latar belakang keluarga siswa.

2.1.1. Sumber Data Untuk Pemahaman Individu
Pemahaman individu siswa dapat dilakukan melalui beberapa sumber yaitu :
1) Sumber pertama yaitu siswa itu sendiri yang dapat dilakukan melalui wawancara, observasi ataupun teknik pengukuran.
2) Sumber kedua, yaitu orang tua siswa dan keluarga terdekat siswa, guru-guru yang pernah mengajar dan bergaul lama dengan siswa, temannya, dokter pribadi dsb.

2.1.2. Teknik-Teknik Pemahaman individu.
Adapun teknik-teknik pemahaman individu dapat dikelompokkan menjadi teknik tes dan non tes. Teknik tes bisa membuat sendiri dan bisa pula mohon bantuan dari ahli lain yang kompeten untuk itu.
Teknik tes dalam pelayanan bimbingan dan konseling dapat dikelompokkan menjadi :
1) tes intligensi,
2) tes bakat,
3) tes bakat,
4) tes/Inventory minat,
5)tes bakat dan
6) tes prestasi belajar
sedangkan teknik non tes terdiri dari :
1) observasi
2) Catatan anekdot
3) Daftar Cek( Check List).
4) Skala Penilaian( rating Scale)
5) Wawancara.
6) Angket
7) Biografi atau auto biografi
8) Sosiometri
9) Studi dokumentasi
10) Studi kasus( case study)

2.2. Teknik-Teknik Memberi Bantuan
Teknik memberi bantuan dibedakan menjadi dua yaitu teknik-teknik bimbingan dan teknik-teknik konseling.

2.2.1. Teknik Bimbingan.
Bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu dalam rangka mencegah dan menghindari terjadi masalah dalam kehidupannya dapat menggunakan beberapa pendekatan, yaitu :
1) Pendekatan individual, yaitu memberikan bimbingan secara individu sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya.
2) Kelompok, yaitu melayani sejumlah peserta didik yang memiliki kebutuhan yang sama.
3) Klasikal, yaitu melayani peserta didik secara klas tanpa adanya pemisahan.
4) Dengan cara “alih tangan”, yaitu meminta bantuan pihak lain yang dipandang lebih competen. Alih tangan dapat berlangsung secara internal dan eksternal. Secara internal apabila alih tangan dilakukan pada lingkup area satu sekolah. Sedangkan eksternal apabila dialihkan pada pihak-pihak lain di luar sekolah, seperti psikoloog, dokter.
Dalam pelaksanaan bimbingan dapat menggunakan beberapa teknik, seperti : wawancara, dialog, diskusi kelompok, bimbingan kelompok, simulasi, bermain peran, demonstrasi, ceramah, karya wisata, mendatangkan nara sumber, studi pustaka dan sebagainya.

2.2.2. Teknik-Teknik Konseling.

2.2.2.1. Konseling Perorangan
1). Pengertian

Konseling Perorangan adalah merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang bermasalah guna mengentaskan masalahnya, demi tercapainya tujuan dan kebahagian hidupnya. Konseling perorangan dilakukan dengan wawancara interpersonal antara Guru Pembimbing dengan siswa yang dibantu.

2) Tahap-Tahapan Dalam Konseling Perorangan

4.1. Tahap Awal :

Pada tahap ini dilakukan pembinaan hubungan baik dengan siswa yang dibantu. Kontak awal antara pembimbing dengan siterbimbing akan sangat mempengaruhi wawancara konseling. Pada tahap awal ini yang perlu dilakukan adalah :
a. Penataan ruangan/fisik/mencari tempat yang kondusif
b. Sambutan dan perhatian terhadap kehadiran klien
c. Penjelasan maksud dan tujuan konseling
d. Penjelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing

4.2. Tahap Kegiatan :

Pada tahap ini si pembimbing dengan beragam ketrampilan wawancara konselingnya berupaya untuk mendorong siswa ke arah pemahaman diri dan lingkungannya dalam kaitannya denga masalah yang sedang dihadapinya.

4.3. Tahap Akhir,

Tujuan tahap ini adalah agar siterbantu mampu menciptakan tindakan dan merencanakan, melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman selama proses wawancara konseling berlangsung. Pada tahap ini perlu pula digali kesan siswa/klien selama proses wawancara berlangsung.

3) Teknik-Teknik Konseling Perorangan

Secara umum dalam wawancara konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan khusus, yaitu : a) Direktif Konseling, b) Non Direktif Konseling, c) Eklektik Konseling.

a) Direktif Konseling
Teknik ini dicetuskan oleh Edmond G. Williamson. Dengan teknik ini, proses konseling kebanyakan berada ditangan konselor. Dengan kata lain konselor lebih banyak mengambil inisiatif sedangkan klien tingla menerima apa yang dikemukakan oleh konselor
Ciri-Ciri Direktif Konseling :
 Sebagian besar tanggung jawab dan pengambilan keputusan ada di tangan konselor.
 Konselor menyimpulkan berbagai data, informasi, fakta mengenai masalah klien.
 Konselor bersama klien mempelajari berbagai macam data dan informasi dalam rangka pengambilan keputusan.
 Klien menerima keputusan langsung dari konselor
 Klien melaksanakan keputusan dan menyempurbnakan keputusannya.
Williamson juga menyarankan langkah-langkah dalam konseling secara berturut-turut, yaitu : analisis, sintesis, diagnosis, prognosis, treatment, follow-up.

b) Non Direktif Konseling.
Teknik ini sering juga disebut “Client Centered counseling” yang memberikan gambaran bahwa yang menjadi pusat dalam konseling adalah klien. Dengan teknik ini aktivitas konseling sebagian besar ada ditangan klien. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Rogers.

Ciri-Ciri Non Directive Counseling :
 Menekankan pada aktivitas dan tanggung jawab klien.
 Menuntut konselor untuk mengadakan hubungan secara efektif dengan klien.
 Masalah-masalah yang dipecahkan adalah masalah-masalah actual.
 Penekanan konseling pada sikap menerima dan memahami.
 Klien memecahkan masalahnya sendiri melalui perasaannya sendiri.

c. Eclectic Counseling
Teknik ini dipelopori oleh F.P Robinson. Teknik ini pada prinsipnya menggunakan penggabungan antara direktif dan non direktif konseling. Konselor menggunakan kedua pendekatan secara melengkapi sesuai dengan situasi dan kondisi klien serta sifat masalah klien.. Kondisi ini menuntut bahwa seorang konselor harus fleksibel dengan keahlian yang memadai dan pengalaman yang cukup Langkah-langkah konseling ini tidak dapat dirumuskan secara jelas karena dapat saja konselor menggunakan kedua pendekatan seperti di atas secara bergantian atau secara bersama-sama sekaligus sesuai dengan sifat masalah dan kondisi klien.

4) Ragam Keterampilan Konseling :

a. Memperhatikan (Atending), dapat diartikan sebagai ketrampilan konselor untuk menjadikan siswa terlibat dan terbuka dalam wawancara konseling. Ketrampilan ini mencakup : kontak mata, bahasa badan dan bahasa verbal. Ciri-ciri memperhatikan yang baik adalah : mengangguk bila setuju, wajah tenang, ceria, senyum, posisi tubuh condong ke depan kearah siswa yang dibantu, akrab penuh humor dan variasi, gerakan tangan sifatnya spontan dan tidak kaku, mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian, sabar menunggu ucapan siswa yang dibantu hingga selesai, menunggu bereaksi pada saat yang tepat, perhatian terarah pada siswa yang dibantu.
b. Merasakan (Empati), adalah kemampuan pembimbing untuk merasakan apa yang dirasakan siswa yang dibantu, merasa dan berpikir bersama klien dan bukan berpikir dan merasa tentang klien.
c. Memantulkan kembali (Refleksi), adalah memantilkan perasaan, pikiran dan pengalaman siswa sebagai hasil pengamatan pembimbing terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.
d. Menggali (Eksplorasi), adalah tekhnik untuk menggali perasaan, pikiran dan pengalaman siswa yang dibantu. Hal ini dilakukan karena pada umumnya klien menyimpan rahasia bathin, menutup diri atau tidak mampu mengungkapkan perasaan, pikiran dan pengalaman kehidupannya secara terbuka.
e. Menangkap Pesan Utama, adalah sipembimbing agar mampu menangkap inti atau pokok permasalahan dari pernyataan-pernytaan siswa yang cukup panjang.
f. Bertanya, dalam hal ini pembimbing dalam proses wawancara konseling sebaiknya bertanya dengan kata-kata yang mampu membuka diri siswa seperti : apakah…? bagaimanakah…, adakah…,dapatkah…, dsbnya. Hindarkan penggunaan kata Tanya yang sifatnya menyelidiki, seperti : mengapa, untuk apa…
g. Dorongan Minimal, adalah suatu ketrampilan pengulangan langsung dengan singkat tentang apa yang dikatakan siswa dan selanjutnya untuk diberikan komentar singkat, seperti : oh…ya….,terus…,lalu…,dan…selanjutnya…
h. Mengulas (Interpretasi) adalah ketrampilan pembimbing untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan mrujuk pada teori dan pengalaman.
i. Mengarahkan (directing), adalah ketrampilan untuk memotivasi klien untuk berbuat atau melakukan sesuatu.
j. Menyimpulkan, adalah ketrampilan pembimbing pada saat yang tepat untuk bersama sama dengan klien menyimpulkan setahap demi setahap tentang pembicaraan yang telah di lakukan dan alternative jalan keluar yang akan dilakukan oleh siswa sehubungan dengan pembahasan yang sedang berlangsung.

5) Langkah-Langkah Konseling :

a. Analisa : Pengumpulan data, fakta dan informasi tentang diri klien
b. Sintesa : Merangkum dan menyusun data untuk memperoleh ganbaran diri siswa
c. Diagnosa : Perumusan kesimpulan sementara tentang hakekat atau sebab yang dihadapi
d. Prognosa : Ramalan tentang hasil yang dicapai dalam proses konseling
e. Treatment : Proses konseling
f. Tindak lanjut/Follow up:mengevaluasi hasil konseling yang telah dilakukan dan mengambil langkah selanjutnya

6) Percatatan Konseling
Proses layanan konseling hendaknya dicatat dengan baik dalam satu buku dan ditempatkan pada tempat yang cukup rahasia. Adapun hal-hal yang perlu dicatat seperti :
a. Nomor konseling
b. Nama klien/kelas
c. Masalah yang dikonsultasikan
d. Hasil proses konseling
e. Catatan-catatan penting untuk diingat/ditindaklanjuti
f. Petugas yang menangani.

2.2.2.2. Konseling Kelompok

1) Pengertian:

Layanan Konseling kelompok adalah layanan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan membahas dan mengentaskan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Masalah yang dibahas adalah masalah masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.

2) Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyelenggaraan Konseling Kelompok

a. Membina keakraban dalam kelompok
b. Melibatkan diri secara penuh dalam suasana kelompok
c. Bersama-sama mencapai tujuan kelompok
d. Membina dan mematuhi aturan kegiatan kelompok
e. ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok
f. Berkomunikasi secara bebas dan terbuka
g. Membantu anggota lain dalam kelompok
h. memberikan kesempatan kepada anggota lain dalam kelompok
i. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok

3) Tahap-Tahap Penyelenggaran Konseling Kelompok

a. Tahap Pembentukan :
a). Mengungkap pengenalan dan tujuan kegiatan
b). Menjelaskan cara pelaksanaan
c). Menjelaskan Azas-azas kegiatan
d). Saling memperkenalkan dan mengungkap diri
e). Teknik Khusus
f). Permainan pengakraban

b. Tahap Peralihan :
a). Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada tahap berikutnya
b). Membahas suasana yang terjadi
c). Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota

c. Tahap Kegiatan :
a). Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah
b). Menetapkan masalah atau topic yang akan dibahas
c). Anggota kelompok membahas masing-masing topic secara mendalam dan tuntas
d). Kegiatan selingan

d. Tahap Pengakhiran :
a). Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri
b). Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil kegiatan
c). Membahas kegiatan lanjutan
d). mengemukakan pesan dan harapan

3. KESIMPULAN

3.1. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat, karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas.
3.2. Kesan lama, Guru Pembimbing sebagai “polisi sekolah“ atau “Polisi Susila” hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat, khususnya di kalangan siswa dan guru bahkan dikalangan kepala sekolah.
3.3. Guru Pembimbing dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu : (1) Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan (2) Kemampuan dan keterampilan berupa teknik membantu individu.
3.4. Teknik-teknik pemahaman individu dapat dikelompokkan menjadi teknik tes dan non tes.
3.5. Teknik memberi bantuan dibedakan menjadi dua yaitu teknik-teknik bimbingan dan teknik-teknik konseling.
3.6. Teknik bimbingan secara umum dapat dilakukan dengan pendekatan individual, kelompok, klasikal dan “alih tangan” Dalam pelaksanaan bimbingan dapat menggunakan beberapa teknik, seperti : wawancara, dialog, diskusi kelompok, bimbingan kelompok, simulasi, bermain peran, demonstrasi, ceramah, karya wisata, mendatangkan nara sumber, studi pustaka dan sebagainya.
3.7. Secara umum dalam wawancara konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan khusus, yaitu : a) Direktif Konseling, b) Non Direktif Konseling, c) Eklektik Konseling.

Kepustakaan

Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Layanan Konseling Perorangan, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 1998

Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Layanan Bimbingan Kelompok dan Layanan Konseling Kelompok, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 1998

Departemen Pendidikan Nasional.2004. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah.

Sukardi.D. Ketut. 1983. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah, Surabaya. Usaha Nasional.

Surya,H.M. 1998. Buku Materi Pokok Bimbingan dan Konseling. Yakarta. Universitas Terbuka.

By ekoendriwiyonowordpress

Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Pengantar

Pelayanan Konseling yang mulai dikenal di Indonesia sejak dekade tahun 1960-an (semula dikenal dengan nama pelayanan Bimbingan dan Penyuluhan, kemudian berubah menjadi pelayanan Bimbingan dan Konseling) mendapat posisi yang cukup proporsional dan menentukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan isi pokok materi yang tertuang di dalam Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengertian kurikulum yang digunakan dalam KTSP adalah “seperangkat kegiatan belajar yang dijalani peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan”. Dengan pengertian itu, KTSP meliputi sejumlah komponen pokok, yaitu komponen mata pelajaran dan muatan lokal, serta komponen pengembangan diri yang mencakup pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. Sebagai perangkat pemberlakuan KTSP, khususnya untuk komponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler, Pusat Kurikulum Balitbang Diknas telah menyusun panduan dengan judul Panduan Pengembangan Diri untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, berdasarkan Permendiknas yang dimaksud. Panduan ini telah disosialisasikan ke seluruh tanah air.

Untuk lebih menegaskan dan mengkhususkan fokus kinerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling (PPPPTK Penjas dan BK), khususnya bidang Pelayanan Konseling berdasarkan KTSP, PPPPTK Penjas dan BK menyiapkan Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Materi Pedoman Pelaksanaan yang dikembangkan oleh PPPPTK Penjas dan BK ini sepenuhnya diambil dari Panduan Pengembangan Diri yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Pusat Kurikulum, khususnya bagian tentang Pelayanan Konseling. Di samping itu, Pedoman Pelaksanaan tersebut juga mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang sangat relevan dengan pengembangan dan pemantapan profesionalisasi pelayanan konseling dan kinerja para pelaksananya di lapangan, yaitu para Guru Pembimbing (konselor sekolah/madrasah). Secara keseluruhan, Pedoman Pelayanan Konseling yang materi pokoknya diambil dari panduan yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum itu, merupakan penyempurnaan dari pedoman-pedoman pelaksanaan pelayanan konseling terdahulu yang telah dikembangkan dan ditatarkan kepada Guru Pembimbing (konselor sekolah) se Indonesia oleh PPPPTK Penjas dan BK dahulu bernama PPPG Keguruan sejak tahun 1993

Dengan dikeluarkannya Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling ini sangat diharapkan adanya satu pemahaman yang jelas dan mantap, sambil tetap sinkron dengan panduan yang telah dikembangkan oleh Pusat Kurikulum, tentang pelaksanaan pelayanan konseling di sekolah/madrasah oleh para Guru Pembimbing (konselor sekolah). Lebih jauh, Pedoman Pelaksanaan tersebut digunakan oleh PPPPTK Penjas dan BK sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kelembagaan PPPPTK Penjas dan BK, untuk menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang akan dijadikan Standar Pelatihan bagi para Guru Pembimbing (konselor sekolah) di seluruh Indonesia.

Dengan digunakannya buku Pedoman ini pelaksanaan praktik konseling dapat berjalan dengan lancar, terarah dan berhasil sesuai dengan kaidah-kaidah pelayanan sebagai sebuah profesi dalam bidang pendidikan. Demikian juga penyelenggaraan pelatihannya pada berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan bagi Guru Pembimbing (konselor sekolah) di serluruh Indonesia. Semua pihak yang terkait di dalam lingkungan sekolah/madrasah dan pihak lain di luar sekolah, baik pihak formal maupun nonformal di bidang pendidikan diharapkan dapat berpartisipasi secara optimal demi suksesnya pelayanan professional konseling yang dimaksud.

Dengan tersusunnya Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Mengengah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi didalamnya.

Parung, April 2008

Dr. Sarono, M.Ed
NIP. 130873243

DAFTAR ISI

PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………. .i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Trilogi Profesi Pendidik ………………………………………………………. 1
B. Komponen Profesi Guru Pembimbing /konselor sekolah………………… 2
C. Pelayanan Konseling dalam KTSP …………………………………………… 4

BAB II STRUKTUR PELAYANAN KONSELING
A. Pengertian, Paradigma, Visi dan Misi 6
B. Tugas Perkembangan Peserta Didik SMP/MTs 7
C. Bidang Pelayanan …………………………………………………………………… 8
D. Fungsi Konseling …………………………………………………………………….. 8
E. Prinsip dan Asas …………………………………………………………………….. 9
F. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung ………………………………. 9
G. Bentuk Kegiatan 11
H. Program Pelayanan 11

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN DAN PENILAIAN KEGIATAN
A. Perencanaan Kegiatan 13
B. Pelaksanaan Kegiatan 13
C. Penilaian Kegiatan 15
D. Pelaksana Kegiatan 16

BAB IV PENGELOLAAN KEGIATAN

A. Pengelolaan Berbasis Kinerja 17
B. Pengawasan Kegiatan 19

LAMPIRAN 20

BAB I
PENDAHULUAN

A. Trilogi Profesi Pendidik
Di awal abad ke-21 ini dunia pendidikan di Indonesia mulai memasuki era profesional. Hal ini ditandai dengan penegasan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional” (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat 2), dan “profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi” (UU No.14 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 4).
Untuk menjadi profesional seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi, yaitu (1) komponen dasar keilmuan, (2) komponen substansi profesi, dan (3) komponen praktik profesi, sebagaimana gambar berikut

Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan sasaran pelayanan. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi dan pendidikan akademik yang mendasarinya.
Guru pembimbing/konselor sekolah, yang adalah pendidik (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) , sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan, khususnya bidang konseling, yaitu
• Komponen Dasar Keilmuan : Ilmu Pendidikan
• Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling.
• Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling.
B. Komponen Profesi Guru pembimbing/konselor sekolah
1. Ilmu Pendidikan
Guru pembimbing/konselor sekolah diwajibkan menguasai ilmu pendidikan sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling, karena guru pembimbing/konselor sekolah digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik; dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang guru pembimbing/konselor sekolah pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. Atas dasar keilmuan inilah guru pembimbing/konselor sekolah akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik melalui modus pelayanan konseling. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan bersama guru pembimbing/konselor sekolahnya. Dalam arti yang demikian pulalah, guru pembimbing/konselor sekolah sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran.

2. Substansi Profesi Konseling
Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu guru pembimbing/konselor sekolah membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling, pendekatan, dan teknologi pelayanan, pengelolaan dan evaluasi, serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling*).
Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif sehari-hari (KES). Dalam hal ini, sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Dengan demikian, pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KES-T.
Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi, pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling, guru pembimbing/konselor sekolah wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori, acuan praksis, standar prosedur operasional (SPO), serta implementasinya dalam praktik konseling. Pendekatan dan teknologi, pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi, sosiologi, teknologi- informasi-komunikasi sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling.
3. Praktik Pelayanan Konseling
Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling di satuan pendidikan. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh guru pembimbing/konselor sekolah terhadap sasaran pelayanan. Demikian pula mutu kinerja guru pembimbing/konselor sekolah di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya.
Penguasaan guru pembimbing/konselor sekolah atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperolah dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) ditambah dengan pendidikan profesi guru pembimbing/konselor sekolah (PPK). Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan.

C. Pelayanan Konseling dalam KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum pendidikan yang diberlakukan untuk setiap satuan pendidikan yang didasarkan pada Peraturan Materi Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Permen Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. KTSP meliputi tiga komponen, yaitu komponen mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Komponen pengembangan diri terdiri dari dua sub-komponen, yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. KTSP yang meliputi tiga komponen itu digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Pengertian kurikulum yang digunakan dalam KTSP adalah “semua kegiatan belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan”. Dengan pengertian tersebut, selain mata pelajaran, yang termasuk juga ke dalam kurikulum satuan pendidikan adalah muatan lokal, pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikler. Segenap komponen dan sub-komponen KTSP itu harus benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan secara penuh oleh satuan pendidikan. Dengan demikian, komponen KTSP pada satuan pendidikan dianggap lengkap apabila meliputi seluruh komponen mata pelajaran, muatan lokal, pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Lebih jauh, tenaga pengampu masing-masing komponen KTSP telah pula ditentukan. Mata pelajaran dan muatan lokal diampu oleh guru, pelayanan konseling diampu oleh Guru Pembimbing / konselor sekolah*), dan kegiatan ekstra kurikuler diampu oleh pembina khusus yang masing-masing memiliki kewenangan dan kemampuan dalam bidang yang diampunya itu. Pada era profesionalisasi, para pengampu bidang-bidang yang dimaksud haruslah mereka yang benar-benar profesional dalam bidangnya. Dalam kaitan ini, pelayanan konseling, yang merupakan salah satu pokok isi komponen KTSP, haruslah diampu oleh tenaga profesional yang disebut konselor sekolah.

BAB II
STRUKTUR PELAYANAN KONSELING

Pelayanan konseling di sekolah/madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

A. Pengertian, Paradigma, Visi dan Misi
1. Pengertian
Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, berkenaan dengan pengembangan kondisi kehidupan efektif sehari-sehari (KES) dan penanganan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T), baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Paradigma
Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.
3. Visi
Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.
4. Misi
Misi pelayanan konseling meliputi:
1) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
2) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat.
3) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

B. Tugas Perkembangan Peserta Didik SMP/MTs

Arah pelayanan konseling dalam mencapai visi dan misi di atas didasarkan pada pemenuhan tugas-tugas perkembangan peserta didik SMP/MTs, yaitu:
a. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
c. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
d. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas.
e. Mengenal kemampuan, bakat, dan minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.
f. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan di masyarakat.
g. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
h. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara.

C. Bidang Pelayanan
Bidang pelayanan konseling meliputi:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

D. Fungsi Konseling
Pelayanan konseling mendukung fungsi-fungsi:
1. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya.
2. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
3. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.
4. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya.
5. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

E. Prinsip dan Asas
Pelayanan konseling dilaksanakan dengan menerapkan prinsip dan asas-asas berikut:
1. Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan, permasalahan yang dialami peserta didik, program pelayanan, serta tujuan dan pelaksanaan pelayanan.
2. Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.

F. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung
Pelayanan konseling diselenggarakan melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berikut:
1. Jenis Layanan:
a. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
b. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
c. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
d. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama konten-konten yang berisi kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
e. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
f. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
g. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
h. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
i. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.
2. Kegiatan Pendukung
a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
b. Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.
c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya.
e. Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
f. Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.

G. Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan layanan konseling meliputi:
1. Individual, yaitu bentuk kegiatan konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.
2. Kelompok, yaitu bentuk kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.
3. Klasikal, yaitu bentuk kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas.
4. Lapangan, yaitu bentuk kegiatan konseling yang melayani seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
5. Pendekatan Khusus, yaitu bentuk kegiatan konseling yang melayani kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.

H. Program Pelayanan
1. Jenis Program
a Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
b Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
c Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
d Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
e Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk rencana program pelayanan/pendukung (RPP).
2. Penyusunan Program
a Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.
b Substansi program pelayanan konseling meliputi empat bidang pengembangan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, bentuk kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas guru pembimbing/konselor sekolah.
BAB III
PERENCANAAN PELAKSANAAN DAN PENILAIAN KEGIATAN

A. Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan pelayanan konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan, serta mingguan.
1. Perencanaan kegiatan pelayanan konseling harian yang merupakan jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk RPP (Rencana Program Pelayanan/Pendukung) yang memuat:
a Sasaran layanan/kegiatan pendukung
b Substansi layanan/kegiatan pendukung
c Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan
d Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat
e Waktu dan tempat
(Lampiran 3)
2. Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab guru pembimbing/konselor sekolah. (Lampiran 1)
3. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.
4. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib guru pembimbing/konselor sekolah di sekolah/ madrasah.

B. Pelaksanaan Kegiatan
Guru pembimbing/konselor sekolah secara langsung dan aktif menyelenggarakan kegiatan pelayanan konseling terhadap seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

1. Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam bentuk RPP (Rencana Program Pelayanan/Pendukung) dilaksanakan sesuai dengan sasaran layanan, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
2. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Konseling
a. Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:
1) Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.
2) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam pembelajaran per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal.
3) Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
b. Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:
1) Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.
2) Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.
3) Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.
3. Kegiatan pelayanan konseling (kegiatan layanan dan kegiatan pendukung) dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). (Lampiran 4).
4. Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh guru pembimbing/konselor sekolah dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah (Lampiran 5)
Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar kelas dan antar jenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

C. Penilaian Kegiatan
1. Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:
a. Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.
b. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik.
c. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap peserta didik.
2. Penilaian proses kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam RPP (Rencana Program Pelayanan/Pendukung), untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.
3. Hasil penilaian kegiatan pelayanan konseling dicantumkan dalam LAPELPROG (Lampiran 4).
4. Hasil kegiatan pelayanan konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. (Lampiran 6 dan Lampiran 7)

D. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan pelayanan konseling adalah guru pembimbing/konselor sekolah sekolah/ madrasah.
1. Guru pembimbing/konselor sekolah pelaksana kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah wajib:
a. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional konseling.
b. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional guru pembimbing/konselor sekolah kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/ madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua.
c. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.
d. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan profesional konseling.
e. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan.
(Rincian kewajiban guru pembimbing/konselor sekolah Lampiran 8).
2. Beban tugas wajib guru pembimbing/konselor sekolah ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
3. Pelaksana pelayanan konseling
a. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dapat diangkat sejumlah guru pembimbing/konselor sekolah dengan rasio seorang guru pembimbing/konselor sekolah untuk 150 orang peserta didik.

BAB IV
PENGELOLAAN KEGIATAN

Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/madrasah.
A. Pengelolaan Berbasis Kinerja
1. Kinerja Guru pembimbing/konselor sekolah
Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan, yaitu perencanaan (planning- P), pengorganisasian (organizing-O), pelaksanaan (actuating-A), dan pengontrolan (controlling-C). Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja guru pembimbing/konselor sekolah berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelaksanaan yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu:
a. Bagaimana guru pembimbing/konselor sekolah membuat perencanaan layanan, mulai dari membuat program tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan sampai dengan harian (berupa RPP (Rencana Program Pelayanan/Pendukung)).
b. Bagaimana guru pembimbing/konselor sekolah mengorganisasikan unsur-unsu dan peralatan yang akan dilibatkan di dalam kegiatan, Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah, wali kelas, guru, orang tua), sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan meubelair, alat bantu seperti komputer, film, dan objek-objek yang dikunjungi), urusan administrasi, dana, dll.
c. Bagaimana guru pembimbing/konselor sekolah mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui format-format kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan.
d. Bagaimana guru pembimbing/konselor sekolah mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan proses kegiatan serta tindaklanjutnya. Dalam pada itu, langkah pengontrolan ini melibatkan kegiatan pengawasan dan pembinaan baik dari pihak intern maupun eksteren sekolah/madrasah.
Kinerja guru pembimbing/konselor sekolah ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Volume kerja guru pembimbing/konselor sekolah secara berkala dpertanggung jawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan guru pembimbing/konselor sekolah bertugas.
2. Kinerja Guru pembimbing/konselor sekolah dalam Pengelolaan Satuan Pendidikan
Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat dengan organigram sederhana sebagai berikut:

a. Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri. POAC guru pembimbing/konselor sekolah sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja minimal 24 jam pembelajaran per minggu.
b. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada saling mengharmonisasikan POAC mereka dalam suasana kerjasama.
c. POAC pimpinan satuan pendidikan mengkoordinasikan POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur

B. Pengawasan Kegiatan
Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
1. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara:
a. interen, oleh Kepala Sekolah/Madrasah.
b. eksteren, oleh Pengawas Sekolah/Madrasah bidang konseling.
2. Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional guru pembimbing/konselor sekolah dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas guru pembimbing/konselor di sekolah/madrasah.
3. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah.
Contoh Materi Pengembangan:
(1) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan pribadi, seperti:
 Fasilitas olah raga; latihan bina raga; bela diri.
 Sanggar seni dan budaya
 Tempat peribadatan
 Rehabilitasi penderita narkoba
(2) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial, seperti:
 Kegiatan gotong royong
 Perjamuan
 Seminar, lokakarya, diskusi, belajar kelompok dan kegiatan kelompok lainnya
 Rapat besar
(3) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar, seperti
 Lembaga bimbingan belajar
 Fasilitas belajar di sekolah
 Sekolah menengah umum/madrasah aliyah dan kejuruan
(4) Layanan Orientasi: Obyek-obyek implementasi karir, seperti:
 Kursus-kursus keterampilan
 Bengkel
 Perusahaan/pabrik, industri
 Kantor
 Perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan
(5) Layanan Informasi: Informasi tentang perkembangan potensi, kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:
 Kecerdasan
 Bakat
 Minat
 Karakteristik pribadi; pemahaman diri
 Tugas perkembangan, tahap perkembangan peserta didik SMP/MTs
 Gejala perkembangan tertentu
 Perbedaan individual
 Keunikan diri
(6) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:
 Pemahaman terhadap orang lain
 Kiat berteman
 Hubungan antarremaja
 Hubungan dalam keluarga
 Hubungan dengan guru, orangtua, pimpinan masyarakat
 Data sosiogram
(7) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:
 Kiat belajar
 Kegiatan belajar di dalam kelas
 Belajar kelompok
 Belajar mandiri
 Hasil belajar mata pelajaran
 Persiapan ulangan, ujian UAS dan UN
(8) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir, seperti:
 Hubungan antara bakat, minat, pekerjaan, dan pendidikan
 Persyaratan karir
 Pendidikan umum dan pendidikan kejuruan
 Informasi karir/pekerjaan/pendidikan
 Sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB)
(9) , (10), (11), dan (12) Layanan Penempatan/Penyaluran: Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi, sosial, belajar, dan karir dapat dilakukan melalui penempatan di dalam kelas (berkenaan dengan tempat duduk), pada kelompok belajar; diskusi, magang; krida; latihan keberbakatan//prestasi, kegiatan lapangan, kepanitiaan, serta kegiatan layanan bimbingan/konseling kelompok. Masing-masing penempatan/penyaluran itu dapat dimaksudkan untuk mengembangkan satu atau lebih kemampuan peserta didik: kemampuan pribadi, sosial, belajar, karir.
(13) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi, seperti:
 Mengatur jadwal kegiatan sehari-hari: di rumah, di sekolah, di luar rumah/sekolah.
 Menyampaikan kondisi diri sendiri kepada orang lain
 Mengambil keputusan
 Menggunakan waktu senggang
 Memperkuat ibadat keagamaan
 Mengendalikan diri
 Berpikir dan bersikap positif; apresiatif
 Mematuhi peraturan lalu-lintas
(14) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial, seperti:
 Cara berbicara dengan orang yang berbeda-beda (teman sebaya, orang yang lebih tua, anggota keluarga)
 Kemampuan pidato
 Menyampaikan pendapat secara lugu (assertive) kepada orang lain
 Mendengar, memahami dan merespon secara tepat dan positif pendapat orang lain
 Melihat kebaikan orang lain dan mengekspresikannya
 Menulis surat persahabatan
 Mengucapkan salam; terima kasih; meminta maaf
 Kemampuan berdiskusi; bermusyawarah
(15) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan dan penguasaan bahan belajar, seperti:
 Menyusun jadwal belajar
 Bertanya/menjawab di dalam kelas
 Meringkas materi bacaan
 Menyusun kalimat efektif dalam paragraf
 Menyusun laporan kegiatan/tugas pelajaran
 Menyusun makalah
(16)Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir, seperti:
 Menyalurkan bakat, minat, kegemaran yang mengarah ke karir tertentu
 Memelihara perabotan rumah tangga: pakaian, perabot, peralatan listrik
 Memperbaiki peralatan sederhana
 Menyusun lamaran pekerjaan; curriculum vitae
 Mempertimbangkan dan memilih pekerjaan
 Mempertimbangkan dan memilih pendidikan sesuai dengan arah karir
(17), (18), (19), dan (20) Layanan Konseling Perorangan:
Materi yang dibahas dalam layanan konseling perorangan tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu, melainkan akan diungkapkan oleh klien ketika layanan dilaksanakan. Apapun masalah yang diungkapkan oleh klien (masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir), maka masalah itulah yang dibahas dalam layanan konseling perorangan. Dalam hal ini konselor dapat memanggil peserta didik (yaitu peserta didik yang menjadi tanggung jawab asuhannya) untuk diberikan layanan konseling untuk masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir), namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dikemukakan sendiri oleh peserta didik yang menerima layanan konseling perorangan.
(21) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:
 Potensi diri
 Kiat menyalurkan bakat, minat, kegemaran, hobi
 Kebiasaan sehari-hari di rumah, kegiatan rutin, membantu orang tua, belajar
 Sikap terhadap narkoba, KKN, pembunuhan, perkosaan, perang
 Sikap terhadap bencana alam, kecelakaan, HAM, kemiskinan, anak terlantar
 Perbedaan individu
(22) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:
 Hubungan muda-mudi
 Suasana hubungan di sekolah: antarsiswa, guru-siswa, antarpersonil sekolah lainnya
 Peristiwa sosial di masyarakat: demo brutal, bentrok antarwarga
 Peranan RT/RW
 Toleransi, solidaritas
(23) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:
 Kiat-kiat belajar, belajar sendiri, belajar kelompok
 Sikap terhadap mata pelajaran, tugas/PR, suasana belajar di sekolah, perpustakaan, laboratorium
 Sikap terhadap hasil ulangan, ujian
 Masalah menyontek dalam ulangan/ujian
 Pemanfaatan buku pelajaran
(24) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang pengembangan karir, seperti:
 Hidup adalah untuk bekerja
 Masa depan kita; masalah pengangguran; lowongan pekerjaan; PHK
 Memilih pekerjaan; memilih pendidikan lanjutan
 Masalah TKI/TKW
(25), (26), (27), dan (28) Layanan Konseling Kelompok:
Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam konseling kelompok tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh masing-masing anggota kelompok. Apapun masalah yang diungkapkan oleh anggota kelompok tersebut, dan terpilih untuk dibicarakan (apakah masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir) itulah yang dibahas melalui layanan konseling kelompok. Dalam hal ini konselor dapat mengikutsertakan seorang atau lebih peserta didik yang diasuhnya untuk menjadi anggota kelompok dan menjalani layanan konseling kelompok dengan masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir) dan dapat mengupayakan agar masalah tersebut dapat dibahas, namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dipilih oleh kelompok untuk dibahas dalam konseling kelompok.
(29), (30), (31), (32) Layanan Konsultasi:
Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam layanan konsultasi tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh konsulti ketika layanan berlangsung. Apapun masalah yang diungkapkan oleh konsulti tentang peserta didik yang hendak dibantunya (apakah masalah pribadi, sosial, belajar , atau karir) itulah yang dibahas dalam layanan konsultasi. Konselor dapat memperkirakan apa yang hendak dikemukakan oleh konsulti untuk dibahas dalam layanan konsultasi, namun konselor harus mengutamakan pembahasan masalah yang dikemukakan sendiri oleh konsulti.
(33), (34), (35), (36) Layanan Mediasi:
Masalah yang menyebabkan perselisihan pada dasarnya adalah masalah sosial. Dalam hal ini layanan mediasi pertama-tama menangani hubungan sosial di antara pihak-pihak yang berselisih. Dalam pelaksanaan layanan mediasi boleh jadi akan muncul masalah pribadi, masalah belajar, masalah karir, dan masalah sosial lainnya yang perlu ditangani oleh konselor.
(37), (38), (39), (40) Aplikasi Instrumentasi:
Instrumen tes dan nontes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir bentuk dan isinya bermacam-macam, seperti:
 Tes Inteligensi
 Tes Bakat
 Inventori Minat Karir
 Inventori Kreativitas
 Inventori Kepribadian: Self-Esteem; Locus of Control
 Inventori Hubungan Sosial
 Inventori Tugas Perkembangan
 Sosiometri
 Alat Ungkap Masalah: Masalah Belajar, dan Masalah-masalah lainnya
 Tes Hasil Belajar
 Tes Diagnostik
Masing-masing instrumen di atas ada yang mengukur atau mengungkapkan satu atau lebih kondisi diri peserta didik: kondisi diri pribadi, hubungan sosial, kemampuan belajar, dan atau arah/kemampuan karir.
(41) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi, seperti:
 Identitas diri
 Potensi dasar: inteligensi, bakat, minat
 Identitas keluarga
 Riwayat kesehatan
 Catatan anekdot (kejadian khusus)
 Masalah diri pribadi
(42) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial, seperti:
 Sosiogram
 Teman dekat
 Data hubungan sosial
 Masalah sosial
(43) Himpunan Data: Data kemampuan, kegiatan dan belajar, seperti:
 Nilai hasil belajar
 Data kegiatan belajar
 Riwayat pendidikan
 Masalah belajar
(44) Himpunan Data: Data kemampuan, arah dan persiapan karir, seperti:
 Pekerjaan orang tua/keluarga
 Bakat-minat karir, jurusan yang diambil
 Masalah karir
(45) Konferensi Kasus: Masalah pribadi, seperti:
 Sering absen, membolos
 Tingkah laku menyimpang, nakal
(46) Konferensi Kasus: Masalah sosial, seperti:
 Suka menyendiri
 Menganggu teman
(47) Konferensi Kasus: Kasus masalah belajar, seperti:
 Menganggu suasana kelas ketika sedang belajar
 Lalai mengerjakan PR
 Nilai pelajaran rendah
 Sulit mengikuti pelajaran
(48) Konferensi Kasus: Masalah karir, seperti:
 Masalah penjurusan
 Pilihan karir
 Kegiatan praktik, magang
(49), (50), (51), (52) Kunjungan Rumah:
Kegiatan kunjungan rumah dapat membawa satu atau lebih masalah peserta didik (masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir) untuk dibicarakan dengan orang tua dan atau keluarga.
(53) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang perkembangan dan kehidupan pribadi, seperti:
 Tahap-tahap perkembangan
 Tugas-tugas perkembangan
 Penampilan dan pengembangan bakat, minat, kegemaran
 Kehidupan keagamaan
 Bahan relaksasi
 Motivasi berprestasi
 Otobiografi: Kisah orang-orang sukses
(54) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan hubungan sosial, seperti:
 Suasana hubungan “Saya Oke, Kamu juga Oke”
 Kiat bergaul
 Kepemimpinan
 Mengatasi konflik dengan win-win solution
(55) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan dan kegiatan belajar, seperti:
 Kiat belajar di sekolah
 Panduan menulis makalah
 Bagaimana menyiapkan diri untuk ulangan/ujian
 Belajar secara mandiri
 Belajar kelompok
(56) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang arah dan kehidupan karir, misalnya:
 Apa bakat dan karir Anda?
 Informasi karir
 Panduan penjurusan
 Panduan memilih sekolah lanjutan
 Lowongan pekerjaan
 Keselamatan kerja
 Kiat sukses dalam karir
(57) , (58), (59), (60), Alih Tangan Kasus:
Materi alih tangan kasus merupakan pendalaman terhadap masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir peserta didik yang semula ditangani oleh konselor, dan selanjutnya memerlukan penanganan oleh pihak lain yang berkeahlian/berkewenangan.
KONSELOR YANG BERTUGAS DI SEKOLAH/MADRASAH DIWAJIBKAN MENGUASAI DAN MENYELENGGARAKAN HAL-HAL BERIKUT:
1. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional konseling
a. Konselor menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan terapeutik.
1) Pelayanan dasar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang paling elementer, yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan hubungan sosio-emosional. Orang tua dan orang-orang yang dekat (significant persons) memiliki peranan paling dominan dalam pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.
2) Pelayanan pengembangan dimaksudkan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang cukup baik peserta didik akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya dengan wajar, tanpa beban yang memberatkan, memperoleh penyaluran bagi pengembangan potensi yang dimiliki, serta menatap masa depan dengan cerah. Upaya pendidikan pada umumnya merupakan pelaksanaan pelayanan pengembangan bagi peserta didik. Di sekolah/madrasah, konselor, guru, dan tenaga kependidikan memiliki peran dominan dalam penyelenggaraan pengembangan terhadap peserta didik.
3) Pelayanan terapeutik dimaksudkan untuk menangani pemasalahan yang diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, kegiatan belajar, karir, serta kehidupan keberagamaan. Dalam upaya menangani permasalahan peserta didik, konselor memiliki peran dominan. Peran konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar dan pengembangan.

b. Konselor menguasai spektrum pelayanan profesional konseling, meliputi:
1) Wawasan keilmuan, keterampilan keahlian, kode etik, dan organisasi profesi konseling.
2) Paradigma, visi dan misi pelayanan konseling
3) Bidang pelayanan konseling
4) Fungsi, prinsip, dan asas konseling
5) Jenis layanan, kegiatan pendukung, dan format pelayanan konseling
6) Operasionalisasi kegiatan konseling terhadap berbagai sasaran pelayanan

2. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua
a. Sejak awal bertugas di sekolah/madrasah, konselor merumuskan secara konkrit dan jelas tugas dan kewajiban profesionalnya dalam pelayanan konseling, meliputi:
1) Struktur pelayanan konseling
2) Program pelayanan konseling
3) Pengelolaan program pelayanan konseling
4) Evaluasi hasil dan proses pelayanan konseling
5) Tugas dan kewajiban pokok konselor.
b. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a dijelaskan kepada peserta didik, pimpinan, dan sejawat pendidik di sekolah/madrasah, dan orang tua secara profesional dan proporsional.

3. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.
a. Unsur-unsur pokok dalam tugas pelayanan konseling di sekolah/madrasah:
1) Jumlah peserta didik yang diasuh seorang konselor 150 orang. Konselor wajib memberikan pelayanan konseling kepada seluruh peserta didik yang diasuhnya sesuai kebutuhan dan masalah masing-masing.
2) Program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan kegiatan harian pelayanan konseling. Program-program ini disusun secara proporsional dan berkesinambungan antarkelas dan antarjenjang kelas di sekolah/madrasah.
3) Rencana Program Pelayanan/Pendukung (RPP) dan LAPELPROG. Seluruh program kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dilaporkan secara tertulis dan didokumentasikan.
4) Pelayanan terhadap masing-masing peserta didik yang diasuh sebanyak minimal 10 (sepuluh) kali kegiatan pelayanan konseling setiap semester. Konselor melayani seluruh peserta didik asuhannya; tanpa kecuali.
5) Jumlah jam pembelajaran wajib pelayanan konseling seminggu ekuivalen dengan jam pembelajaran wajib guru. Jumlah jam pembelajaran wajib ini dihitung perbulan dengan menggunakan Format Perhitungan Jam Kegiatan Pelayanan Konseling di Sekolah/Madrasah.
b. Tugas yang mengandung unsur-unsur pokok sebagaimana tersebut di atas merupakan “perjanjian kerja” yang wajib dilaksanakan oleh konselor dan secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.

4. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan pelayanan profesional konseling
a. Hal-hal berikut ini perlu dicegah untuk tidak terjadi atau tidak dilakukan oleh konselor:
1) Tercerderainya asas kerahasiaan, karena konselor secara langsung ataupun tidak langsung mengemukakan hal-hal berkenaan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain.
2) Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok, dengan cara apapun, yang berkonotasi negatif terhadap peserta didik yang bersangkutan.
3) Bertindak laksana “polisi sekolah” yang memata-matai ataupun mencari-cari kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazia, pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang terjaring dalam kegiatan “kepolisian sekolah” yang dilakukan oleh pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling.
4) Membuat ataupun menyetujui dibuatnya “surat perjanjian” dengan peserta didik yang berkonotasi atau berakhir pada sanksi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling agar terhindar dari sanksi ataupun hukuman sebagaimana dinyatakan dalam “surat perjanjian”.
5) Kondisi tempat ataupun ruang kerja konselor yang dapat mengganggu kesukarelaan, ketenangan, dan terjaminnya kerahasiaan peserta didik yang datang kepada konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling.
b. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a sejak awal disampaikan oleh konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, sejawat pendidik, dan pimpinan sekolah/madrasah untuk mendapatkan dukungan dan faslitas dalam mewujudkannya.
5. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan
a. Pengembangan kemampuan profesional konselor dapat dilaksanakan melalui:
1) Pengawasan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah, baik yang dilaksanakan secara interen oleh pimpinan sekolah/madrasah, maupun oleh Pengawas Sekolah Bidang Konseling.
2) Diskusi profesional yang diikuti oleh para konselor sekolah/madrasah (dalam satu sekolah/madrasah ataupun antarsekolah/madrasah) untuk membahas kasus-kasus peserta didik.
3) Partisipasi dalam kegiatan keorganisasian profesi konseling
4) Pendidikan dalam jabatan (seperti penataran) dan pendidikan lanjutan dalam bidang konseling.
5) Kegiatan dalam rangka kredensialisasi (pengakuan wewenang) untuk sertifikasi, akreditasi, dan atau lisensi dalam bidang konseling.
b. Untuk terlaksananya hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a konselor membicarakannya dengan pimpinan sekolah/madrasah dan pihak-pihak lain berkenaan dengan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pelaporannya.

By ekoendriwiyonowordpress

TERAPI KONSELING DENGAN HIPNOTIS

TERAPI KONSELING DENGAN HIPNOTIS
( Sembuhkan Stres Pascatrauma )

Oleh:
Wahid Suharmawan

PENDAHULUAN
Cerita yang cukup memilukan, tetapi makin sering terdengar. Pola-pola kejadiannya selalu sama. Seorang yang sendirian di tempat yang asing atau tempat yang ramai didekati oleh seorang atau beberapa pria asing. Ia disapa dengan ramah dan sopan sebagaimana berlangsung dalam pertemuan biasa. Namun, akhirnya ia menyerahkan dompet, perhiasan, atau harta benda lain kepada si pria asing itu, seakan-akan dengan sukarela. Bahkan terjadi, ia mengantar pria asing itu ke bank, menarik uang berjuta-juta rupiah dari rekeningnya dan memberikan semuanya kepada orang yang tidak dikenal itu. Setelah pria asing itu pergi, baru ia menyadari bahwa ia menjadi korban penipuan. Semuanya dilakukannya dalam keadaan terhipnotis.

Dari sepenggal cerita di atas kita mungkin bisa berpendapat bahwa hipnosis atau hipnotis adalah suatu hal yang negatif dan merupakan suatu cara untuk melakukan suatu kejahatan. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu hipnotis sekarang ini banyak digunakan pada praktiknya adalah untuk hal-hal semacam itu, seperti memperdayai seseorang untuk kemudian diambil harta benda yang dimiliki orang tersebut tanpa mendapat perlawanan dari orang yang bersangkutan. Disini kita nanti akan membicarakan ilmu hipnotis yang digunakan sebagai terapi diluar kejahatan, Ilmu hipnotis sendiri dikenal manusia sejak abad 18. Tokoh utamanya adalah Franz Anton Mesmer, dan disusul oleh James Braid, Charcot, Liebault, Bemheim, Sigmund Freud, Clark Haul dan sebagainya. Hipnotis oleh para pakar di barat lebih diyakini sebagai seni ketimbang klenik. Hipnotis, kata para pakar itu, merupakan seni sugesti, seni komunikasi, seni merubah tingkat kesadaran, dan seni eksplorasi alam bawah sadar.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari ilmu hipnotis ini, bahwa orang akan merasa tenang, tingkat kesadarannya akan berubah, dan pengaruh lainnya dari ilmu hipnotis ini. Sebagai terapi psikis yang dapat mengeksplorasi alam bawah sadar, maka ilmu hipnotis ini akan cukup bermanfaat bila digunakan untuk menanggulangi stres pada masyarakat yang terkena bencana. Seperti yang akan kita bahas dan kita angkat sebagai topik pada makalah yang kami buat ini.

PEMBAHASAN
Sempat ditayangkan televisi, tentara-tentara kulit putih dari negara sahabat yang ikut membantu pemulihan pascatrauma di Aceh dengan memijat-mijat dan membelai penderita. Sebenarnya memijat dan membelai ini adalah terapi relaksasi dan hanyalah ujung awal dari terapi hipnosis. Bisa dimengerti terapi relaksasi inilah yang bisa diberikan oleh mereka, karena kesulitan bahasa pengantar antara terapis dan pasien.
Sebuah bencana hebat biasanya menyisakan trauma yang hebat pula bagi penduduk yang mengalaminya. Trauma ini menyebabkan Gangguan Stress Pasca Trauma (GSPT). Terapinya bisa dengan obat dan bisa dengan psikoterapi atau terapi psikis. Dalam terapi psikis, salah satunya dengan hipnosis. Hipnosis sendiri bisa dilakukan sebagai terapi individual dan kelompok. Dari pengalaman klinis, apabila induksi diberikan oleh orang yang berpengalaman, induksi untuk pengeluaran muatan memori traumatik yang tersimpan di otak didalam terapi kelompok bisa sangat effektif. Seperti yang sering terlihat dalam kelompok-kelompok doa dan majelis, para pesertanya menjadi menangis bersama-sama dan bahkan berteriak, saat pemimpin doa membacakan doa permohonan yang menyayat-nyayat hati. Itulah sebenarnya induksi hipnotik yang dilakukan oleh pemimpin doa dan berakibat para peserta mengalami proses abreaksi. Yakni suatu proses material trauma nir-sadar, dibawa kembali ke alam sadar. Pada keadaan ini seseorang tidak hanya mengingat tetapi menghidupkan kembali material traumatik dan disertai respon emosional yang sesuai. Setelah proses abreaksi ini, peserta menjadi ringan, nyaman dan merasa terangkat perasaannya disertai dengan hilangnya rasa duka mendalam yang dirasakannya. Kenapa bisa begitu ?

Hipnosis Adalah mitos bahwa hipnosis adalah sama dengan keadaan tidur. Justru hipnosis memperkuat konsentrasi. Dengan konsentrasi ini pula, hipnosis memindah konsentrasi otak dan aliran darah otak dari bagian otak yang disebut Gyrus Frontalis. Yakni tempat tersimpannya memori permanen dan ”otak berpikir” kita ke arah Gyrus Cinguli, Amydala dan Hippokampus. Ketiga bagian terakhir ini menyimpan memori jangka pendek, memori belajar dan memori sedang yang mengandung muatan-muatan emosi. Termasuk muatan emosi traumatik.

Dengan hipnosis, mampu diakses muatan-muatan emosi traumatik ini dengan baik. Kemudian dilakukan penarikan kembali ke alam sadar (supresi). Dengan demikian maka reaksi spontan dari emosi traumatik dan negatif dapat disadari sekaligus dihapus.

Untuk terapi hipnosis pascatrauma, seperti pascatrauma tsunami di Aceh, tokoh utama di bidang ini adalah Hebert Spiegel dan Daniel Spiegel, dokter dan psikiater dari Stanford University Amerika. Mereka menemukan teknik hipnosis yang sangat terkenal untuk GSPT dalam hipnoterapi. Yakni ”Teknik Layar”, pasien dalam keadaan terhipnosis memvisualisasikan kejadian traumatiknya di layar bayangan-nya. Seakan-akan pasien sedang melihat peristiwa traumatik yang dialami seseorang di televisi bayangannya dengan pemerannya adalah pasien itu sendiri.

Keadaan ini sebenarnya adalah salah satu teknik untuk memanggil kembali memori traumatik dari bagian otak amydala dan hippokampus. Dengan supresi ini maka proses abreaksi pada pasien akan terjadi. Bisakah proses ini dilakukan tanpa hipnosis?, jawabannya sulit sekali. Mengapa? Otak yang Ajaib Saat dalam alam kesadaran penuh dan dalam keadaan waspada penuh, sebenarnya otak yang aktif adalah ”Otak Berpikir” yang ada dilokasi terdepan, disebut Gyrus Frontalis. Dalam keadaan tidur dan hilang kewaspadaan, secara tidak sengaja mengistirahatkan ”otak berpikir” dan bagian otak yang aktif adalah otak tengah (mid-brain). Di mid-brain inilah terdapat struktur dan bangunan-bangunan otak, seperti amydala, hippokampus, thalamus dan bagian lainnya.

Pangkal syaraf-syaraf otak dan fungsi vegetatif manusia meliputi makan-minum dan seks ada di bagian thalamus ini. Dalam keadaan hipnosis, dengan sengaja mengistirahatkan ”otak berpikir” (Gyrus Frontalis) dan mengaktifkan ”otak tengah” sehingga mengaktifkan memori-memori sedang, dan pendek termasuk memori traumatik. Inilah yang disebut alam nir-sadar. Dalam keadaan sadar penuh, yang paling aktif ”otak berpikir”, dan proses jawaban atas rangsang dari luar ditanggapi oleh bagian otak ini. Pada saat yang sama, jika ada tanggapan dari bagian nir-sadar misal pada konflik emosional, maka ”otak berpikir” akan melakukan filter, menahan, menganalisa, mengasosiasikan dan menerjemahkannya dalam bentuk pikiran serta tindakan berdasar otak berpikir ini.

Beda dalam keadaan hipnosis, ”otak tengah” tidak mampu melakukan analisa dan filter atas suatu rangsang dari luar, misalnya perintah. Maka bila seseorang dalam keadaan hipnosis, ia tidak mampu melawan perintah juru hipnotisnya. Justru malah mengikuti perintah-perintah juru hipnotis yang kadang-kadang konyol. Jadi memang ”otak tengah” tidak mampu berpikir analitik atas rangsang.

Pada saat datangnya suatu kejadian hebat yang traumatis (bencana alam, perkosaan, korban kriminalitas, korban peperangan), pada saat itu pula data yang masuk melalui lima indera (penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran dan sentuhan), terekam di ”otak tengah” (thalamus), disimpan secara tidak sadar oleh hippokampus sedangkan muatan emosi tersimpan di amydala. Sementara itu ”otak berpikir” berusaha menyeimbangkan muatan traumatik yang sangat hebat tersebut dan menetralisirnya dengan cara melakukan rasionalisasi dan denial (penolakan konflik nir sadar dan kecemasan dengan tidak mengakui faktor realita luar yang tidak bisa ditolerir). Misal: menyalahkan pimpinan, keadaan, diri sendiri, mencari-cari sebab-akibat, othak-athik, gathuk-mathuk, mencocokkan ramalan, mencari-cari penyebab sial, dll).

LAMA TERAPI
Jika keadaan GSPT ini berlangsung kronik dan menetap setelah lebih dari 3 bulan, sebenarnya menjadi sangat sulit untuk kembali seperti semula. Apalagi jika pasien memiliki kepribadian yang rapuh sebelum sakit dan dukungan sosial yang tidak mendukung pascatrauma.

Hipnosis memang menakjubkan kekuatan dan kegunaannya untuk gangguan ini, tetapi menginginkan hasil yang cepat justru akan mengakibatkan terapis dan pasien tergelincir pada keyakinan palsu serta kehilangan obyektifitas. Pengukuran atas penggunaan terapi ini tetap berpegang pada obyektifitas penilaian dari kriteria-kriteria yang ada. Secara garis besar dalam penyakit dan gangguan psikiatri, dikatakan sembuh total, apabila setelah terapi, bebas gejala selama 1.000 hari/3 tahun. (Dokter Arya Hasanuddin/PPDS Psikiatri, International Society of Hypnosis-35)

SIMPULAN

Dalam proses konseling, Hipnosis bisa dilakukan sebagai terapi individual dan kelompok. Dari pengalaman klinis, apabila induksi diberikan oleh orang yang berpengalaman, induksi untuk pengeluaran muatan memori traumatik yang tersimpan di otak didalam terapi kelompok bisa sangat effektif. Seperti yang sering terlihat dalam kelompok-kelompok doa dan majelis, para pesertanya menjadi menangis bersama-sama dan bahkan berteriak, saat pemimpin doa membacakan doa permohonan yang menyayat-nyayat hati.

Untuk terapi hipnosis pascatrauma, seperti pascatrauma tsunami di Aceh, tokoh utama di bidang ini adalah Hebert Spiegel dan Daniel Spiegel, dokter dan psikiater dari Stanford University Amerika. Mereka menemukan teknik hipnosis yang sangat terkenal untuk GSPT dalam hipnoterapi. Yakni ”Teknik Layar”, pasien dalam keadaan terhipnosis memvisualisasikan kejadian traumatiknya di layar bayangan-nya. Seakan-akan pasien sedang melihat peristiwa traumatik yang dialami seseorang di televisi bayangannya dengan pemerannya adalah pasien itu sendiri.

Namun perlu juga disadari, dengan terapi hipnosis memang menakjubkan kekuatan dan kegunaannya untuk gangguan ini, tetapi menginginkan hasil yang cepat justru akan mengakibatkan terapis dan pasien tergelincir pada keyakinan palsu serta kehilangan obyektifitas. Sehingga pengukuran atas penggunaan terapi ini tetap berpegang pada obyektifitas penilaian dari kriteria-kriteria yang ada. Secara garis besar dalam penyakit dan gangguan psikiatri, dikatakan sembuh total, apabila setelah terapi, bebas gejala selama 1.000 hari/3 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Arya Hasanuddin/PPDS Psikiatri, International Society of Hypnosis-35
Indra Majid, PEMAHAMAN DASAR HYPNOSIS
Yan Nurindra, Teknik Hipnotis

*) Penulis adalah Ketua Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Hazairin Bengkulu

Halo dunia!

Selamat datang di WordPress.com! Ini adalah postingan pertama Anda. Klik Sunting untuk memodifikasi atau menghapusnya, atau tulis postingan baru. Kalau mau, gunakan postingan ini untuk menyampaikan kepada para pembaca mengapa Anda membuat blog ini dan apa rencana Anda selanjutnya.

Selamat ngeblog!

By ekoendriwiyonowordpress